Aksi Sopir Truk di Pelabuhan Ketapang Picu Antrean 6,6 KM

Rini S. · 3 min baca · 2 jam lalu · 21 dibaca
Bisik.id
Aksi Sopir Truk di Pelabuhan Ketapang Picu Antrean 6,6 KM

Gambar atau konten salah?

Sebuah aksi protes yang dilakukan oleh para sopir truk di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, membuat lalu lintas penyeberangan dari Pulau Jawa menuju Bali menjadi kacau. Pada Sabtu malam, antrean kendaraan sempat membentang hingga 6,6 kilometer di Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Para sopir truk menyampaikan aspirasi mereka di area pintu keluar Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang pada Sabtu sore.

Aksi ini dipicu oleh perubahan aturan operasional. Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjung Wangi melakukan penyesuaian muatan kapal demi keselamatan pelayaran. Penyesuaian ini terutama menyangkut kapal LCT yang mengangkut truk besar dan sedang. Faktor cuaca menjadi alasan utama. Berdasarkan rilis dari BMKG Stasiun Meteorologi Banyuwangi-Pelabuhan Ketapang pada Sabtu pukul 15.00 WITA, ada peringatan dini waspada. Angin kencang dengan kecepatan 10 hingga 15 knot dari arah utara dan arus kuat di atas 1,2 meter per detik menjadi ancaman.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) angkat bicara. Mereka berusaha mempercepat pemulihan operasional di lintasan Ketapang-Gilimanuk. "Setelah tercapainya kesepakatan bersama, fokus kami adalah mempercepat normalisasi operasional dan mengurai antrean secara bertahap. Kapasitas kapal yang tersedia terus kami optimalkan, termasuk melalui percepatan siklus pelayanan kapal serta pengaturan muatan sesuai karakteristik dan kapasitas masing-masing kapal," ujar Heru dalam keterangannya pada Minggu, 27 September 2026.

Aksi penyampaian aspirasi berlangsung dari sekitar pukul 14.15 WIB pada Sabtu dan berakhir sekitar pukul 20.00 WIB. Setelah berkomunikasi dan bermediasi dengan perwakilan sopir truk, ASDP bersama beberapa pemangku kepentingan lainnya menyepakati sejumlah langkah. Tujuannya untuk mempercepat pemulihan dan menjaga kelancaran penyeberangan.

Salah satu langkah yang diambil adalah mengoptimalkan distribusi kendaraan. Kendaraan dengan muatan di atas 30 ton akan dilayani oleh kapal-kapal LCM. Muatannya disesuaikan dengan kapasitas kapal. Sementara itu, kendaraan dengan muatan di bawah 30 ton akan diarahkan melalui kapal MB 1, 2, 3, dan 4. Pengaturan ini bertujuan agar seluruh kapasitas kapal dan fasilitas yang tersedia bisa dimanfaatkan secara optimal. Distribusi kendaraan pun diharapkan lebih efektif dan tidak menumpuk pada satu jenis kapal tertentu.

General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto, menjelaskan bahwa ASDP bersama seluruh pemangku kepentingan terus mempercepat siklus pelayanan kapal. Mulai dari proses sandar, pemuatan, hingga keberangkatan. Semua dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi operasional dan standar keselamatan. "Kuncinya adalah memastikan seluruh kapasitas yang tersedia dapat digunakan secara optimal. Pengaturan muatan dilakukan sesuai kapasitas kapal, sementara proses pelayanan kapal terus dipercepat melalui koordinasi yang semakin solid antara petugas, regulator, dan operator. Dengan langkah tersebut, antrean diharapkan dapat terus berkurang secara bertahap," jelas Media.

ASDP juga terus berkoordinasi dengan asosiasi pelayaran untuk mengoptimalkan jumlah trip dan kapasitas angkut kapal. Sementara itu, asosiasi pengemudi truk berkomitmen mendukung kelancaran operasional. Mereka akan mengikuti arahan petugas terkait proses pemuatan kapal dan ketentuan operasional di kawasan pelabuhan.

Pada Minggu sore sekitar pukul 15.00 WIB, kepadatan kendaraan masih terpantau di kedua sisi lintasan. Ini adalah dampak dari terganggunya operasional pada hari Sabtu. Kondisi itu menyebabkan berkurangnya jumlah trip dan terjadinya penumpukan kendaraan di akses menuju pelabuhan. Di sisi Ketapang, antrean kendaraan tercatat sekitar 12 kilometer. Sementara di sisi Gilimanuk, antrean mencapai sekitar 3 kilometer. Ekor antrean terpantau hingga kawasan Pertigaan Cekik.

Untuk mempercepat penguraian antrean, ASDP mengoperasikan 25 kapal di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Optimalisasi jumlah trip terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi operasional, kapasitas kapal, pengaturan muatan, dan aspek keselamatan pelayaran. "Kami memahami bahwa kondisi kepadatan ini berdampak langsung kepada pengguna jasa, khususnya angkutan logistik. Karena itu, percepatan pemulihan menjadi prioritas kami. Seluruh unsur di lapangan terus bekerja untuk memaksimalkan trip, mempercepat siklus pelayanan kapal, dan mengurai antrean secara bertahap. Kami mengimbau pengguna jasa tetap mengikuti arahan petugas agar proses pemulihan dapat berlangsung dengan tertib dan optimal," tambah Media.

ASDP bersama regulator, operator pelayaran, asosiasi pengguna jasa, dan seluruh pemangku kepentingan terkait akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap pola operasi hingga kondisi layanan kembali normal. Optimalisasi armada dan fasilitas, pengaturan distribusi kendaraan, serta penguatan koordinasi lintas pemangku kepentingan terus dilakukan. Tujuannya untuk memastikan layanan Ketapang-Gilimanuk tetap aman dan lancar, serta menjaga kelancaran mobilitas masyarakat dan distribusi logistik di jalur strategis Jawa-Bali.

Kepadatan di Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk ini menunjukkan betapa rentannya jalur penyeberangan utama antara Jawa dan Bali terhadap gangguan operasional. Perubahan cuaca dan aturan muatan kapal bisa memicu efek domino yang panjang, menghambat distribusi logistik dan perjalanan masyarakat. Upaya koordinasi dan optimalisasi armada menjadi kunci untuk memulihkan kondisi dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

protes sopir trukpelabuhan ketapangantrean kendaraanperubahan aturan muatankeselamatan pelayaranoptimalisasi kapal

Komentar

Memuat komentar...