Deteksi Dini Kanker Serviks: Pentingnya Pap Smear dan HPV

Dwi H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 81 dibaca
Bisik.id
Deteksi Dini Kanker Serviks: Pentingnya Pap Smear dan HPV

Gambar atau konten salah?

Di Indonesia, kanker serviks seringkali tidak menimbulkan gejala pada fase awal. Karena gejala muncul secara perlahan, banyak wanita baru menyadarinya ketika penyakit sudah mencapai tahap akhir. Kondisi ini membuat deteksi dini menjadi kunci penting dalam meningkatkan peluang penyembuhan.

Gejala yang dapat muncul meliputi keputihan berwarna, bau tidak sedap, dan perubahan warna pada keputihan. Perdarahan di luar siklus menstruasi, terutama setelah berhubungan intim, juga menjadi tanda yang perlu diwaspadai. Ketika gejala muncul, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk evaluasi lebih lanjut.

“Meskipun kanker leher rahim atau kanker serviks memberikan gejala bisa jadi perdarahan. Tapi sebenarnya yang benarnya, stage awal tidak memberikan gejala sama sekali,” ucapnya.

“Ada gejala keluar darah. Tapi itu gejala kanker serviks yang sudah lanjut dan bukan hanya itu gejalanya. Gejalanya itu banyak, salah satunya berhubungan keluar darah. Jenis darahnya kita tidak bisa menunjukkan ini kanker serviks atau nggak kalau dilihat dari warnanya,” sambungnya.

Berikut daftar gejala yang sering dikaitkan dengan kanker serviks, menurut laman Kementerian Kesehatan RI:

  • Pendarahan pada vagina saat tidak menstruasi, berhubungan intim, atau sudah menopause.
  • Keputihan berwarna atau bercampur darah, berbau tak sedap, dan menyebabkan gatal.
  • Nyeri panggul saat berhubungan intim.
  • Tubuh mudah lelah karena kekurangan sel darah merah.
  • Sering buang air kecil, sebab sel kanker yang tumbuh di leher rahim bisa menyebar ke kandung kemih.
  • Nafsu makan hilang.
  • Darah pada urine dan BAB.
  • Perut membesar, sebab sel kanker yang membesar dan berkembang bisa memicu benjolan pada perut.
  • Keluhan lainnya berupa mual, muntah, kejang, atau diare.

Menurut Cleveland Clinic, kanker serviks dibagi ke dalam empat stadium utama berdasarkan sebarannya:

  1. Stadium I: Kanker hanya ditemukan di leher serviks dan belum menyebar ke bagian yang lebih dalam dari jaringan serviks.
  2. Stadium II: Kanker telah menyebar melewati leher rahim, tetapi belum menyebar ke dinding panggul atau bagian bawah vagina.
  3. Stadium III: Kanker telah menyebar ke bagian bawah vagina dan mungkin telah menyebar ke dinding panggul, ureter, dan kelenjar getah bening di dekatnya.
  4. Stadium IV: Kanker telah menyebar ke kandung kemih, rektum, atau bagian tubuh lainnya, seperti tulang atau paru-paru.

Deteksi kanker serviks dapat dilakukan melalui beberapa metode, di antaranya:

1. Pap Smear

Metode ini mengambil sel dari leher rahim di ujung vagina untuk memeriksa adanya tanda kanker pada tahap awal. National Cancer Institute menyarankan pemeriksaan ini mulai dari usia 21 tahun dan diikuti setiap 3 tahun sekali.

2. Tes HPV

Tes ini mendeteksi keberadaan virus Human Papillomavirus (HPV) di leher rahim. Sampel dapat diambil bersamaan dengan Pap Smear atau secara terpisah. Disarankan mulai usia 25 tahun dan dilanjutkan setiap 5 tahun sekali.

3. Skrining dengan IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat)

Prosedur ini melibatkan pengolesan asam asetat atau cuka dapur encer pada leher rahim. Jika sel kanker hadir, akan muncul bercak putih setelah satu menit. Pemeriksaan ini direkomendasikan mulai usia 35 tahun dan dapat dilakukan setiap 3–5 tahun sekali.

Dengan memahami gejala, stadium, dan metode deteksi, wanita dapat mengambil langkah preventif lebih awal. Pemeriksaan rutin sesuai rekomendasi usia dan interval waktu dapat meningkatkan deteksi dini, sehingga peluang pengobatan menjadi lebih baik. Kanker serviks memang serius, namun kesadaran dan tindakan cepat dapat mengurangi dampaknya secara signifikan.

Kanker serviksgejaladeteksi diniPap SmearHPVIVAstadiumpemeriksaan rutin

Komentar

Memuat komentar...