Bandung: 86% Kasus HIV Berasal dari Seksual, Dorong Kondom
Gambar atau konten salah?
Di Kota Bandung, hampir sembilan per sepuluh kasus HIV/AIDS terjadi karena hubungan seksual. 86 persen penularan HIV di kota ini berasal dari kontak seksual, menurut data yang disampaikan oleh dr. Agung Firmansyah Sumantri, Ketua Panel Ahli Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Bandung.
Untuk menekan risiko penularan, KPA menekankan pentingnya penggunaan kondom. 95 persen penurunan risiko infeksi HIV dapat dicapai bila kondom dipakai secara konsisten. “Kita selalu mencoba pendekatan edukasi ke masyarakat tentang bahaya dan resiko HIV dan tentunya juga salah satu program dari KPA Kota Bandung itu ada program sosialisasi penggunaan kondom. Secara medis penggunaan kondom terbukti 95% bisa mencegah penurunan infeksi HIV,” ujar Agung saat dijumpai di kantor KPA.
Agung menjelaskan bahwa edukasi ini tidak dimaksudkan untuk mempromosikan perilaku seksual tertentu. “Jadi kita bukan promosi perilaku seksualnya dan kita tidak mempromosikan kondom ini terhadap masyarakat luas, jadi hanya terhadap kelompok-kelompok yang beresiko. Kelompok beresiko itu siapa saja, pekerja seksual, seks laki, pengguna narkoba suntik, dan tempat-tempat yang memang kita anggap berisiko lah menularkan infeksi virus HIV,” ungkapnya.
Di balik statistik, KPA mengembangkan strategi pencegahan yang terintegrasi. “Prinsipnya sih, strateginya ada istilah-istilah strategi pencegahan, A, B, C, D, E. Abstinence, tidak melakukan hubungan sama sekali. B, be faithful, jadi hanya ke satu orang saja, setia. C, use condom, terus D-nya itu don't use drugs, dan E-nya edukasi,” terang Agung.
Penggunaan kondom, menurutnya, sudah terbukti secara medis mampu mencegah penularan HIV hingga 95 persen. “Cuman perlu ditekankan bahwa penggunaan kondom ini dalam kerangka kesehatan masyarakat gitu, kita bukan promosi perilaku seksual kepada masyarakat, apalagi pada remaja gitu untuk kita menggunakan kondom, tapi benar-benar memang selektif terhadap kerangka kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Agung menegaskan bahwa data menunjukkan kasus penularan HIV paling sering terjadi melalui hubungan seksual. “Iya, karena dari data pun, kasus terbanyak penularan HIV kan melalui hubungan seksual. Sampai dengan 86 persen. Sosialisasi ada. Malah kita disosialisasi untuk pembagian kondom gratis,” ujarnya.
Stigma negatif terhadap kondom masih melekat kuat di masyarakat. “Kondom Kerap Dianggap Tabu. Menurut penuturan Agung, stigma negatif terhadap kondom masih melekat kuat di tengah masyarakat karena dianggap sebagai hal yang tabu. Namun, ia menekankan bahwa pemahaman terhadap kesehatan reproduksi sangatlah penting, mengingat kondom merupakan alat proteksi efektif untuk mencegah transmisi berbagai virus dan menjaga keamanan kesehatan jangka panjang,” jelasnya.
Agung menambahkan bahwa pendekatan bersifat persuasif dan berbasis komunitas. “Kalau dikatakan tabu, mungkin masih ada ya. Cuma bahwa penekanananya di sini bahwa kita berusaha pendekatannya itu yang bersifat persuasif tadi. Terus tadi juga disebutkan berbasis komunitas. Sehingga yang diharapkan adalah perubahan perilaku terhadap komunitas atau orang yang memiliki resiko penularan,” jelasnya.
Dalam konteks masyarakat yang masih menyepelekan penggunaan kondom, Agung menilai hal tersebut kembali pada persoalan edukasi. “Mungkin kalau dibilang masih banyak, ya buktinya dengan angka HIV yang cukup tinggi, dengan resiko penularan seksual, kalau ini masih dari masyarakat, masih banyak yang menyepelekan juga sih penggunaan kondom,” tuturnya.
Pasangan suami istri yang satu atau kedua berstatus ODHIV (Orang dengan HIV) masih sering ditanya apakah mereka harus pakai kondom. Menurut Agung, penggunaan kondom tetap menjadi langkah pencegahan wajib, terutama bila status kesehatan belum terkontrol sepenuhnya. “Kalau misalkan salah satu pasangannya ada yang positif, kalau tidak diketahui itu beresiko. Tapi kalau memang salah satu pasangannya dia dengan kesadaran dirinya mau berobat, sampai dengan virusnya tidak terdeteksi, itu bisa tanpa kondom,” tuturnya.
Agung menekankan pentingnya terapi ARV (Antiretroviral) bagi setiap ODHIV. “Sangat-sangat penting. Ini kan termasuk dalam salah satu program ya, yang tadi kan temukan, suluh, obati, pertahankan. Ini masih bagian dari pengobatan tata laksana atau pencegahan dalam tata laksana sampai dengan pencegahan untuk pasien-pasien dengan HIV,” tuturnya.
Dalam penanganan kasus HIV/AIDS, KPA Kota Bandung terus melakukan upaya penjangkauan secara konsisten. “Ya, jadi kalau untuk masyarakat pada umumnya jangan ada stigma. Jangan ada stigmatisasi untuk pasien-pasien dengan HIV. Ataupun stigmatisasi terhadap populasi-populasi beresiko. Kita harus mnjangkau mereka, kita harus mendekatkan kepada mereka supaya mereka mau datang untuk berobat, mau datang untuk melakukan tes pemeriksaan HIV,” terangnya.
Agung mengajak masyarakat berisiko untuk segera melakukan pemeriksaan sedini mungkin. “KPA Kota Bandung terus melakukan upaya penjangkauan secara konsisten. Tingginya temuan kasus saat ini membuktikan bahwa sistem deteksi di lapangan sudah berjalan masif. Agung pun mengajak masyarakat yang memiliki perilaku berisiko untuk segera melakukan pemeriksaan sedini mungkin,” ujarnya.
Untuk orang-orang yang sudah positif HIV, KPA menegaskan pentingnya konsistensi pengobatan. “Nah, untuk orang-orang yang sudah dengan HIV positif, harus tetap semangat, harus tetap berobat, tidak boleh kutus berobatnya karena orang dengan HIV bisa hidup secara normal,” pungkasnya.
Dengan strategi terintegrasi, edukasi berbasis komunitas, dan distribusi kondom gratis, KPA Kota Bandung berupaya menurunkan angka penularan HIV. Meskipun masih banyak tantangan, upaya ini menunjukkan komitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat melalui pendekatan yang sederhana namun efektif.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
DPRD Bogor Ubah Peraturan Daerah ke Braille Hari Jadi ke-544
Kementerian Sosial Buka 5.127 Posisi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026
Ayi Solehudin Ditemukan di Gunung Salak setelah 2,5 Tahun
Silmy Karim Serahkan Diri ke KPK, Ternyata Miliki Aset Berlimpah
Rupiah Jatuh 14.000, Pasar Saham Turun 4.1%, Risiko Kredit
Dolar AS Kembali Menguat, Rupiah Turun di Bawah Rp18.000
Berita Terbaru
Jembatan Batang A: Lalu Lintas Satu Lajur, Rute Alternatif
Gubernur Jateng Atur Ulang Anggaran 2026 untuk Perbaikan Jalan
Slamet Santoso Resmi Bergabung Sokol Pyrzyce, Klub Polandia
Delapan Kabupaten Jatim Siaga Darurat Kekeringan Surabaya
Ronaldo Usia 41 Tahun Siap Menjuarai Piala Dunia 2026
Makanan Sederhana Dulu, Kini Warisan Kuliner Nasional
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho 2026
PHK Januari-April 2026: Jawa Barat Terbanyak, 5.044 Orang
