Kampung Kapitan: Peninggalan Tionghoa Menarik Lebaran Penuh Pengunjung
Gambar atau konten salah?
Kampung Kapitan, yang terletak di Jalan KH Abdullah Azhari, Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, Sumatera Selatan, adalah pemukiman etnis Tionghoa tertua di kota tersebut. Sejak sekitar tahun 1644, kawasan ini berdiri di tepi Sungai Musi, menjadi saksi sejarah panjang komunitas Tionghoa di Palembang.
Selama momen Idul Fitri, kunjungan ke kawasan ini meningkat secara signifikan, berbeda dengan hari biasa atau bulan Ramadan yang cenderung sepi. Suriyanto, pemilik generasi ke-14, menjelaskan bahwa jumlah pengunjung saat Lebaran dapat mencapai puluhan orang setiap harinya.
“Kalau Lebaran memang lebih ramai, bisa puluhan pengunjung dalam sehari. Mereka datang dari berbagai daerah di Sumatera Selatan, bahkan ada juga dari luar daerah seperti Jambi dan Bengkulu,” ujarnya.
“Kalau Ramadan sepi, begitu juga hari biasa. Kadang dalam sehari tidak ada pengunjung sama sekali,” katanya.
“Sejauh ini kalau Lebaran, pasti ada saja yang datang setiap hari,” sambungnya.
“Biasanya yang datang itu dari komunitas, organisasi, anak sekolah, sampai wisatawan juga banyak, terutama saat momen liburan seperti Lebaran,” ujarnya.
Pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk. Namun, pihak pengelola menyediakan kotak donasi bagi pengunjung yang ingin memberikan sumbangan secara sukarela. “Tidak ada tiket masuk, pengunjung hanya memberikan donasi seikhlasnya saja, kami sudah sediakan kotak donasi,” jelasnya.
“Tidak ada bantuan khusus dari pemerintah untuk perawatan kawasan tersebut, karena Kampung Kapitan belum ditetapkan sebagai cagar budaya. Untuk perawatan rumah-rumah tua ini, kami lakukan secara mandiri. Tidak ada biaya dari pemerintah karena statusnya belum cagar budaya,” ujarnya.
Pihak keluarga dihadapkan pada pilihan jika kawasan tersebut dijadikan cagar budaya. Namun, hal itu dinilai memiliki konsekuensi besar. “Di sini bukan hanya rumah, tapi juga ada tempat sembahyang dan pusaka keluarga yang tidak bisa dipindahkan. Kalau dikelola pemerintah, kami tidak tahu bagaimana nantinya untuk beribadah,” jelasnya.
Kampung Kapitan tetap menjadi tempat yang menarik bagi wisatawan dan komunitas lokal, meski belum mendapat status cagar budaya, sehingga pemeliharaan tetap dilakukan secara mandiri oleh keluarga pemilik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cek Bansos PKH Tahap 3 Mulai 20 Juli, Siapkan NIK
Wapres Cek PSEL Palembang, Sorot Dampak Lalu Lintas Sampah
GoldenEye Kembali Malam Ini, Film Bond Perdana Brosnan
Kapolres Muba Tinjau Titik Longsor, Minta Warga Alih Jalur
Harga Emas Antam Turun Rp2.000 per Gram
Gibran Tinjau Jembatan Musi V, Progres Capai 91,21 Persen
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
