BBM non‑subsi naik: Pengusaha Batam cari solusi logistik
Gambar atau konten salah?
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non‑subsidi yang mulai berlaku pada 18 April 2026 menimbulkan keluhan tajam di kalangan pengusaha Batam, Kepulauan Riau. Lonjakan harga tersebut langsung memengaruhi biaya operasional, khususnya di sektor logistik dan industri.
Ketua DPC Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Batam, Yasser Hadeka Daniel, menegaskan bahwa kenaikan harga BBM, seperti Pertamina Dex dan Dexlite, sangat memberatkan pelaku usaha. “Ini sangat membebani. Kami sebelumnya masih berupaya menahan kenaikan tarif demi menjaga stabilitas harga barang, tapi dengan kondisi sekarang sudah tidak bisa ditahan lagi,” kata Yasser, Senin (20/4/2026).
Harga Pertamina Dex melonjak dari sekitar Rp 14.800 menjadi Rp 23.600 per liter, sementara Dexlite naik dari Rp 14.500 menjadi Rp 24.150 per liter. Perubahan ini membuat biaya operasional logistik menjadi lebih tinggi secara signifikan.
Menurut Yasser, pelaku logistik telah melakukan berbagai efisiensi, mulai dari optimalisasi rute distribusi hingga penyesuaian operasional. Namun, lonjakan harga BBM membuat beban tersebut tidak lagi tertutupi. “Kondisi Batam yang sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah seperti Jakarta dan Belawan, serta impor dari Singapura, membuat sektor logistik semakin rentan terhadap fluktuasi harga BBM,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaku usaha di Batam diwajibkan menggunakan BBM non‑subsidi, berbeda dengan sejumlah daerah lain. Hal ini membuat biaya logistik di Batam sejak awal sudah lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.
Dampak kenaikan ini diperkirakan akan meluas, mulai dari naiknya harga kebutuhan pokok hingga biaya distribusi laut seperti jasa pandu dan tunda kapal. Bahkan, ada kekhawatiran sejumlah pelaku usaha tidak mampu bertahan. “Sebagai gambaran, biaya angkut dari Batu Ampar ke Muka Kuning yang sebelumnya sekitar Rp 900 ribu per perjalanan, kini berpotensi melonjak hingga Rp 1,8 juta,” ungkapnya.
ALFI Batam membuka ruang dialog dengan pemerintah, termasuk BP Batam dan Pertamina, guna mencari solusi. Salah satu usulan yang diajukan adalah pemberian akses BBM subsidi bagi pelaku logistik. “Kami berharap ada kebijakan yang meringankan agar usaha tetap berjalan dan harga barang tidak melonjak,” katanya.
Sementara itu, Ketua APINDO Batam, Rafky Rasyid, menilai kenaikan harga BBM non‑subsidi akan berdampak langsung terhadap industri yang menggunakan BBM industri serta memicu kenaikan biaya logistik. “Kenaikan biaya logistik akan menambah beban pengusaha yang saat ini juga tengah berjuang karena naiknya biaya pokok produksi, salah satunya akibat kelangkaan beberapa komponen karena dampak perang,” ujar Rafky.
Ia juga memperkirakan harga bahan pokok di Batam akan ikut naik, mengingat sebagian besar pasokan didatangkan melalui jalur laut dari luar daerah. “Kalau BBM non‑subsidi naik, maka biaya transportasi barang kebutuhan pokok juga akan naik. Ini akan memicu kenaikan harga kebutuhan pokok yang harus diantisipasi sejak awal,” ujarnya.
Selain itu, APINDO mencatat adanya kenaikan biaya produksi akibat kelangkaan bahan seperti chip dan biji plastik. Kondisi ini dinilai turut memengaruhi daya saing industri, meski dampaknya bersifat relatif di tiap sektor. “Apindo sudah menerima informasi kenaikan biaya pokok produksi akibat kelangkaan chip dan biji plastik. Perihal daya saing industri itu relatif,” ujarnya.
Rafky berharap pemerintah dapat memberikan insentif fiskal maupun non‑fiskal agar pelaku usaha mampu bertahan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat. “Kami berharap ada dukungan agar perusahaan bisa bertahan dan tidak sampai melakukan PHK,” ujarnya.
Perubahan harga BBM non‑subsidi ini menandai tantangan baru bagi pelaku usaha Batam. Kenaikan biaya operasional, terutama di sektor logistik, memaksa perusahaan mencari cara efisiensi dan dialog dengan pemerintah. Jika tidak ada kebijakan meringankan, dampak pada harga barang dan ketahanan industri dapat menjadi lebih parah, menambah beban pengusaha yang sudah berjuang menghadapi biaya produksi tinggi dan kelangkaan komponen.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Camat Medan Ditegur, Pendataan Bansos Digital Masih 1,75 Persen
Harga Emas Antam Medan Naik Rp 17.000 per Gram
Lafadz Azan, Ikamah, dan Doa Setelahnya Lengkap
Slow Jogging Tren Olahraga Baru, Aman untuk Sendi
Urine Jernih Tak Selalu Sehat, Bisa Tanda Gangguan Ginjal
Tips Ampuh Jaga Warna Cat Dinding Luar Rumah Tetap Awet
Berita Terbaru
Andie Peci, Tokoh Bonek Persebaya, Meninggal Dunia
Kiper Indonesia Eko Jawato Tangkap Tembakan Tsubasa
Hasil SPMB Jabar Tahap 2 Diumumkan Hari Ini
Siswa Garuda Transformasi Wajib Kontribusi Nyata Tiap Tahun
Venezuela Minta Raja Charles III Kembalikan 31 Ton Emas
Pusat Keuangan Global RI Ditempatkan di Bali