WBSA HSC 95,82%: BEI Pantau Fluktuasi Saham Pasar Modal
Gambar atau konten salah?
Beberapa hari lalu Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan bahwa PT BSA Logistic Tbk (WBSA) masuk kategori high shareholding concentration (HSC). Kategori ini menandakan bahwa sebagian besar saham perusahaan berada di tangan segelintir pemegang saham.
HSC diukur dari konsentrasi kepemilikan. Pada WBSA, konsentrasi mencapai 95,82% dari total saham, baik dalam warkat maupun tanpa warkat. Sementara itu, free float perusahaan, yaitu saham yang dapat diperdagangkan publik, memenuhi batas minimum sebesar 15%.
Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menjelaskan bahwa perhitungan HSC dilakukan setelah proses IPO selesai. Ia menyatakan, “Setelah IPO baru dihitung, karena kan IPO-nya mengikuti ketentuan. Jadi, sekali lagi free float-nya cukup dan sebagainya, tapi kemudian kita lihat ternyata ada konsentrasi kepemilikan atau tidak,” di Gedung BEI, Jakarta Selatan, pada 13 Mei 2026.
Walaupun konsentrasi tinggi, Hasan menegaskan bahwa status HSC tidak dianggap pelanggaran di pasar modal. Ia menambahkan, “Kenapa kok nggak disanksi misalnya? Ya memang karena nggak melanggar, tapi kita ingin itu menjadi informasi yang dipegang oleh para investor. Setidaknya sebagai early warning. Jadi, investor kalau kok ternyata saham ini terbukti ada konsentrasi kepemilikan, nah kalau konsentrasi kepemilikan itu kan sederhananya kemungkinan besar atau dampak langsungnya adalah sangat rentan atas volatilitas,”.
Di kesempatan yang sama, Jeffrey Hendrik, Penjabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI, menyatakan bahwa BEI terus memantau pergerakan saham WBSA. Ia menyebut, “Itu nanti akan oleh pengawas untuk dilakukan tindakan selanjutnya. Bagaimana proses distribusi pada saat IPO, dan kemudian juga kita perhatikan bagaimana transaksi di pasar sekundernya.”
WBSA menjadi perusahaan pertama yang terdaftar di BEI pada tahun 2026. Penawaran umum perdana saham (IPO) dilaksanakan pada 10 April 2026. Perusahaan ini, yang bergerak di layanan angkutan multimoda, melepas 1.800.000.000 saham baru, setara dengan 20,75% modal ditempatkan dan disetor penuh. Harga penawaran perdana ditetapkan sebesar Rp 168 per saham.
Setelah penawaran, harga saham WBSA melonjak pada hari pertama perdagangan, mencapai Rp 226 per saham, setara dengan kenaikan 34,52%. Dengan aksi korporasi ini, WBSA berhasil mengumpulkan dana segar sebesar Rp 302,4 miliar. Penjamin emisi efek perusahaan adalah PT OCBS Sekuritas Indonesia dan PT Semesta Indovest Sekuritas.
Fokus pada free float tetap menjadi kunci. Meskipun konsentrasi tinggi, BEI menegaskan bahwa distribusi saham masih sesuai regulasi. Pemantauan berkelanjutan akan memastikan tidak ada penyimpangan dalam transaksi sekunder.
Dengan status HSC, WBSA memberikan sinyal kepada investor bahwa saham ini memiliki volatilitas harga yang tinggi. Informasi ini bertujuan sebagai peringatan dini, agar para investor dapat membuat keputusan berdasarkan risiko konsentrasi kepemilikan yang signifikan. Keterbukaan data ini mencerminkan upaya BEI dan OJK untuk menjaga transparansi dan keadilan pasar modal Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
MSCI Perketat Aturan Saham EPI, Berlaku 2026
Dolar Menguat, Ketegangan Timur Tengah dan Minyak Jadi Pemicu
IHSG Menguat 1,10%, Asing Beli Bersih Rp725 Miliar
IHSG Dibuka Hijau di Level 6.200
Dolar AS Mendekati Rp 18.000, Konflik Timur Tengah Picu Penguatan
IHSG Sesi I Menguat, Asing Jual Bersih Rp302 Miliar
