Banjir Sarolangun menenggelamkan 26 desa, 1.552 rumah
Gambar atau konten salah?
Di Kabupaten Sarolangun, provinsi Jambi, terjadi banjir besar pada 26 April 2026. Banjir menenggelamkan 26 desa dan menimpa 1.552 rumah. Banyak warga terpaksa mengungsi ke tempat tenda darurat.
Menurut Kepala BPBD Jambi, Solahuddin Nopri, “Ya banjir ini setidaknya telah merendam 5 kecamatan dan 26 desa serta 1.552 rumah terdampak dalam bencana banjir kali ini.”
Air sungai meluap dari Sungai Batang Asai dan anak‑cabangnya, setelah diguyur hujan deras beberapa hari terakhir. Ketinggian air bervariasi, mulai dari puluhan sentimeter hingga lebih dari satu meter. Di beberapa desa, aktivitas warga terhenti total karena banjir.
Solahuddin menyatakan, “Total 300 warga yang telah mengungsi atas kejadian banjir ini. Tetapi semua sudah kembali normal, setelah kondisi banjir sebagian sudah mulai surut. Lantaran banjir juga tidak terjadi cukup lama.”
Banjir memulai pada hari Minggu, 26 April 2026, dan seiring waktu mulai surut. Beberapa rumah yang terdampak mulai terlihat kondisi lebih baik. Warga mulai kembali ke aktivitas normal.
Warga kini sedang membersihkan rumah masing-masing. Solahuddin menambahkan, “Banjir yang paling parah itu terdampak di kawasan Bathin VIII karena itu ketinggian air mulai dari 3 meter hingga 4 meter. Tetapi untuk saat ini, air di sana juga mulai surut dan aktivitas warga sudah mulai bisa berjalan, dan warga juga sudah mulai bersih‑bersih rumah mereka.”
Selain kerusakan pada rumah, banjir juga merobohkan lima jembatan umum yang menjadi akses penting bagi warga. Di beberapa titik, arus air sangat deras, membawa lumpur, kayu, serta alat tambang emas ilegal atau dompeng.
Daerah ini dikenal sebagai kawasan tambang emas ilegal tanpa izin. Air sungai, yang dulu jernih, kini sangat keruh akibat aktivitas PETI yang masif di beberapa titik. Meski begitu, banjir tidak menimbulkan korban jiwa.
Solahuddin menegaskan, “Saya tidak ingin menyimpulkan bahwa banjir ini disebabkan oleh aktivitas tambang emas ilegal. Banjir ini lebih dipengaruhi oleh intensitas hujan tinggi dari hulu yang tidak dapat menampung debit air di Sungai Tembesi dan Sungai Batang Asai.”
Sejak banjir, air mulai surut. Warga bersiap membersihkan sisa‑sisa banjir. Tidak ada laporan korban jiwa, dan situasi kini kembali normal. Banjir ini menunjukkan betapa pentingnya kesiapsiagaan dan pemantauan aliran sungai di daerah rawan banjir.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cek Bansos PKH Tahap 3 Mulai 20 Juli, Siapkan NIK
Wapres Cek PSEL Palembang, Sorot Dampak Lalu Lintas Sampah
GoldenEye Kembali Malam Ini, Film Bond Perdana Brosnan
Kapolres Muba Tinjau Titik Longsor, Minta Warga Alih Jalur
Harga Emas Antam Turun Rp2.000 per Gram
Gibran Tinjau Jembatan Musi V, Progres Capai 91,21 Persen
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
