Gubernur Buka Jembatan Sukamenak, Sengketa Lahan Masih Mengganjal

Cahyo S. · 4 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Gubernur Buka Jembatan Sukamenak, Sengketa Lahan Masih Mengganjal

Gambar atau konten salah?

Polemik yang sempat memanas soal penutupan Jembatan Gantung Sukamenak, yang menghubungkan Kabupaten Ciamis dengan Kota Tasikmalaya, akhirnya mulai mereda. Sebelumnya, Kepala Desa Wanasigra, Yudi Wahyudi, menutup akses jembatan tersebut menggunakan rumpun bambu. Kini, setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turun langsung ke lokasi, jembatan itu kembali dibuka untuk umum.

Meskipun warga sudah bisa melintas kembali, akar masalah yang menyebabkan penutupan jembatan belum sepenuhnya terselesaikan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersiap untuk memediasi sengketa antara Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Pemerintah Desa Wanasigra.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Minggu, 5 Juli 2026, rumpun bambu yang sebelumnya menutup pintu masuk jembatan sudah tidak ada. Jembatan yang menghubungkan Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, dengan Kelurahan Sukamenak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya itu kembali ramai dengan aktivitas warga. Banyak masyarakat yang memanfaatkan jembatan untuk berolahraga, berjalan kaki, atau sekadar berfoto. Akses yang sempat lumpuh kini sudah kembali normal.

Kepala Desa Wanasigra, Yudi Wahyudi, membenarkan bahwa pembukaan kembali jembatan dilakukan langsung oleh Gubernur Jawa Barat saat berkunjung ke lokasi pada Sabtu, 4 Juli 2026. "Betul, kemarin Pak Dedi Mulyadi datang langsung ke lokasi dan jembatannya dibuka," ujar Yudi.

Menurut Yudi, dalam pertemuan tersebut ia menjelaskan secara langsung alasan penutupan jembatan kepada Dedi Mulyadi. Ia menegaskan bahwa penutupan bukan untuk menghambat aktivitas masyarakat, melainkan sebagai bentuk protes atas persoalan akses jalan yang belum menemukan penyelesaian. "Tadi kami sempat menjelaskan kenapa jembatan itu ditutup. Pak Dedi meminta dari pihak desa untuk membuka dulu aksesnya. Nanti persoalan ini rencananya akan dimediasi oleh Pak Dedi antara pihak Tasikmalaya dan pihak Wanasigra," katanya.

Atas permintaan gubernur, Pemerintah Desa Wanasigra akhirnya membuka kembali akses tersebut. Masyarakat dari dua daerah kini bisa kembali menggunakan jembatan penghubung itu. "Sudah bisa dilalui lagi," ucap Yudi.

Meski begitu, ia menegaskan bahwa pembukaan jembatan bukan berarti sengketa yang menjadi pemicunya telah selesai. Pemerintah desa kini memilih menunggu proses mediasi yang akan difasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. "Untuk sementara kami menunggu hasil mediasi nanti seperti apa. Kami menunggu arahan dari Pak Dedi Mulyadi untuk mempertemukan pihak-pihak yang berkaitan dengan persoalan ini," jelasnya.

Yudi berharap mediasi tersebut mampu menghasilkan solusi yang adil bagi seluruh pihak, terutama warga yang selama ini bergantung pada jembatan sebagai akses utama penghubung Ciamis dan Tasikmalaya. "Harapan kami tentu semuanya bisa baik-baik saja. Mudah-mudahan ada solusi terbaik setelah dimediasi nanti," harapnya.

Kasus penutupan Jembatan Sukamenak sebelumnya menjadi perhatian publik setelah video jembatan yang ditutup bambu viral di media sosial. Menyikapi hal itu, Dedi Mulyadi langsung mendatangi lokasi. Dalam video yang diunggah di akun media sosial pribadinya, Dedi menyebut penutupan dipicu ketidaksepakatan mengenai proses pembebasan lahan akses menuju jembatan. "Ya ini kita di Jembatan Gantung Wanasigra yang kemarin ditutup karena ada ketidaksepahaman," ujar Dedi.

Menurut Dedi, berdasarkan penjelasan Kepala Desa Wanasigra, warga Ciamis dahulu secara sukarela menghibahkan tanah untuk pembangunan akses jembatan. Namun di sisi Kota Tasikmalaya, lahan justru dibebaskan menggunakan anggaran pemerintah. Hal ini memunculkan rasa ketidakadilan di kalangan warga. "Kalau Kuwu Wanasigra dulu tanpa pembebasan. Artinya rakyat ikhlas menghibahkan tanah untuk jembatan. Termasuk aki. Nah ternyata di Pemkot Tasik dibebaskan. Dibiayai oleh Pemkot Tasikmalaya. Akhirnya merasa dulu katanya mau ikhlas, sekarang dibebaskan, dibiayai, dibayar," jelasnya.

Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, Dedi memastikan akan mempertemukan seluruh pihak yang berkepentingan agar sengketa tidak berlarut-larut. "Sudah, nanti akan kita undang Pemkot Tasik, kita undang Kepala Desa Sukamenak, kita undang bareng dengan Kuwu Wanasigra," ucapnya.

Tak hanya itu, Dedi juga menjanjikan pembangunan akses jalan menuju kawasan Sukamenak sebagai bagian dari penyelesaian persoalan infrastruktur di lokasi tersebut. "Nanti sebentar lagi juga akan saya bangun, jalan yang menuju Sukamenak. Panjangnya kurang lebih 400 meter. Nilainya lebih Rp1,5 miliar, dicor," tegasnya.

Jembatan gantung Sukamenak, yang menghubungkan Tasikmalaya dan Ciamis, memiliki nilai pembangunan sebesar Rp5 miliar. Kasus penutupan jembatan ini sebelumnya menjadi perhatian publik setelah video jembatan yang ditutup bambu viral di media sosial.

Inti dari persoalan ini adalah ketidaksepakatan mengenai proses pembebasan lahan akses menuju jembatan. Warga Ciamis, menurut penjelasan Kepala Desa Wanasigra, dahulu secara sukarela menghibahkan tanah untuk pembangunan akses jembatan. Namun di sisi Kota Tasikmalaya, lahan justru dibebaskan menggunakan anggaran pemerintah. Perbedaan perlakuan ini memunculkan rasa ketidakadilan di kalangan warga Ciamis. "Kalau Kuwu Wanasigra dulu tanpa pembebasan. Artinya rakyat ikhlas menghibahkan tanah untuk jembatan. Termasuk aki. Nah ternyata di Pemkot Tasik dibebaskan. Dibiayai oleh Pemkot Tasikmalaya. Akhirnya merasa dulu katanya mau ikhlas, sekarang dibebaskan, dibiayai, dibayar," jelas Dedi Mulyadi.

Yudi Wahyudi berharap mediasi yang akan difasilitasi oleh Gubernur Jawa Barat dapat menghasilkan solusi yang adil bagi semua pihak. Terutama bagi warga yang selama ini bergantung pada jembatan sebagai akses utama penghubung Ciamis dan Tasikmalaya. "Harapan kami tentu semuanya bisa baik-baik saja. Mudah-mudahan ada solusi terbaik setelah dimediasi nanti," harapnya.

Singkatnya, jembatan sudah dibuka kembali, tetapi persoalan mendasar mengenai pembebasan lahan yang tidak merata masih menjadi ganjalan. Mediasi oleh Gubernur Jawa Barat menjadi langkah selanjutnya untuk mencari titik temu antara Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Pemerintah Desa Wanasigra. Selain mediasi, Dedi Mulyadi juga berjanji akan membangun jalan akses menuju Sukamenak sepanjang 400 meter dengan nilai lebih dari Rp1,5 miliar sebagai bagian dari solusi infrastruktur di lokasi tersebut.

penutupan jembatanmediasi gubernurpembebasan lahanketidakadilanakses jalaninfrastruktursolusi

Komentar

Memuat komentar...