Zoonosis Waspada Saat Idul Adha: Tips Pencegahan Keluarga

Kartika D. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 76 dibaca
Bisik.id
Zoonosis Waspada Saat Idul Adha: Tips Pencegahan Keluarga

Gambar atau konten salah?

Zoonosis menjadi topik hangat menjelang Idul Adha, saat interaksi manusia dengan hewan meningkat tajam. Dari pembelian kurban, pembersihan kandang, pemotongan daging, hingga pengolahan jeroan, semua kegiatan berlangsung dalam waktu singkat. Pada saat yang sama, publik teringat pada hantavirus, penyakit yang terkait dengan tikus dan dapat menular ke manusia. Situasi ini menegaskan bahwa penyakit yang berasal dari hewan tidak lagi bersifat langka.

Menurut laman resmi World Health Organization (WHO), zoonosis adalah penyakit atau infeksi yang secara alami dapat menular dari hewan vertebrata ke manusia. Penyebabnya meliputi virus, bakteri, parasit, dan agen infeksi lain yang dapat menyebar lewat kontak langsung maupun tidak langsung.

Penularan dapat terjadi lewat gigitan atau cakaran hewan, kontak dengan cairan tubuh, konsumsi makanan terkontaminasi, maupun paparan lingkungan yang terinfeksi. Air dan tempat yang tercemar juga dapat menjadi media penyebaran. Pada beberapa kasus, patogen dapat menyebar melalui udara atau menempel pada permukaan lalu masuk ke tubuh manusia.

WHO mengidentifikasi lebih dari 200 jenis zoonosis. Sebagian besar infeksi baru pada manusia berasal dari penularan hewan ke manusia. Beberapa penyakit dapat dikendalikan dengan baik, namun sebagian lainnya berpotensi berkembang menjadi wabah besar hingga pandemi global. Selain memengaruhi kesehatan, zoonosis juga dapat mengganggu produksi dan perdagangan produk hewani.

Menurut WHO, peningkatan kasus zoonosis dipicu oleh perubahan pola hidup manusia dan lingkungan. Pembangunan permukiman, industri, dan perubahan kebiasaan berinteraksi dengan hewan menjadi faktor utama. Berikut empat pemicu utama:

  • Urbanisasi dan perusakan habitat alam membuat wilayah satwa liar menyempit, sehingga kontak antara manusia dan hewan liar menjadi lebih sering.
  • Perdagangan dan konsumsi satwa liar menempatkan pasar hewan liar sebagai titik risiko tinggi. Banyak hewan membawa mikroorganisme yang belum pernah terpapar manusia.
  • Peternakan intensif dan penggunaan antibiotik memicu resistensi antimikroba, membuat bakteri menjadi lebih kebal dan meningkatkan risiko zoonosis sulit dikendalikan.
  • Perubahan iklim dan lingkungan mempengaruhi penyebaran vektor penyakit seperti nyamuk, tikus, dan kelelawar, sehingga penyakit zoonosis muncul di wilayah baru.

Siapa saja yang paling berisiko? WHO menyebut beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi:

  • Orang yang setiap hari berhubungan dengan hewan ternak, terutama di tempat di mana penggunaan antibiotik tinggi dan pengawasan kesehatan kurang.
  • Orang yang bekerja di pasar hewan, rumah potong, atau tempat penjualan satwa.
  • Warga di wilayah semi-perkotaan dan area dekat habitat liar, di mana kontak dengan tikus, kelelawar, atau rubah lebih sering.
  • Orang dengan sistem imun lemah, yang cenderung lebih rentan mengalami komplikasi akibat infeksi zoonosis.

Berikut beberapa penyakit zoonosis yang sering disebut:

  • Rabies
  • Leptospirosis
  • Flu Burung (Avian influenza)
  • Antrax
  • Demam Berdarah
  • Malaria
  • Filariasis
  • Chikungunya
  • Zika
  • Japanese B. Encephalitis
  • Pes
  • Hantavirus
  • Ebola
  • Monkey Pox
  • Schistosomiosis
  • Taniasis
  • Brucellosis

WHO juga mencatat beberapa penyakit zoonosis pernah memicu krisis kesehatan global, seperti rabies, ebola, flu burung, dan COVID-19. Kabar baiknya, beberapa penyakit seperti rabies dapat dicegah 100% melalui vaksinasi.

Penularan zoonosis dapat terjadi dalam aktivitas sehari-hari yang tampak biasa. Seseorang dapat tertular melalui:

  • Menyentuh hewan tanpa menjaga kebersihan.
  • Mengonsumsi daging yang tidak matang sempurna.
  • Terkena air atau lingkungan yang tercemar.
  • Membersihkan kandang hewan tanpa perlindungan.
  • Digigit hewan pembawa penyakit.

Risiko penularan biasanya lebih tinggi di lingkungan dengan sanitasi buruk dan pengawasan kesehatan hewan yang lemah. Misalnya, membuang tikus sembarangan di jalan atau selokan dapat mencemari lingkungan. Tikus membawa berbagai penyakit zoonosis, termasuk leptospirosis dan hantavirus. Cairan tubuh, urine, darah, dan kotoran tikus dapat menular lewat udara ketika kotoran mengering dan terbentuk partikel kecil yang terhirup.

Berikut beberapa langkah pencegahan yang dapat diambil untuk menekan risiko zoonosis, terutama saat aktivitas manusia dengan hewan meningkat:

  • Jaga kebersihan tangan dengan mencuci setelah menyentuh hewan, membersihkan kandang, atau mengolah bahan makanan mentah.
  • Pastikan makanan matang sempurna, terutama daging, telur, dan produk hewani.
  • Vaksinasi hewan peliharaan seperti anjing dan kucing untuk mencegah penularan penyakit seperti rabies.
  • Hindari kontak dengan hewan sakit.
  • Jaga sanitasi lingkungan: air bersih, pengelolaan limbah yang baik, dan kebersihan lingkungan secara keseluruhan.

Idul Adha menandai periode di mana interaksi manusia dengan hewan meningkat drastis. Diskusi tentang hantavirus mengingatkan bahwa penyakit dari hewan dapat muncul dari lingkungan sekitar. Menjaga kebersihan saat kontak dengan hewan, memastikan makanan diolah dengan aman, serta menjaga sanitasi lingkungan menjadi langkah penting untuk menekan risiko zoonosis.

Semakin baik pemahaman masyarakat tentang cara penularan penyakit dari hewan ke manusia, semakin besar peluang untuk mencegah wabah dan melindungi kesehatan bersama, terutama di tengah aktivitas yang melibatkan hewan dalam jumlah besar seperti saat Idul Adha.

ZoonosisHantavirusIdulAdhaWHORabiesInfluenzaBurungVaksinasiSanitasi

Komentar

Memuat komentar...