Hotspot Muratara Melonjak Jadi 335 Titik
Gambar atau konten salah?
Jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) meningkat drastis. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat sudah ada 335 titik panas tersebar di wilayah tersebut. Angka ini naik signifikan dibandingkan hari sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Muratara, Mugono, mengungkapkan pada 13 Juli 2026 pihaknya mendeteksi 27 hotspot. Pemantauan masih terus dilakukan hingga hari ini. "Daerah yang paling rawan kebakaran di Kecamatan Karang Dapo dan Kecamatan Rawas Ilir karena banyak lahan gambut," katanya pada Selasa, 14 Juli 2026.
Cuaca kering menjadi penyebab utama. Menurut Mugono, intensitas hujan di sebagian besar wilayah Sumatera Selatan berkurang. Kondisi ini membuat hotspot mudah muncul. "Maka dari itu kami terus melakukan patroli darat dan pemantauan udara agar setiap potensi kebakaran bisa ditangani sedini mungkin," ujarnya.
BPBD Muratara kini fokus pada langkah mitigasi. Mereka bersiap menghadapi fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada September hingga Desember 2026. "Baru tahap mitigasi. Seandainya El Nino benar-benar terjadi pada September hingga Desember nanti, kami pastikan embung-embung air memiliki ketersediaan air yang cukup," ungkap Mugono.
Ketersediaan air menjadi faktor krusial. Tanpa pasokan air yang memadai, pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan sulit dilakukan. BPBD memantau sejumlah embung, danau, dan anak sungai di Muratara secara berkala. "Pemantauan tersebut dilakukan secara berkala untuk memastikan debit air tetap mencukupi sebagai sumber pasokan air saat penanganan kebakaran," jelasnya.
Mugono juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan ini penting untuk menekan risiko karhutla selama musim kemarau. "Selama musim kemarau masyarakat diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar sebagai langkah menekan karhutla," imbaunya.
Data BPBD menunjukkan bahwa dua kecamatan paling rawan adalah Karang Dapo dan Rawas Ilir. Keduanya memiliki banyak lahan gambut yang mudah terbakar saat cuaca kering. Patroli darat dan pemantauan udara terus diperkuat agar setiap titik api bisa segera dipadamkan sebelum meluas.
Fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada akhir tahun menjadi kekhawatiran utama. Jika benar terjadi, musim kemarau akan lebih panjang dan kering dari biasanya. BPBD memastikan embung-embung air di Muratara siap digunakan sebagai sumber pasokan saat kebakaran terjadi.
Secara keseluruhan, peningkatan hotspot di Muratara menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini perlu diwaspadai. BPBD mengandalkan kombinasi patroli, pemantauan udara, dan kesiapan sumber daya air untuk mencegah karhutla meluas. Partisipasi masyarakat dengan tidak membakar lahan juga menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cek Bansos PKH Tahap 3 Mulai 20 Juli, Siapkan NIK
Wapres Cek PSEL Palembang, Sorot Dampak Lalu Lintas Sampah
GoldenEye Kembali Malam Ini, Film Bond Perdana Brosnan
Kapolres Muba Tinjau Titik Longsor, Minta Warga Alih Jalur
Harga Emas Antam Turun Rp2.000 per Gram
Gibran Tinjau Jembatan Musi V, Progres Capai 91,21 Persen
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
