Yadnya Kasada Bromo: Tradisi Mendidik Generasi Tengger
Gambar atau konten salah?
Probolinggo - Yadnya Kasada adalah ritual adat terbesar yang dipraktikkan oleh masyarakat Tengger, yang digelar setiap tahun di kawasan kawah Bromo. Ritual ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan juga sarana pendidikan bagi generasi muda agar memahami dan melestarikan warisan leluhur.
Sejak dini hari, warga Tengger berbondong-bondong menuju kawah dengan membawa sesaji berupa hasil pertanian dan ternak. Mereka menuruni tangga menuju kawah sambil mengusung sayuran, buah-buahan, kambing, ayam, dan bebek sebagai persembahan. Setiap langkah diiringi doa dan harapan, menandai ketulusan hati yang ingin disampaikan kepada Sang Pencipta.
“Setiap tahun masyarakat Tengger dengan penuh kesederhanaan membawa hasil bumi dan ternak untuk dipersembahkan di kawah Bromo. Namun persembahan itu tidak hilang begitu saja. Ada para pemarit yang menunggu untuk mengambilnya sehingga hasil bumi maupun ternak masih dapat dimanfaatkan kembali. Nilai utama dari tradisi ini adalah ungkapan syukur kepada Tuhan,” ujarnya, Minggu, 31 Mei 2026. Ponawi, salah seorang warga Suku Hindu Tengger, menjelaskan bahwa tradisi tersebut merupakan simbol rasa syukur yang mendalam kepada Sang Pencipta.
Tak hanya orang dewasa, banyak orang tua juga mengajak anak-anak mereka untuk ikut serta. Ibu-ibu terlihat menggendong balita saat mendaki, sementara beberapa orang tua membawa cucu mereka. Puji Lestari mengaku sengaja membawa cucunya agar sejak kecil mengenal adat dan budaya yang diwariskan leluhur. “Saya mengajak cucu saya ke kawah Bromo agar kelak memahami makna budaya dan tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang. Bukan hanya saya, banyak warga Tengger lainnya yang juga membawa anak-anak sebagai bentuk edukasi budaya sejak dini,” katanya.
Melalui pelaksanaan Yadnya Kasada 2026, masyarakat Tengger berharap memperoleh hasil panen yang melimpah, kehidupan yang makmur, damai, dan sejahtera. Mereka juga berharap tradisi ini tetap lestari serta kelestarian alam kawasan Bromo dapat terus terjaga untuk generasi mendatang.
Ritual ini tidak hanya menjadi ajang syukur, tetapi juga sarana pendidikan budaya bagi generasi muda, menjaga warisan leluhur tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Webinar AI untuk Riset Akademik: Percepat Skripsi dan Tesis
Menteri Dorong Rektor Naikkan Gaji Dosen
Stella Christie: Kunci RI Kuasai AI Ada di Data
SPP SMA Negeri Jawa Barat Akan Dihidupkan Kembali?
Prabowo Hentikan MBG untuk Anak Orang Kaya
BGN Kaji Libatkan Kantin Sekolah untuk MBG
DPR Desak Penataan Taxiway Bandara Halim
Menkeu Purbaya: Surat Tambahan Anggaran IKN Rp 2,86 T Belum Sampai