Kapal Cepat Banyuwangi-Denpasar Berhenti, Sepi Penumpang
Gambar atau konten salah?
Kapal cepat Express Bahari yang melayani rute Banyuwangi-Denpasar pulang-pergi resmi berhenti beroperasi. Keputusan ini diambil karena jumlah penumpang sangat sedikit. Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Nyono, menyampaikan bahwa kapal tersebut berhenti beroperasi untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Menurut Nyono, kapal cepat ini bisa beroperasi lagi jika mendapat subsidi dari pemerintah pusat. Alasannya, kapal ini merupakan transportasi antar-provinsi. "Operator berharap ada subsidi dari pusat karena lintas antar-provinsi," ujar Nyono pada Selasa, 07 Juli 2026.
Subsidi sangat dibutuhkan untuk menutupi biaya operasional. Saat ini, tingkat keterisian penumpang atau load factor hanya mencapai 25 persen. Artinya, dari total kapasitas 400 penumpang, rata-rata hanya terisi 100 orang. "Jumlah 25 persen atau 100 penumpang belum bisa menutupi biaya operasional kapal, karena ini non subsidi," tambah Nyono.
Nyono menegaskan, faktor utama berhentinya kapal cepat ini adalah sepinya penumpang. Operator harus menanggung kerugian di setiap perjalanan karena tidak ada subsidi dari pemerintah. "Penumpangnya masih 100 orang dari kapasitas kapal 400 orang, artinya load factor sebanyak 25 persen. Sehingga bagi operator masih rugi karena tidak ada subsidi," tegasnya.
Kapal Cepat Banyuwangi-Denpasar mulai beroperasi pada Agustus 2025. Kapal ini berlayar setiap hari Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. Keberangkatan dari Pelabuhan Boom Marina Banyuwangi pukul 10.00 WIB, sementara dari Pelabuhan Serangan Denpasar pukul 15.00 WITA. Durasi perjalanan hanya sekitar 3 jam. Harga tiket dipatok sebesar Rp 225.000.
Selama hampir satu tahun beroperasi, kapal cepat ini menghadapi berbagai kendala. Mulai dari cuaca ekstrem di laut Bali hingga perawatan kapal yang menyebabkan layanan terhenti selama beberapa pekan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa subsidi, operator kapal cepat antar-provinsi sulit bertahan jika jumlah penumpang rendah. Biaya operasional yang tinggi tidak sebanding dengan pendapatan dari tiket yang terjual. Keputusan berhenti beroperasi menjadi pilihan terakhir bagi operator untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
