Diskresi Bahlil ke IAS Bukan Jaminan Menang di Musda Golkar

Putri N. · 3 min baca · 2 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Diskresi Bahlil ke IAS Bukan Jaminan Menang di Musda Golkar

Gambar atau konten salah?

Pakar politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Sukri Tamma, menyebut surat diskresi yang diberikan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) bukan jaminan otomatis untuk menang di Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel). Menurutnya, diskresi itu cuma memberi ruang bagi IAS agar memenuhi syarat untuk ikut bertarung.

"Jika kita melihat adanya diskresi yang diberikan oleh DPP, dalam hal ini oleh Ketua Umum, kepada Pak IAS, saya kira hal itu (diskresi) dimungkinkan dalam kerangka kebijakan Golkar. Bagi Golkar, khususnya untuk DPD I Sulawesi Selatan, ini bukan pertama kalinya terjadi," ujar Sukri pada Senin, 06 Juli 2026.

Sukri menjelaskan pemberian diskresi adalah mekanisme yang biasa terjadi di internal Partai Golkar. Dia menilai kebijakan semacam ini sudah pernah diterapkan sebelumnya di Musda Golkar Sulsel. Bukan hal baru.

"Saya kira hal itu dimungkinkan dalam kerangka kebijakan Golkar. Bagi Golkar, khususnya untuk DPD I Sulsel, ini bukan pertama kalinya terjadi," jelasnya.

Menurut Sukri, pengalaman dari Musda sebelumnya menunjukkan bahwa diskresi tidak otomatis membuat seseorang terpilih jadi ketua. Keputusan akhir tetap ditentukan lewat mekanisme Musda. Dia memberi contoh.

"Beberapa waktu yang lalu, Pak Supriansah juga mendapatkan diskresi ketika akan maju, meskipun kemudian yang akhirnya terpilih menjadi ketua adalah Pak Taufan Pawe. Jadi, saya kira diskresi adalah bagian dari kebijakan yang dimungkinkan dan tidak melanggar aturan di dalam tubuh Golkar," kata Sukri.

Karena itu, diskresi ini bukan jaminan buat IAS bahwa dia pasti terpilih. Sukri menyebut 'surat sakti' itu hanya urusan administrasi agar IAS bisa ikut berkompetisi jadi calon ketua Golkar Sulsel.

"Langkah ini bisa dibaca sebagai kebijaksanaan dari Ketua Umum untuk memberikan ruang sebesar-besarnya kepada orang-orang yang dianggap mumpuni untuk ikut bertarung. Masalah siapa pemenangnya nanti, jika berkaca pada pengalaman sebelumnya, itu adalah urusan yang berbeda," katanya.

Sukri juga menyoroti dinamika politik yang muncul setelah diskresi keluar. Termasuk isu pergeseran dukungan dari kubu Wali Kota Makassar Munafri 'Appi' Arifuddin ke IAS. Menurutnya, perpindahan dukungan adalah hal biasa dalam proses politik internal partai.

"Saya kira itu adalah bagian dari dinamika internal Golkar. Kita akan melihat apakah pergeseran ini betul-betul akan bertahan di sana, atau justru akan dinamis saat proses Musda berlangsung nanti," ucapnya.

Di sisi lain, Sukri menilai DPP Golkar tidak boleh menunda-nunda pelaksanaan Musda Sulsel. Kepastian kepemimpinan dibutuhkan agar Golkar bisa segera fokus menghadapi agenda politik menuju Pemilu 2029.

"Golkar tidak ingin membuang waktu terlalu lama untuk mengurus aspek internal, karena waktu terus berjalan mendekati tahun 2029 dan 2030," ujarnya.

Sukri menegaskan tujuan Musda bukan cuma memilih ketua baru. DPP, kata dia, akan mempertimbangkan figur yang mampu mengembalikan kejayaan Golkar di Sulawesi Selatan.

"Jangan lupa, tujuannya bukan hanya sekadar mempunyai ketua, melainkan membawa Golkar agar bisa bersaing ke depan dengan kondisi dan konteks yang ada di Sulsel. Siapa pun yang terpilih nanti harus bisa membawa Golkar kembali berjaya," pungkasnya.

Diketahui, mantan Wali Kota Makassar IAS menerima diskresi untuk mencalonkan diri sebagai calon ketua Golkar Sulsel lewat Musda di Kantor DPP Golkar, Jakarta, pada Rabu, 24 Juni 2026. Surat diskresi itu diterima langsung IAS dari Ketum Bahlil.

"(Diskresi) sudah sama IAS. Diserahkan jam 19.00 tadi di DPP Golkar," ujar Plt Ketua Golkar Sulsel Muhidin Mohamad Said, Rabu, 24 Juni 2026.

Sementara itu, Musda Golkar Sulsel akan digelar di Hotel Claro, Makassar, pada 18 Juli 2026 mendatang. Penjaringan calon ketua Golkar Sulsel akan diumumkan pengarah (steering committee) pekan ini.

"Iya sudah fiks 18 Juli musda sesuai surat DPP, soal teknis pelaksanaan, setahu saya teman-teman OC (panitia) juga tengah merampungkan persiapan teknis untuk dilaksanakan di Claro. Tapi tentang waktu pembukaan musda masih menyesuaikan jam kedatangan Ketua Umum Bahlil tiba dari luar negeri," ujar Koordinator Steering Musda XI DPD I Golkar Sulsel Armin Mustamin Toputiri, Senin, 06 Juli 2026.

Musda Golkar Sulsel kali ini menarik karena melibatkan figur-tokoh kuat. Ilham Arief Sirajuddin adalah mantan Wali Kota Makassar dua periode. Munafri Arifuddin adalah Wali Kota Makassar petahana. Persaingan di antara mereka akan menentukan arah politik Golkar di provinsi itu ke depan. Diskresi dari ketua umum memang membuka jalan bagi IAS, tapi sejarah Musda sebelumnya menunjukkan bahwa surat semacam itu tidak selalu berujung pada kemenangan.

diskresiGolkarMusdaIlham Arief SirajuddinBahlil LahadaliaSulawesi Selatanpolitik

Komentar

Memuat komentar...