Yen-Jatuh: Jepang-AS Intervensi Bareng

Endah K. · 2 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Yen-Jatuh: Jepang-AS Intervensi Bareng

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Jepang bersama Amerika Serikat melakukan aksi bersama membeli yen. Langkah ini dimulai pada Jumat, 31 Juli 2025. Tujuannya jelas: meredam gejolak nilai tukar yen yang bergerak liar beberapa waktu terakhir.

Kementerian Keuangan Jepang mengoordinasikan operasi ini dengan Departemen Keuangan AS. Jepang sudah memberi sinyal siap melakukan intervensi lanjutan bersama AS jika yen kembali tertekan. Kedua negara juga terus menjaga komunikasi ketat soal langkah ini.

Pekan lalu, yen sempat menyentuh level 163,73 per dolar AS pada Kamis. Keesokan harinya, Jumat, yen menguat ke posisi 157,57. Pada Senin, 3 Agustus 2025, yen diperdagangkan di kisaran 157,70 per dolar AS. Angka-angka ini membuat investor di Jepang cemas. Pasalnya, yen sempat berada di level terlemahnya dalam empat dekade terakhir terhadap dolar AS.

Pada September 2025, pemerintah Jepang dan AS sepakat melakukan intervensi untuk mengatasi pergerakan yen yang tidak wajar. Kesepakatan ini menjadi dasar aksi bersama yang baru saja dilakukan.

Jepang juga berencana menggunakan fasilitas repo dari Federal Reserve di masa depan. Fasilitas ini memungkinkan bank sentral dan otoritas moneter asing mendapatkan dolar jangka pendek. Caranya dengan menukarkan sementara surat berharga Departemen Keuangan AS.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengonfirmasi aksi terkoordinasi ini. Ia menyebut langkah itu untuk menekan volatilitas yen. "Departemen Keuangan tetap memperhatikan dan berkomunikasi erat dengan rekan-rekan kami di Kementerian Keuangan dan Bank Sentral Jepang. Kami tidak akan ragu untuk berpartisipasi dalam intervensi bersama lebih lanjut," kata Bessent, Senin, 8 Maret 2026.

Bessent juga mendukung kebijakan Jepang memperkuat yen. Menurutnya, pemerintah dan otoritas moneter Jepang sudah mengambil langkah yang tepat untuk mengoreksi yen yang dinilai undervalue.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengaku terlibat dalam intervensi pekan lalu untuk mendukung yen. Ia menyebut langkah itu sebagai bentuk dukungan terhadap Jepang dan menjaga stabilitas ekonomi global. "Mereka menginginkan sedikit bantuan, dan kami selalu siap membantu Jepang," kata Trump, Minggu, 2 Agustus 2025.

Trump juga menekankan hubungan baik AS dan Jepang sebagai sekutu. Menurutnya, keterlibatan AS lebih dari sekadar persahabatan kedua negara.

Namun, tidak semua pihak melihat langkah ini positif. Peneliti senior Peterson Institute for International Economics, Robin Brooks, menilai intervensi terkoordinasi justru bisa melemahkan kepercayaan terhadap yen. Jika AS menjual euro, bukan dolar AS, untuk membeli yen, investor bisa menyimpulkan bahwa pejabat AS berusaha menyelamatkan Jepang dari penjualan obligasi pemerintah AS untuk membiayai intervensi.

Laporan bahwa AS menjual euro, bukan dolar AS, untuk membeli yen mengejutkan pasar. Sebab, intervensi terkoordinasi biasanya didanai dengan aset dolar AS. "Menurut saya, perubahan arah seperti ini melemahkan efektivitas partisipasi AS, karena hal itu pasti akan membuat pasar bertanya-tanya mengapa AS tidak langsung mendanai pembelian Yen dari Dolar," kata Brooks.

Langkah Jepang dan AS ini menunjukkan betapa seriusnya gejolak yen akhir-akhir ini. Intervensi bersama jarang terjadi, apalagi dengan melibatkan penjualan euro. Keputusan ini justru memunculkan pertanyaan baru di pasar tentang strategi AS dalam mendukung sekutunya.

intervensi yenJepangAmerika Serikatnilai tukargejolak mata uangkoordinasi keuanganvolatilitas

Komentar

Memuat komentar...