Webinar 7 KAIH: SLB Ciptakan Lingkungan Inklusif Pendidikan

Dian P. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 105 dibaca
Bisik.id
Webinar 7 KAIH: SLB Ciptakan Lingkungan Inklusif Pendidikan

Gambar atau konten salah?

7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) adalah inisiatif yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Empat kebiasaan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan karakter positif pada anak-anak istimewa.

7 KAIH terdiri atas: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Setiap kebiasaan memiliki tujuan untuk memperkuat disiplin dan rasa percaya diri siswa SLB.

Webinar “Solusi (Sosialisasi dan Diskusi) seri Praktik Baik Penerapan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat di SLB” berlangsung pada 30 April 2026. Acara ini menampilkan berbagai inovasi dan aksi kolaborasi yang telah diterapkan oleh sekolah-sekolah luar biasa di Indonesia.

SLB Negeri Pesisir Barat Lampung memperkenalkan program bernama ‘Peluk Harmoni Pesisir Barat’. Sekolah ini baru tumbuh selama tiga tahun, dan masih menghadapi stigma yang meminggirkan anak-anak istimewa di masyarakat. Kepala SLB, Marlinasari, menjelaskan bahwa “Peluk” merupakan simbol penerimaan, sementara “Harmoni” melambangkan kolaborasi.

“Kami melakukan kampanye ‘Tos’ dan ‘Peluk’ bersama anak-anak. Kami juga rutin melakukan outing class ke berbagai fasilitas publik seperti Polres, bandara, hingga berkolaborasi dengan TK/PAUD sekitar untuk senam dan upacara bersama,” ujar Marlina. Program ini menempatkan poin “bermasyarakat” sebagai inti strategi, dengan tujuan menumbuhkan rasa percaya diri siswa melalui kegiatan jemput bola.

Dampak nyata dari program ini terlihat ketika siswa SLB mulai diberi kesempatan belajar menjadi pramusaji di kafe dan tampil menari di panggung umum bersama anak-anak reguler tanpa adanya sekat pembeda. Kolaborasi lintas instansi terbuka, memperluas jaringan sosial bagi siswa.

SKH Negeri 01 Kota Serang, yang bergeser ke Banten, fokus pada keteraturan rutinitas dan interaksi sosial melalui program ‘Berkeliling Kampung’. Guru sekolah, Elsa Dike Septiani, mengungkapkan bahwa sebelum program ini berjalan, banyak siswa yang memiliki pola tidur kacau dan kurang mandiri.

Untuk mengatasi hal tersebut, sekolah menerapkan sistem alarm getar agar siswa bangun pagi secara mandiri, pembiasaan salat duha, hingga imbauan tidur tepat waktu pukul 20.00 WIB melalui grup WhatsApp orang tua. Namun, yang paling berkesan adalah kegiatan setiap Jumat terakhir di setiap bulan.

“Seluruh 248 siswa kami ajak berjalan bersama menyusuri jalan kampung sekitar sekolah. Mereka menyapa warga, jajan di warung, hingga mengunjungi taman kota. Ini cara kami agar anak-anak berhak berjalan tanpa rasa takut dan berhak menjadi bagian dari dunia ini,” jelas Elsa. Program ini menegaskan hak siswa untuk berpartisipasi aktif di lingkungan sekitar.

SLB Negeri Cipatujah Tasikmalaya menghadapi tantangan jarak dan kesinambungan antara kebiasaan di sekolah dan di rumah. Untuk menjembatani hal ini, guru Rahmawati Hasanah menciptakan inovasi teknologi berupa aplikasi ‘Hariku Hebat’.

Aplikasi ini berfungsi sebagai alat pantau bagi guru dan orang tua untuk memastikan 7 KAIH tetap dilakukan secara konsisten meski jam sekolah telah usai. Setiap aktivitas anak dicatat dan dilaporkan secara rutin agar perkembangannya terukur secara harian maupun bulanan.

“Aplikasi ini menjadi jembatan kolaborasi. Namun, bagi orang tua yang terkendala jaringan atau perangkat, pemantauan tetap dilakukan secara manual agar tetap inklusif. Kami percaya setiap langkah kecil yang konsisten akan membawa perubahan besar bagi kemandirian anak,” pungkas Rahmawati.

Ketiga sekolah ini menunjukkan bahwa penerapan 7 KAIH dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan kreatif, mulai dari kampanye sederhana hingga aplikasi digital. Inisiatif ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung perkembangan anak-anak istimewa.

KAIHSLBPeluk HarmoniBerkeliling KampungHariku Hebatkolaborasikarakter positif

Komentar

Memuat komentar...