7 Tunanetra Taklukan Trawas, Buktikan Batas Hanya Ilusi

Teguh A. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
7 Tunanetra Taklukan Trawas, Buktikan Batas Hanya Ilusi

Gambar atau konten salah?

Perjalanan di alam terbuka bukanlah hal yang mudah bagi penyandang tunanetra. Setiap langkah di jalan berbatu atau di tepi sungai selalu dibayangi rasa khawatir—takut terpeleset, jatuh, atau bahkan tersesat. Namun, ketakutan itu tidak menghentikan tujuh orang tunanetra yang didampingi oleh relawan dari Yayasan Urunan Kebaikan di Surabaya. Mereka tetap melangkah maju.

Mereka mengikuti kegiatan bernama Adventurous Journey (AJ), sebuah program petualangan yang dirancang khusus untuk melatih keberanian dan membangun rasa percaya diri. Tujuannya sederhana: membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk menghadapi tantangan. Kegiatan ini berlangsung dari 4 Juli 2026 hingga 7 Juli 2026 di kawasan Trawas, Mojokerto.

Sebanyak 25 anak binaan Yayasan Urunan Kebaikan ikut serta dalam petualangan ini. Usia mereka berkisar antara 14 hingga 21 tahun. Selain tujuh peserta tunanetra, peserta lainnya adalah anak yatim dan anak dari keluarga kurang mampu. Selama empat hari, mereka menyusuri sungai, mendaki gunung, dan belajar tentang budaya setempat.

Ketua Yayasan Urunan Kebaikan, Gusti Mohammad Hamdan, menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar jalan-jalan atau berpetualang biasa. Program ini dirancang untuk membentuk karakter, terutama rasa empati dan jiwa kepemimpinan. AJ juga merupakan salah satu syarat bagi peserta untuk mendapatkan penghargaan internasional bernama The Duke of Edinburgh International Award.

"Ada tujuh anak tunanetra yang ikut dalam AJ ini. Mereka melakukan susur sungai, naik gunung, dan juga jelajah budaya lokal," kata Gusti saat dihubungi pada Selasa, 7 Juli 2026.

Setiap peserta tunanetra mendapatkan pendampingan khusus. Satu relawan mendampingi satu peserta. Namun, saat pendakian gunung, jumlah pendamping ditambah menjadi dua orang per peserta. Ini dilakukan demi memastikan keselamatan mereka selama di jalur yang sulit.

Sebelum berangkat, para peserta sudah berlatih selama kurang lebih satu bulan. Latihan meliputi berjalan di medan yang miring, meningkatkan kebugaran fisik, dan membiasakan diri dengan kondisi alam yang tidak menentu. Semua persiapan itu dilakukan agar mereka lebih siap menghadapi medan yang sebenarnya.

Menurut Gusti, tantangan terbesar bagi peserta tunanetra bukanlah jalur pendakian yang terjal. Tantangan utamanya adalah rasa takut yang muncul di setiap langkah. "Setiap langkah mereka adalah ketakutan-ketakutan akan jatuh, terpeleset, terjungkal, dan lain-lain. Syukur ada relawan pendamping yang membantu mereka menghadapi tantangan alam. Kehadiran relawan mendatangkan rasa aman bagi tunanetra agar mereka tidak merasa takut atau merasa sendiri," ujarnya.

Selama menjelajah alam, peserta juga belajar mengenali lingkungan menggunakan indera selain penglihatan. "Relawan mengenalkan tekstur, aroma, dan suara alam pada tunanetra," tutur Gusti.

Cara pendampingan pun berubah sesuai medan. Saat jalur masih landai, relawan cukup mengarahkan langkah peserta. Namun ketika medan mulai menanjak dan berbahaya, pendamping harus menggandeng, mendeskripsikan kondisi jalur, bahkan menyangga tubuh peserta bila diperlukan. "Kelihaian relawan sangat dibutuhkan di sini," imbuh Gusti.

Ia berharap pengalaman ini bisa menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri pada penyandang tunanetra. Harapannya, mereka bisa lebih siap menghadapi tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi sebagian peserta, petualangan ini adalah pengalaman pertama mereka menjelajah alam. Tapi tidak bagi Febriand Valentino. Mahasiswa Universitas Brawijaya ini sudah lebih dari lima kali mengikuti kegiatan serupa. Bahkan, Febriand membuat konten bernama Blindventure yang membagikan pengalaman petualangannya sebagai penyandang tunanetra.

"Melalui AJ ini saya berharap menjadi contoh dan menginspirasi orang lain untuk break the limit. Jika saya yang tunanetra saja bisa, berarti yang lain juga bisa pastinya," kata Febriand.

Kegiatan Adventurous Journey ini menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat dan persiapan yang matang, penyandang tunanetra mampu melakukan hal-hal yang mungkin dianggap mustahil. Bukan hanya soal mendaki gunung atau menyusuri sungai, tetapi juga tentang mengatasi rasa takut dan membangun kepercayaan diri. Program seperti ini membuka jalan bagi mereka untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda—bukan dengan mata, melainkan dengan keberanian dan tekad.

tunanetraadventurous journeykeberanianpendampinganpetualangan alamrasa percaya diriyayasan urunan kebaikan

Komentar

Memuat komentar...