BPBD Bengkulu Waspadai Longsor dan Karhutla Saat Kemarau

Jaka M. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
BPBD Bengkulu Waspadai Longsor dan Karhutla Saat Kemarau

Gambar atau konten salah?

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bengkulu mengeluarkan peringatan kepada masyarakat. Bukan hanya soal tanah longsor, tetapi juga kebakaran hutan dan lahan. Peringatan ini muncul setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan bahwa puncak musim kemarau di wilayah itu diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Sejumlah daerah masuk dalam zona yang rawan terhadap pergerakan tanah atau longsor. Daftarnya mencakup Kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Kaur, Kepahiang, Lebong, Mukomuko, Rejang Lebong, Seluma, dan juga Kota Bengkulu. Wilayah-wilayah ini perlu ekstra hati-hati.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bengkulu, Khristian Hermansyah, menekankan bahwa masyarakat tidak boleh lengah. Meskipun saat ini sudah memasuki musim kemarau. Menurutnya, cuaca di Bengkulu punya karakteristik yang unik—sering berubah secara tiba-tiba. Perubahan mendadak ini bisa memicu bencana, terutama di daerah perbukitan dan lereng.

"Musim kemarau di Bengkulu bukan berarti sepenuhnya tanpa hujan. Kondisi cuaca bisa berubah dengan cepat. Hujan sedang hingga lebat yang turun setelah periode kering cukup lama dapat meningkatkan risiko terjadinya gerakan tanah atau longsor. Karena itu kami mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak mengabaikan peringatan dini yang dikeluarkan pemerintah," kata Khristian pada Kamis, 9 Juli 2026.

Ancaman tidak berhenti di longsor. BPBD juga mengingatkan soal potensi karhutla yang biasanya meningkat selama musim kemarau. Khristian meminta warga menggunakan air bersih secara bijak. Tujuannya agar kebutuhan selama musim kemarau tetap terpenuhi. Ia juga mengingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Atau membuang puntung rokok sembarangan. Hal-hal sepele ini bisa memicu kebakaran besar.

"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan bersama-sama mencegah kebakaran hutan dan lahan. Jangan membuka lahan dengan cara dibakar dan jangan membuang puntung rokok sembarangan karena risikonya sangat besar pada musim kemarau," ujarnya.

BPBD juga memberikan imbauan khusus bagi warga yang tinggal di kawasan lereng dan perbukitan. Mereka diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang terjadi secara mendadak. Warga diimbau menghindari aktivitas di bawah tebing maupun lereng curam ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

Selain itu, masyarakat diminta segera melaporkan jika menemukan tanda-tanda awal longsor. Tanda-tanda itu bisa berupa retakan pada tanah, pohon yang mulai miring, atau perubahan kondisi lereng. "Jika masyarakat menemukan indikasi awal seperti retakan tanah atau tanda-tanda longsor lainnya, segera laporkan kepada pemerintah desa, kecamatan, BPBD, atau instansi terkait agar dapat dilakukan penanganan sedini mungkin," jelas Khristian.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dari BMKG, BPBD, maupun pemerintah daerah. Ini adalah langkah mitigasi menghadapi potensi bencana selama musim kemarau. "Kesiapsiagaan adalah kunci utama. Dengan meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah, diharapkan risiko bencana dapat diminimalkan sehingga masyarakat Bengkulu dapat menjalani musim kemarau dengan aman," ungkapnya.

Pada intinya, musim kemarau di Bengkulu tidak selalu berarti cuaca kering total. Hujan tetap bisa turun secara tiba-tiba, dan kombinasi tanah kering dengan hujan deras justru meningkatkan risiko longsor. Sementara itu, kelalaian kecil seperti membuang puntung rokok bisa berakibat fatal karena kondisi kering mempercepat penyebaran api. Kewaspadaan dan pelaporan dini menjadi dua hal yang ditekankan BPBD sebagai langkah paling efektif untuk mengurangi risiko bencana.

peringatan musim kemarautanah longsorkebakaran hutan dan lahankewaspadaanmitigasi bencanaBPBD Bengkulu

Komentar

Memuat komentar...