Dwi Irianto: Kapten Ferry 26 Tahun, Lebaran Selamat di Laut

Rudi H. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 40 dibaca
Bisik.id
Dwi Irianto: Kapten Ferry 26 Tahun, Lebaran Selamat di Laut

Gambar atau konten salah?

Dwi Irianto, kapten kapal ferry, telah menempuh Lebaran di atas laut selama 26 tahun. Ia memulai perjalanan ini jauh dari keluarga dan kampung halaman di Semarang demi memastikan ribuan pemudik sampai tujuan dengan selamat.

“Ini yang ke 26 tahun, rasanya sedih sih, apalagi habis salat Id, biasanya kan kumpul keluarga, makan bareng, ke makam. Itu yang paling terasa,” kata Dwi pelan ketika ditemui di atas kapal, di tengah padatnya arus mudik.

Di hari Lebaran, suasana kapal tak selalu ramai. Dwi pernah merasakan momen Idulfitri yang sunyi, hanya bersama kru tanpa penumpang. “Tadi kita sempat berhenti untuk salat Id. Waktu itu enggak ada penumpang, hanya kru kapal saja,” ujarnya.

Bagi Dwi dan 28 kru kapal yang dipimpinnya, Lebaran justru menjadi puncak tanggung jawab. Sejak hari pertama arus mudik, ia memastikan seluruh pelayaran berjalan lancar. Tidak ada insiden berarti, semua penumpang terlayani dengan baik. Baginya, itu adalah kepuasan tersendiri.

“Kalau penumpang tertib, enggak berdesak-desakan, dan mereka happy, itu sudah jadi pengalaman yang luar biasa,” tambahnya.

Rindu pada keluarga tentu tak bisa dihindari. Terlebih, orang tua di kampung yang semakin menua. Namun Dwi punya caranya sendiri untuk bertahan. “Kalau kangen, ya telepon. Itu juga kalau ada sinyal, biasanya pas sandar,” katanya.

Selama berlayar, Dwi mengisi waktu dengan berinteraksi bersama penumpang dan kru. Suasana Lebaran di kapal tetap dihidupkan dengan cara sederhana. “Malam takbiran kita ramai-ramai sampai pagi. Paginya salat Id bareng, terus makan ketupat bersama,” tuturnya. Kadang, ia juga melepas rindu dengan hal-hal sederhana seperti karaoke bersama penumpang atau sekadar berbincang di dek kapal.

Sebagai nakhoda, Dwi memegang tanggung jawab tertinggi atas keselamatan pelayaran. Ia memastikan kapal beroperasi dengan aman dari pelabuhan ke pelabuhan. “Tugas utama nakhoda itu menjamin kapal berlayar dengan selamat. Dari titik ke titik, itu yang paling penting,” tegasnya.

Menjelang musim mudik, persiapan dilakukan jauh lebih matang dibanding hari biasa. Mulai dari pengecekan mesin, alat keselamatan, hingga kondisi fisik kru. “Semua harus dalam kondisi ‘sehat’. Kapal dicek, kru juga harus siap secara fisik, supaya selama angkutan Lebaran enggak ada kendala,” jelasnya.

Menurut Dwi, peran kru sangat vital. Tanpa mereka, operasional kapal tidak akan berjalan. “Saya enggak bisa apa-apa tanpa kru. Mereka yang bekerja dari kapal berangkat, bongkar muat, sampai berangkat lagi,” katanya.

Meski sudah puluhan tahun menjalani Lebaran di atas kapal, rasa sedih tetap ada. Namun bagi ia, itu adalah bagian dari konsekuensi profesi. “Namanya tugas. Senang enggak senang harus dijalani,” ujarnya.

Di tengah kesibukannya, Dwi juga menyampaikan pesan bagi para pemudik yang menggunakan jasa penyeberangan. Ia mengingatkan pentingnya persiapan sebelum perjalanan, mulai dari kondisi kendaraan hingga kesehatan pribadi. “Jadi penumpang yang bijaksana. Rencanakan perjalanan, siapkan kendaraan, dan jaga kesehatan,” pesannya.

Tak kalah penting, ia juga mengajak penumpang untuk menjaga kebersihan selama di atas kapal. “Jangan buang sampah sembarangan, apalagi ke toilet. Supaya perjalanan nyaman untuk semua,” imbuhnya.

Dengan rutinitas harian menyapa penumpang, Dwi tetap menjalankan perannya dengan penuh tanggung jawab. Ia menegaskan bahwa meski Lebaran di laut terasa berbeda, ia tetap berusaha menciptakan suasana yang hangat bagi semua yang berada di atas kapal.

Dwi IriantoKapal FerryLebaran di LautMudikKeselamatan PelayaranPersiapan KendaraanKebersihan Kapal

Komentar

Memuat komentar...