Kebiasaan Etiket Makan Unik di 7 Negara: Panduan Wisata

Dwi H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 54 dibaca
Bisik.id
Kebiasaan Etiket Makan Unik di 7 Negara: Panduan Wisata

Gambar atau konten salah?

Setiap negara punya aturan makan yang berbeda. Bagi wisatawan, hal ini sering menimbulkan kebingungan. Saat menjelajah kuliner, selain rasa, etiket makan juga penting. Berikut tujuh contoh kebiasaan unik di beberapa negara.

Sumpit tidak boleh ditancapkan tegak di nasi – Jepang
Di Jepang, menancapkan sumpit secara vertikal di dalam piring nasi dianggap tabu. Tindakan ini menyerupai ritual pemakaman, sehingga bisa menimbulkan kesan duka. Selain itu, memindahkan makanan dari satu sumpit ke sumpit lain juga dihindari karena makna serupa. Jika perlu memindahkan, gunakan piring kecil sebagai perantara. Praktik ini menunjukkan rasa hormat terhadap simbolisme makanan di Jepang.

Cappuccino hanya diminum pagi – Italia
Di Italia, cappuccino biasanya hanya diambil saat sarapan. Setelah makan siang atau malam, minuman ini seringkali dianggap aneh. Warga setempat lebih suka espresso setelah makan besar, karena dianggap lebih ringan. Kebiasaan ini mencerminkan pola makan tradisional Italia yang menekankan hubungan antara minuman dan waktu makan.

Garpu tidak menjadi alat utama – Thailand
Berbeda dengan kebiasaan di banyak negara, di Thailand garpu tidak menjadi alat utama. Garpu hanya dipakai untuk mendorong makanan ke sendok. Sendok, bukan garpu, yang digunakan untuk menyuap makanan ke mulut. Menggunakan garpu langsung dianggap kurang sesuai dengan etiket setempat. Kebiasaan ini menunjukkan perbedaan dalam penggunaan alat makan di Asia Tenggara.

Tidak boleh menuang minuman sendiri – Korea Selatan
Budaya makan di Korea Selatan menekankan kebersamaan. Salah satu aturan penting adalah tidak menuang minuman untuk diri sendiri. Sebaliknya, orang diharapkan menuangkan minuman bagi orang lain di meja. Setelah itu, mereka akan menuangkan minuman untuk Anda sebagai bentuk saling menghormati. Praktik ini menegaskan nilai gotong‑royong dalam budaya Korea.

Makan dengan tangan kanan – India
Di banyak wilayah India, makan dengan tangan kiri dianggap tidak sopan. Tangan kiri diasosiasikan dengan aktivitas yang kurang bersih. Oleh karena itu, makan idealnya menggunakan tangan kanan, termasuk saat mengambil roti atau menyuap nasi. Aturan ini masih cukup ketat di berbagai daerah, mencerminkan nilai kebersihan dan kesopanan dalam budaya India.

Roti tidak disimpan di piring – Perancis
Di Perancis, roti seperti baguette biasanya tidak disajikan di atas piring. Roti diletakkan langsung di atas meja atau taplak. Selain itu, posisi tangan juga diperhatikan. Tangan sebaiknya tetap terlihat di atas meja, bukan disembunyikan di pangkuan selama makan. Kebiasaan ini menonjolkan kesederhanaan dan keanggunan dalam budaya makan Prancis.

Membalik ikan dilarang – China
Di beberapa wilayah China, membalik ikan saat makan dianggap membawa sial. Kepercayaan ini berkaitan dengan makna simbolik perahu yang terbalik. Sebagai gantinya, banyak orang memilih mengambil daging ikan tanpa membaliknya, atau bahkan membiarkan bagian bawah ikan tetap utuh. Praktik ini mencerminkan kepercayaan tradisional yang masih hidup di masyarakat China.

Setiap kebiasaan di atas mencerminkan nilai, sejarah, dan kepercayaan masyarakat setempat. Bagi wisatawan, memahami dan menghormati etiket makan ini tidak hanya menghindari kesalahpahaman, tetapi juga memperkaya pengalaman kuliner di luar negeri. Dengan memperhatikan detail kecil seperti posisi sumpit, waktu minum cappuccino, atau cara menuang minuman, perjalanan kuliner menjadi lebih bermakna dan terhubung dengan budaya lokal.

Sumpit JepangCappuccino ItaliaGarpu ThailandMinuman KoreaMakan tangan kanan IndiaRoti PerancisMembalik ikan China

Komentar

Memuat komentar...