APHI Dorong Kesiapsiagaan Utama Menghadapi Potensi Karhutla
Gambar atau konten salah?
Palembang – Pada 06 Mei 2026, Soewarso, Ketua Umum APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia), mengumumkan bahwa semua pelaku usaha kehutanan diharuskan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla – kebakaran hutan dan lahan. Ia menegaskan bahwa langkah pencegahan harus maksimal, melalui penguatan patroli terpadu, optimalisasi peran MPA (Masyarakat Peduli Api), hingga koordinasi lintas sektor.
“Kesiapsiagaan di lapangan harus benar-benar nyata, bukan sekadar administratif. Semua unit kerja harus memastikan personel, peralatan, dan sistem respons cepat dalam kondisi siap digunakan setiap saat,” ujar Soewarso saat apel kesiapsiagaan di Griya Agung. Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan harus nyata, bukan hanya dokumen.
Apel kesiapsiagaan karhutla secara nasional digelar di Sumatera Selatan dan dipimpin oleh Menko Polkam Djamari Chaniago. Menurut Soewarso, acara ini merupakan upaya mitigasi penanganan karhutla. BMKG memprediksi Indonesia kini telah memasuki musim kemarau, dengan puncak kemarau diperkirakan pada Agustus mendatang. Kondisi kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih kering dan panjang karena fenomena El Nino, sehingga risiko karhutla akan lebih tinggi.
Ia juga mengingatkan pentingnya peningkatan frekuensi patroli dan pemantauan titik rawan sebagai bagian dari strategi deteksi dini. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Perlu sinergi yang kuat antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat agar upaya pencegahan ini benar-benar efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sementara itu, Iwan Setiawan, Ketua Komisariat Daerah (Komda) Sumsel, menyatakan bahwa APHI Sumsel terus mendorong anggotanya untuk meningkatkan sinergi dan kolaborasi dengan semua pihak dalam upaya pencegahan dan pengendalian karhutla. Ia menekankan pentingnya sosialisasi dan edukasi masyarakat agar tidak melakukan praktik pembakaran dalam membuka lahan.
Anggota APHI di Sumsel telah mengoptimalkan semua sumber daya yang dimilikinya: regu penanggulangan kebakaran (RPK), peralatan dan mesin pemadaman, kendaraan patroli, sarana prasarana pendukung lainnya, serta pemanfaatan teknologi dalam deteksi dini. Dengan demikian, proses pemadaman dapat berjalan efektif dan api dapat dikendalikan sebelum membesar dan meluas.
Dengan turut berpartisipasi dalam apel ini, APHI menunjukkan komitmen untuk mendukung pemerintah dalam upaya antisipasi karhutla. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat diharapkan dapat menjaga lingkungan dari ancaman karhutla.
Kesimpulannya, kesiapsiagaan karhutla di Indonesia menuntut sinergi nyata antara semua pemangku kepentingan. Upaya pencegahan yang terkoordinasi dan berkelanjutan menjadi kunci menghadapi musim kemarau yang semakin kering akibat El Nino.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cek Bansos PKH Tahap 3 Mulai 20 Juli, Siapkan NIK
Wapres Cek PSEL Palembang, Sorot Dampak Lalu Lintas Sampah
GoldenEye Kembali Malam Ini, Film Bond Perdana Brosnan
Kapolres Muba Tinjau Titik Longsor, Minta Warga Alih Jalur
Harga Emas Antam Turun Rp2.000 per Gram
Gibran Tinjau Jembatan Musi V, Progres Capai 91,21 Persen
Berita Terbaru
Ledakan MAN 3 Padang: Pelaku Korban Bullying
Distribusi BBM di Medan Mulai Pulih
Bahlil Perintah SKK Migas Libatkan Pengusaha Lokal di Proyek Masela
85 Perusahaan Asing Berebut Proyek Sampah Jadi Listrik
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Gagal SNBP-SNBT? UT Buka Pendaftaran Sampai 22 Juli
Prabowo: Kesejahteraan Rakyat Butuh Biaya Besar
