IHSG Turun 3,44% Menjadi Tertekan di Asia Pasifik pada Kamis
Gambar atau konten salah?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam pada hari Kamis, 21 Mei 2026, menjadi yang paling tertekan di kawasan Asia Pasifik. Penurunan mencapai 3,44 % hingga level 6.102,63, menandai satu-satunya bursa di Asia yang bergerak di zona merah pada hari tersebut.
Menurut Hasan Fawzi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tekanan IHSG disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah rebalancing MSCI yang memengaruhi saham-saham besar Indonesia. Sebanyak 18 saham yang sebelumnya masuk ke indeks MSCI kini dikeluarkan, sehingga investor yang mengikuti indeks tersebut harus menyesuaikan portofolio.
Hasan menjelaskan, “Kalau kemarin memang kami mengonfirmasi ada korelasi betul dengan dampak dari rebalancing atau pengumuman MSCI, di mana saham-saham yang terdampak, yang masuk sebelumnya di dalam konstituen atau anggota indeks Standard dan juga small cap MSCI yang keluar itu betul-betul sudah mulai mengalami tekanan akibat kewajiban rebalancing portofolio terutama dari ETF maupun reksa dana pasif yang dimiliki oleh berbagai pihak yang mengacu pada indeks tersebut.”
Ia menambahkan bahwa pelemahan terhadap saham-saham ini tidak dapat dihindari. “Nanti kita lihat apakah net‑nya nanti akan ada net outflow atau net inflow dalam hal ini. Mungkin dan memang sepertinya sudah di persepsi pasar, besar kemungkinan tetap pada akhirnya akan ada sebagian net outflow dimaksud,” jelasnya. Menurutnya, penurunan indeks dapat berlanjut hingga keputusan pengeluaran 18 saham tersebut menjadi efektif setelah penutupan perdagangan pada 29 Mei 2026.
Selain pengumuman MSCI, tekanan IHSG juga dipicu oleh perubahan kebijakan domestik. Hasan mengakui bahwa kebijakan ekspor komoditas sumber daya alam (SDA) strategis melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membuat investor menyesuaikan kembali investasi mereka. Ia berharap pemerintah dapat memberikan informasi lebih rinci mengenai arah kebijakan tersebut agar investor mendapatkan kepastian.
“Saya kira pasti ya. Artinya, itu pasti direspons secara jangka pendek dan kami confirm dan berharap tentu pada saatnya apa yang menjadi policy yang digariskan oleh pemerintah, nanti akan ada penjelasan dan penjabaran secara lebih rinci termasuk pentahapannya dan kapan katakanlah implementasinya. Nah, ini juga tentu akan baik sehingga memberikan informasi yang lebih rinci tadi dan memberikan semakin kepastian arah pengembangan ke depan,” ujarnya.
Hasan juga menyoroti bahwa koreksi pada saham-saham besar masih berada dalam batas normal. Ia menyatakan, “Koreksi yang terjadi pada sejumlah saham besar juga masih dalam batas normal. Menurutnya, hanya saham terdampak pengumuman MSCI saja yang mengalami pelemahan hingga Auto Reject Bawah (ARB).”
Ia melanjutkan, “Jadi, ARB‑nya, ARB yang memang merespons itu juga. Nah sementara saham‑saham lainnya terjadi penurunan tapi tidak sampai menyentuh batas bawah, dan yang turun pun kami pastikan memang terkait dengan reaksi langsung investor atas perkembangan kebijakan baik domestik maupun perkembangan di global,” tambahnya.
Di sisi lain, pasar Asia-Pasifik secara keseluruhan menunjukkan sentimen positif. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 3,54 % pada pembukaan perdagangan, sementara Kospi Korea Selatan memperpanjang kenaikan awal hingga 7 %. Indeks S&P/ASX 200 Australia naik 1,62 %, dan CSI 300 China naik 1,67 %. Hang Seng Hong Kong menguat 0,24 %. Semua indeks ini terbuka lebih tinggi pada hari Kamis, sejalan dengan pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai negosiasi tahap akhir untuk menyelesaikan konflik dengan Iran.
Indeks Garuda, yang pernah menguat pada level 6.378,81 di pembukaan, melemah kembali. Penurunan ini menandai pergeseran sentimen investor yang kini lebih berhati-hati terhadap saham-saham yang terpengaruh oleh rebalancing MSCI dan kebijakan ekspor domestik.
Dalam konteks ini, pasar menunggu keputusan pemerintah mengenai kebijakan ekspor SDA dan pengaruhnya terhadap investor. Sementara itu, rebalancing MSCI tetap menjadi faktor utama yang memicu volatilitas, dengan 18 saham yang dikeluarkan menimbulkan tekanan pada portofolio ETF dan reksa dana pasif. Penurunan IHSG ini menunjukkan dinamika pasar yang sensitif terhadap perubahan kebijakan global dan domestik, serta pergerakan indeks internasional yang berlawanan arah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
