Kelahiran Prematur dan Kematian Bayi Phthalate Plastik

Ani R. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 61 dibaca
Bisik.id
Kelahiran Prematur dan Kematian Bayi Phthalate Plastik

Gambar atau konten salah?

2 juta kasus kelahiran prematur dan 74.000 kematian bayi baru lahir di seluruh dunia pada tahun 2018 dikaitkan dengan dua bahan kimia yang sering dipakai untuk membuat plastik lebih lentur. Temuan ini muncul dari studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah.

Kimia yang diteliti adalah Di-2-ethylhexylphthalate (DEHP) dan diisononyl phthalate (DiNP). Keduanya termasuk dalam kelompok senyawa phthalates, yang dikenal luas sebagai “bahan kimia yang ada di mana‑mana” karena penggunaannya yang masif dalam produk sehari‑hari.

Phthalates sering ditemukan di mainan anak, wadah makanan, lantai vinyl, tirai kamar mandi, serta produk perawatan tubuh seperti parfum, sampo, dan losion. Selain itu, zat ini juga digunakan dalam plastik pembungkus makanan.

Ini adalah kelas bahan kimia yang berbahaya,” kata Leonardo Trasande, penulis utama studi, dikutip dari CNN. Ia menekankan pentingnya memastikan bayi tidak hanya lahir, tetapi juga lahir dalam kondisi sehat.

Bayi dikategorikan prematur jika lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, seperti gangguan pernapasan, keterlambatan perkembangan, hingga gangguan penglihatan dan pendengaran.

Para ilmuwan menduga phthalates dapat memicu kelahiran prematur melalui beberapa mekanisme. Salah satunya adalah gangguan pada fungsi plasenta, organ penting yang menyalurkan oksigen dan nutrisi dari ibu ke janin. Selain itu, zat ini juga dapat memicu peradangan yang berpotensi menyebabkan kontraksi dini.

Studi tersebut menganalisis data dari sekitar 200 negara dan wilayah. Hasilnya menunjukkan bahwa wilayah Afrika, Timur Tengah, dan Asia Selatan menanggung beban terbesar terkait dampak kesehatan akibat paparan phthalates.

Di sisi lain, pihak industri memiliki pandangan berbeda. American Chemistry Council menyatakan evaluasi yang dilakukan oleh otoritas lingkungan Amerika Serikat menemukan penggunaan DiNP tidak menimbulkan risiko yang tidak wajar bagi kesehatan manusia maupun lingkungan.

Meski demikian, sejumlah peneliti menilai perlunya langkah lebih tegas dalam mengatur penggunaan bahan kimia dalam plastik. Mereka juga mendorong adanya perjanjian global untuk membatasi zat berbahaya dalam produk plastik.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat disarankan untuk mengurangi penggunaan plastik, terutama untuk makanan dan minuman panas, serta memilih produk dengan label bebas phthalates.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa paparan bahan kimia dalam kehidupan sehari‑hari dapat berdampak besar terhadap kesehatan, bahkan sejak dalam kandungan.

phthalatesDEHPDiNPkelahiran prematurkematian bayiplastikbahan kimiakesehatan

Komentar

Memuat komentar...