Wukuf Arafah dan Tawaf Ifadah: Dasar Sahnya Haji, Perbedaan Mazhab

Rudi H. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 127 dibaca
Bisik.id
Wukuf Arafah dan Tawaf Ifadah: Dasar Sahnya Haji, Perbedaan Mazhab

Gambar atau konten salah?

Rukun haji adalah syarat utama agar ibadah haji seorang muslim dapat diterima. Tanpa melaksanakan semua rukun, haji dianggap tidak sah dan tidak dapat diganti dengan denda (dam). Karena itu, calon jemaah harus memahami setiap rukun dan melaksanakannya sesuai tata cara yang benar.

Al Qur’an menegaskan pentingnya haji dengan ayat berikut: وَأَذِّن فِى ٱلنَّاسِ بِٱلْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ. Terjemahannya: “Dan, berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.”

Haji bukan sekadar perjalanan; ia menjadi simbol penyerahan dan ketundukan total manusia kepada Allah SWT. Setiap rangkaian ibadah dijalankan dengan penuh kepatuhan, menghidupkan perasaan spiritual dalam diri setiap muslim.

Menurut buku Al Islam karya Said Hawwa (terjemahan Abdul Hayyie al-Kattani) dan buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Haji dan Umrah, serta Fikih susunan Udin Wahyudin dkk, terdapat enam rukun haji yang wajib dikerjakan. Berikut penjelasannya:

1. Ihram Haji – Ihram adalah niat untuk melaksanakan haji. Ia ditandai dengan mengenakan pakaian ihram dan membaca talbiyah. Tanpa ihram, ibadah haji tidak sah.

2. Wukuf di Arafah – Wukuf merupakan puncak ibadah haji. Pada 9 Zulhijah, jemaah berdiam diri di Padang Arafah mulai terbenam matahari hingga terbenam. Selama wukuf, dianjurkan memperbanyak zikir, talbiyah, istighfar, tahlil, sholawat, dan membaca Al‑Qur’an.

3. Tawaf Ifadah – Tawaf ifadah dilakukan dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali putaran, dimulai dan diakhiri sejajar dengan Hajar Aswad. Jemaah harus suci dari hadas kecil maupun besar saat melaksanakan tawaf ini.

4. Sai – Sai adalah berjalan cepat atau berlari kecil antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Saat sai, jemaah harus suci dari hadas kecil maupun besar. Sai mengingatkan perjuangan Siti Hajar, ibu Nabi Ismail, dalam mencari air di padang pasir.

5. Tahallul – Tahallul menandai selesainya rangkaian rukun haji. Jemaah laki‑laki biasanya mencukur rambut hingga gundul atau minimal memotong sebagian rambut. Jemaah perempuan cukup memotong tiga helai rambut sepanjang ujung jari.

6. Tertib – Tertib berarti seluruh rangkaian ibadah haji harus dilaksanakan secara berurutan sesuai ketentuan. Setiap rukun harus dilakukan pada waktunya, dan tidak boleh didahulukan atau diakhiri tanpa alasan yang dibenarkan.

Jika salah satu rukun terlewat, ibadah haji tidak sah. Hal ini dikutip dari buku Al Tadzhib fi Adillati Matn al-Ghayah wa al-Taqrib karya Dr Musthafa Dib Al‑Bugha (terjemahan Toto Edidarmo). Jemaah harus menyempurnakan semua rukun sebelum melakukan tahallul. Beberapa rukun selain wukuf di Arafah tidak terikat waktu tertentu, sehingga dapat dikerjakan setelahnya. Namun, jika wukuf di Arafah terlewat, haji tidak sah. Jemaah hanya dapat melanjutkan rangkaian ibadah sebagai umrah, lalu melakukan tahallul untuk umrahnya.

Perbedaan pendapat di antara ulama mazhab muncul ketika menetapkan rukun haji. Berikut pandangan masing‑masing mazhab:

Mazhab Syafi'i – Menetapkan enam rukun: ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadah, sai, tahallul, dan tertib. Menurut ulama Syafi'iyyah, semua rukun harus dilaksanakan secara lengkap dan berurutan agar haji sah.

Mazhab Hanafi – Berpendapat bahwa rukun haji hanya terdiri dari dua hal: wukuf di Arafah dan tawaf ifadah. Rangkaian ibadah lainnya dianggap kewajiban atau syarat penyempurna haji, bukan rukun.

Mazhab Maliki dan Hambali – Menetapkan empat rukun: ihram, wukuf di Arafah, tawaf ifadah, dan sai. Keempat rukun ini dianggap inti ibadah haji yang tidak boleh ditinggalkan. Amalan lainnya tidak termasuk rukun, namun tetap penting sebagai pelengkap dan penyempurna.

Dengan memahami perbedaan pendapat ini, jemaah dapat memilih rukun yang dianggap wajib sesuai mazhab yang dianut. Namun, kesamaan utama tetap ada: wukuf di Arafah dan tawaf ifadah merupakan unsur yang tidak dapat dilewatkan oleh semua mazhab.

Rukun haji bukan sekadar ritual; ia mencerminkan kedalaman spiritual dan kepatuhan kepada Allah. Setiap langkah, dari ihram hingga tahallul, memaksa jemaah menelusuri perjalanan spiritual yang mendalam. Melalui wukuf di Arafah, jemaah merenungkan kesabaran dan pengorbanan Nabi Ibrahim. Melalui tawaf ifadah, jemaah menyatakan kesetiaan kepada Ka'bah. Sai mengingatkan perjuangan Siti Hajar. Tahallul menandai akhir perjalanan, membuka pintu kesucian baru. Tertib memastikan semua langkah teratur, menegaskan disiplin dalam ibadah.

Kesimpulannya, rukun haji adalah fondasi bagi validitas ibadah haji. Tanpa melaksanakan semua rukun, haji dianggap tidak sah. Perbedaan pendapat di antara mazhab menambah nuansa keanekaragaman dalam pelaksanaan, namun inti utamanya tetap sama: wukuf di Arafah dan tawaf ifadah. Memahami dan melaksanakan setiap rukun dengan benar adalah kunci agar ibadah haji diterima dan membawa kedekatan spiritual bagi setiap muslim.

rukun hajiihramwukuf di Arafahtawaf ifadahsaitahallultertibmazhab

Komentar

Memuat komentar...