Dalimin 94 Tahun Haji ke Mekkah, Penentu Usia Tak Halangi
Gambar atau konten salah?
Klaten – Seorang warga Desa Kupang, Kecamatan Karangdowo, Klaten, bernama Dalimin Bujo Martoyo, berusia 94 tahun, akhirnya menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekkah. Ia mengaku sangat gembira ketika impian tersebut terwujud. “Usia saya sudah 94 tahun, ya perasaan saya sangat senang. Senangnya ya rukun Islam saya akan genap lima,” ujarnya dengan wajah ceria di rumahnya pada Selasa, 21 April 2026.
Dalimin didampingi oleh anaknya, Sri Widodo. Ia mengaku sudah menunggu lama untuk bisa berangkat haji. Pendaftaran ibadah haji dilakukan pada tahun 2018 ketika ia berusia 86 tahun. “Saya nunggunya sejak tahun 2018. Ya tidak ada (persiapan khusus), tiap hari sudah jalan kaki, pagi jalan siang dede (berjemur),” teriak Dalimin yang masih fasih bicara dan peka menangkap pembicaraan. Ia menambahkan, “Ya dekat sini saja, jalan muter-muter jalan kampung.”
Dalimin memutuskan untuk berangkat haji sendiri karena anak-anaknya sudah berhaji dan istrinya telah meninggal. Di Tanah Suci, selain beribadah, ia juga ingin mendoakan kesehatan bagi anak cucunya. “Ya doanya nanti supaya anak cucu saya semua diparingi sehat. Saya anak sudah lima, cucunya 14,” kata Dalimin.
Anak pertamanya, Sri Widodo, menuturkan bahwa ayahnya tercatat sebagai calon haji (calhaj) tertua di desa. Keluarga yakin ayahnya siap. Sebagai petani, Dalimin sudah biasa bekerja dan berjalan kaki. “Bapak saya dulu kan petani, sudah biasa bekerja, ke mana-mana jalan kaki, nyepeda. Baru tiga tahun ini tidak lagi ke sawah dan naik sepeda tapi tiap pagi itu biasa jalan,” ungkap Widodo.
Menurut Widodo, ayahnya tetap mantap meski berangkat haji sendiri. Keluarga tidak khawatir, namun nantinya akan meminta calhaj yang masih muda untuk mengawasi. “Saya nanti akan minta tolong yang masih muda-muda, seperti saat saya haji dulu masih muda, saya biasa menolong bahkan menggendong yang tua dan adatnya memang seperti itu. Nanti juga ada kepala regu dan kepala rombongan yang pasti peduli,” lanjutnya. Ia juga menambahkan bahwa ayahnya sudah sering diajak untuk umrah tapi tidak bersedia. Saat ditawari berhaji baru bersedia. “Diajak umroh mundur terus, saat didaftar haji baru terbuka, ya gitu. Persiapan khusus tidak ada, karena sudah biasa jalan keliling lapangan,” sambung Widodo.
Di desanya, tidak hanya ayahnya yang berhaji, tapi ada beberapa orang lainnya. Ayahnya masuk Kelompok Terbang (Kloter) 61. “Masuk Kloter 61, berangkat 11 Mei infonya, ini perlengkapan sudah dapat. Semoga lancar sampai pulang dan jadi haji mabrur,” imbuh Widodo.
Selama persiapan, jemaah calon haji (calhaj) Embarkasi Solo akan mulai masuk Asrama Haji Donohudan, Boyolali, besok pagi. Kelompok Terbang (Kloter) 1 asal Kabupaten Tegal dijadwalkan masuk pukul 06.00 WIB. Untuk Jawa Tengah tahun ini, kuota jemaah mencapai 34.122 orang. Jumlah tersebut terdiri dari 32.138 jemaah reguler berdasarkan nomor urut kursi, 1.706 jemaah prioritas lansia, 191 petugas haji daerah, dan 87 pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU).
Menurut Ketua PPIH Embarkasi Solo, Fitriyanto, sebagian jemaah calon haji Jawa Tengah, keberangkatannya akan melalui Embarkasi Yogyakarta. Ada 15 Kloter yang keberangkatannya ke Tanah Suci melalui Embarkasi Jogja. “Ada 15 kloter yang akan berangkat lewat Embarkasi Jogja dan nanti akan bergabung dengan Embarkasi Jogja. Itu total yang akan berangkat dari Jogja 26 kloter,” jelas Fitriyanto.
Jumlah jemaah kategori lansia di Embarkasi Solo masih sekitar 40 persen, cukup tinggi. Kategori lansia ini, yaitu jemaah dengan usia 65 tahun ke atas. Jemaah tertua berasal dari Kabupaten Klaten, sedangkan termuda 13 tahun dari Magelang berangkat sebagai pengganti.
Pengalaman Dalimin menunjukkan bahwa usia tidak menjadi penghalang untuk menunaikan ibadah haji. Ia tetap aktif berjalan kaki setiap hari, menyiapkan diri secara fisik dan spiritual, serta memiliki dukungan keluarga yang kuat. Keputusan berangkat sendiri menegaskan tekad dan kesiapan beliau, sekaligus menjadi contoh bagi generasi muda.
Di sisi lain, sistem pengelolaan jemaah di Jawa Tengah terlihat terstruktur. Kuota yang cukup besar, pembagian kloter, serta peran pembimbing dan petugas haji daerah menandakan adanya koordinasi yang baik. Keterlibatan kloter-kloter yang berbeda, termasuk kloter yang berangkat lewat Embarkasi Jogja, menunjukkan fleksibilitas dalam penyelenggaraan. Meskipun begitu, persiapan fisik dan mental tetap menjadi fokus utama bagi setiap calon haji, terlepas dari usia atau latar belakang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
