Gunung Anak Krakatau Empat Kali Meletus dalam Sejam
Gambar atau konten salah?
Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di Perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada Jumat, 10 Juli 2026, gunung api ini meletus sebanyak empat kali dalam waktu sekitar satu jam pada sore hari.
Letusan pertama tercatat pada pukul 16.42 WIB. Kolom abu menyembur setinggi 250 meter di atas puncak. Tidak lama kemudian, pukul 16.57 WIB, letusan kedua terjadi dengan tinggi kolom abu mencapai 200 meter.
Aktivitas vulkanik kembali terjadi pukul 17.49 WIB. Kali ini, kolom abu yang dimuntahkan setinggi 100 meter. Hanya berselang dua menit, tepat pukul 17.51 WIB, Gunung Anak Krakatau kembali erupsi dengan kolom abu setinggi 200 meter di atas puncak.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, seluruh kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal. Arah pergerakan abu menuju utara, timur laut, dan barat laut. Rangkaian erupsi ini juga terekam di seismograf. Amplitudo maksimum berkisar antara 43 hingga 55,2 milimeter, dengan durasi letusan antara 33 sampai 49 detik.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Andi Suwardi, menyatakan bahwa aktivitas vulkanik masih fluktuatif. Namun, status gunung api tersebut tetap pada Level III atau Siaga. "Status Gunung Anak Krakatau masih berada di Level III (Siaga)," kata Andi Suwardi dalam keterangannya pada Jumat.
Andi mengingatkan masyarakat, nelayan, wisatawan, dan pendaki untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau. Warga diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Potensi erupsi masih bisa terjadi sewaktu-waktu.
PVMBG memastikan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif. Masyarakat diimbau untuk mengikuti informasi resmi dari otoritas vulkanologi dan tidak mudah percaya pada kabar yang belum terverifikasi.
Gunung Anak Krakatau memang dikenal sebagai salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Erupsi beruntun seperti ini bukanlah hal baru, dan status Siaga menunjukkan bahwa potensi bahaya masih mengancam di sekitar kawah. Masyarakat diharapkan tetap waspada dan mematuhi rekomendasi dari pihak berwenang.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
360 Siswa di Bengkulu Tak Lolos SPMB, Dinas Siapkan Sekolah Negeri
Ibu Korban Perundungan Minta Pelaku Dikeluarkan
306 Kebakaran Hutan di Sumsel, 87 Kasus Terjadi dalam 9 Hari
Warga Lampung Serentak Bersihkan Pantai dan Laut
Polres Banyuasin Nobar Film Tanah Runtuh, Perkuat Persatuan
BPBD Bengkulu Waspadai Longsor dan Karhutla Saat Kemarau
Berita Terbaru
Gunung Anak Krakatau Empat Kali Meletus dalam Sejam
Kelas Masak Taco Meksiko Digelar di Jakarta
Seine Dibuka untuk Berenang di Tengah Gelombang Panas Paris
Prancis vs Spanyol di Semifinal Piala Dunia 2026
Wali Kota Bandung Mulai Pulih Usai Dirawat
Bahaya Menahan Kencing: Otot Lemah hingga Ginjal Rusak
Messi Berjalan 64% Waktu, Tetapi Jadi Top Skor Piala Dunia
ADI Desak Reformasi Dosen Jadi Prioritas Nasional
DJP Kirim 317 Ribu Email Imbauan Pembetulan SPT