BGN Belajar Program Makan Bergizi dari Jepang
Gambar atau konten salah?
Badan Gizi Nasional (BGN) tengah memperkuat fondasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan belajar dari pengalaman negara lain. Salah satu negara yang menjadi rujukan adalah Jepang, yang telah menjalankan program makan bergizi di sekolah selama lebih dari satu abad.
Deputi Sistem dan Tata Kelola BGN, Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea, menyatakan bahwa pengalaman Jepang yang sudah berlangsung lebih dari 100 tahun menjadi pelajaran berharga. Pelajaran itu membantu memahami bagaimana penyelenggaraan makan bagi siswa bisa ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem pendidikan.
"Pelatihan ini memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat secara langsung bagaimana program makan sekolah diselenggarakan di Jepang. Kami tidak hanya ingin mempelajari aspek penyediaan makanannya, tetapi juga memahami bagaimana kegiatan makan dapat terhubung dengan pendidikan pangan dan gizi bagi siswa," ujar Prima dalam keterangannya pada Minggu, 27 September 2026.
Salah satu materi yang menjadi sorotan dalam pelatihan adalah konsep shokuiku. Ini adalah pendidikan pangan dan gizi yang dikembangkan Jepang melalui pendekatan berbasis pengalaman. Dalam praktiknya, pendidikan pangan dan gizi tidak hanya diberikan melalui pengetahuan di dalam kelas. Pendidikan itu juga terintegrasi dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kegiatan makan bergizi di sekolah.
Prima menambahkan, pembelajaran semacam ini penting untuk memperkaya perspektif dalam pengembangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui pelatihan di Jepang, pihaknya mendorong penguatan kapasitas sumber daya manusia. Mereka juga menggali praktik yang relevan untuk membangun penyelenggaraan MBG yang semakin terintegrasi dengan pendidikan pangan dan gizi bagi anak Indonesia.
Dalam audiensi dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) pada Rabu, 23 September 2026, BGN menjadikan pelatihan ini sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan dan kapasitas sumber daya manusia. Mereka belajar dari pengalaman negara lain dalam menyelenggarakan program makan bergizi di sekolah.
"Kami berharap peserta dapat membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan. Tentunya tidak seluruh praktik dapat diterapkan secara langsung, tetapi esensi dan pembelajarannya dapat kita kaji untuk melihat apa yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik penyelenggaraan MBG di Indonesia," tutur Prima.
Melalui pelatihan tersebut, BGN terus membuka ruang pembelajaran dan pertukaran pengalaman. Tujuannya mendukung pengembangan penyelenggaraan MBG secara berkelanjutan. Termasuk memperkuat keterkaitan antara pemenuhan gizi dan pendidikan bagi peserta didik.
BGN menggandeng Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam mengembangkan gagasan MBG-JICA Pilot. Upaya ini untuk mengeksplorasi penerapan pendekatan shokuiku dalam memperkaya pengalaman Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam rancangan MBG-JICA Pilot, ada sejumlah area yang menjadi perhatian untuk dikaji. Di antaranya adalah pengurangan sampah dan sisa makanan. Lalu peningkatan proses pengiriman dan penyajian makanan. Juga penguatan keterlibatan siswa dalam kegiatan makan di sekolah, serta pendidikan pangan dan gizi.
Pilot tersebut dirancang melalui dua komponen yang saling melengkapi. Pertama, Shokkan Trial di tingkat SPPG. Kedua, kegiatan Shokuiku di tingkat sekolah. Melalui Shokkan Trial, pembelajaran diarahkan pada pengalaman di tingkat penyediaan layanan makanan. Sedangkan Shokuiku Activities di sekolah memberikan ruang untuk memperkuat pengalaman siswa dalam memahami makanan dan gizi.
Menurut Prima, kedua pendekatan tersebut dapat memberikan perspektif yang lebih menyeluruh. Ini karena menghubungkan proses penyediaan makanan dengan pengalaman siswa sebagai penerima manfaat.
"Kami ingin melihat keterhubungan antara apa yang terjadi di tingkat SPPG dengan pengalaman anak ketika menerima dan mengonsumsi makanan di sekolah. Dari sana, kita dapat mempelajari aspek mana yang dapat mendukung peningkatan kualitas layanan sekaligus memperkuat edukasi pangan dan gizi," tambah Prima.
Pengembangan MBG-JICA Pilot juga memberikan ruang untuk mengkaji bagaimana penyelenggaraan makan sekolah dapat mendorong keterlibatan siswa. Aspek tersebut mencakup pengalaman siswa dalam kegiatan makan. Juga pemahaman mengenai makanan yang dikonsumsi. Serta kesadaran terhadap proses dan orang-orang yang berada di balik penyediaan makanan sekolah.
"Harapannya, pembelajaran dari Jepang dapat menjadi referensi untuk terus mengembangkan MBG sesuai dengan konteks Indonesia. Kita ingin memastikan bahwa pengalaman yang diperoleh siswa melalui MBG juga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai pangan dan gizi," tutur Prima.
Melalui kerja sama dengan JICA, BGN terus membuka ruang pembelajaran dan pertukaran pengalaman. Ini untuk mendukung pengembangan MBG, baik dari sisi penyelenggaraan layanan maupun penguatan pendidikan pangan dan gizi bagi peserta didik.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia masih dalam tahap pengembangan. Dengan belajar dari Jepang, BGN berharap bisa merancang program yang tidak hanya memberi makanan bergizi, tetapi juga mendidik siswa tentang pentingnya pangan dan gizi. Konsep shokuiku dari Jepang menawarkan pendekatan yang menghubungkan pengalaman makan langsung dengan pembelajaran di kelas. Ini bisa menjadi model yang relevan untuk diterapkan di Indonesia, meskipun perlu disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lokal.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
DPR Setujui Subsidi Energi Rp261,5 Triliun
Iran Minta PNS WFH, Hemat Energi di Tengah Krisis BBM
Iran Pangkas Jam PNS, Terapkan WFH Hemat Energi
PLN EPI Garap Bisnis Bioenergi dari 60 Juta Ton Biomassa Terabaikan
ESDM Bantah Pembahasan Ekspor Listrik dengan BPI Danantara
Pemerintah Potong 945 Ribu Ton Jatah LPG 3 Kg Tahun Depan
Berita Terbaru
DPR Setujui Subsidi Energi Rp261,5 Triliun
Iran Minta PNS WFH, Hemat Energi di Tengah Krisis BBM
Iran Pangkas Jam PNS, Terapkan WFH Hemat Energi
PLN EPI Garap Bisnis Bioenergi dari 60 Juta Ton Biomassa Terabaikan
ESDM Bantah Pembahasan Ekspor Listrik dengan BPI Danantara
Pemerintah Potong 945 Ribu Ton Jatah LPG 3 Kg Tahun Depan
SAKA Energi Mulai Pengeboran Sumur Eksplorasi SM-1 di Kaltim
Kapal Minyak Pertamina Ditahan di Malaysia Sudah 5 Bulan
ESDM Siapkan CNG 3 Kg untuk Gantikan LPG Bersubsidi
Indonesia Targetkan 100 GWp Surya, Butuh Regulasi Jelas
