Gubernur Palembang: Hilang 612 Alur Sungai, Banjir Masuk
Gambar atau konten salah?
Herman Deru, gubernur Sumatera Selatan, menyoroti hilangnya ratusan alur sungai di Palembang, akibat alih fungsi lahan yang masif. Kondisi ini membuat ibu kota provinsi ini sering dilanda banjir.
Perluasannya diungkapkan Deru dalam rangkaian peringatan HUT ke-80 Provinsi Sumsel di hadapan para akademisi, rimbawan, dan mahasiswa di UIN Raden Fatah Palembang pada 21 Mei 2026.
“Dalam sejarah Kota Palembang, sungai kita ini tersisa ada 114 saja. Terus yang 600 ke mana? Emang dibawa orang ke luar negeri? Enggak kan, kita ini lah yang menutupnya. Banjir, teriak, Banjir. Tapi bukan kalian yang menimbun, mungkin generasi sebelum-sebelumnya,” ujar Deru.
Deru merinci bahwa Palembang awalnya memiliki 726 alur sungai yang tersebar di wilayah seluas kurang lebih 400-500 km persegi. Namun, akibat ulah manusia yang melakukan penimbunan tanpa kendali, jumlah itu kian terkikis.
“726 sungai dalam Kota Palembang yang luasnya lebih kurang 400 hingga 500 km persegi ini, sekarang tinggal 114. Jangankan hutan, sungai hilang. Kalau kita tidak menjaganya, mungkin kita punya cucu nanti tinggal dua sungai, Sungai Musi sama Sungai Baung loh,” ungkapnya.
Deru menuntut para akademisi dan mahasiswa tidak tinggal diam. Ia menyarankan lembaga pendidikan untuk mengkaji secara ilmiah guna menghentikan praktik pencaplokan sungai yang masih terus terjadi.
“Ulang tahun Kota Palembang nanti 17 Juni yang ke-1343. Sungai kita 700 lebih, nah sekarang tinggal 100 lebih. Kita lihat ulang tahun nant, berkurang lagi atau tidak dari 114. Jangankan kayu, anak-anak sungai dicaplok. Nah, inilah ulah manusia yang harus kita sadarkan dengan meningkatkan andrawina, rasa memiliki terhadap alam ini,” pungkasnya.
Palembang, kota dengan sejarah panjang, kini menghadapi risiko banjir yang meningkat karena hilangnya jaringan sungai. Pemerintah daerah menegaskan perlunya perbaikan dan pengelolaan lahan agar alur sungai tetap terjaga. Penurunan jumlah alur sungai dari 726 menjadi 114 menandakan dampak serius dari konversi lahan dan penimbunan. Upaya kolaboratif antara akademisi, mahasiswa, dan masyarakat menjadi kunci untuk memulihkan sistem aliran air dan mengurangi risiko banjir di masa depan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cek Bansos PKH Tahap 3 Mulai 20 Juli, Siapkan NIK
Wapres Cek PSEL Palembang, Sorot Dampak Lalu Lintas Sampah
GoldenEye Kembali Malam Ini, Film Bond Perdana Brosnan
Kapolres Muba Tinjau Titik Longsor, Minta Warga Alih Jalur
Harga Emas Antam Turun Rp2.000 per Gram
Gibran Tinjau Jembatan Musi V, Progres Capai 91,21 Persen
