Kiai Wongsoniti: Warisan Makam di Desa Sumyang Terjaga
Gambar atau konten salah?
Kiai Wongsoniti menjadi nama yang tak terpisahkan dari kehidupan warga Desa Sumyang, Kecamatan Jogonalan, Klaten. Legenda mengatakan bahwa nama desa itu berasal dari kisah sederhana seorang tokoh yang sekaligus kerabat dan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta.
Di utara desa terletak kompleks permakaman berlabel Hastana Wongsoniten. Pintu gerbangnya terbuat dari besi, dan temboknya dihiasi corak gapura Keraton. Di atas pintu, sebuah batu marmer dua lapis menuliskan huruf Jawa, lalu di atasnya angka 1815. Kompleks ini dibagi menjadi tiga lapisan, masing‑masing dibedakan oleh bentuk nisannya.
Di tengah pemakaman terdapat deretan makam keluarga Kiai Wongsoniti. Bangunan ini berbentuk tembok joglo, dengan sekitar delapan makam batu kapur putih yang dihias ukiran dan langgam Tembayat. Di bawah setiap nisan ada papan nama: Kiai Wongsoniti I sampai IV, serta BRA Wongsoniti Putri PB IV dan raja Kasunanan Surakarta. Semua makam ini masih terawat dengan baik.
"Nama Desa Sumyang itu dari para sesepuh ada hubungannya dengan Kasunanan Surakarta. Putri PB IV itu kan dimakamkan di Hastana Wongsoniten sini," tutur Kades Sumyang, Kecamatan Jogonalan, Suwito pada Sabtu (09 May 2026) siang.
Menurut Suwito, Kiai Wongsoniti dikenal sebagai kerabat Keraton, namun ia menjalani kehidupan sederhana di desa, mencari batu koral. Suwito menceritakan bahwa suatu hari utusan raja bernama Ki Gandek datang ke desa. Utusan itu tidak menemukan Kiai Wongsoniti, lalu diberitahu bahwa beliau berada di sungai. Setelah menunggu di rumahnya, Kiai Wongsoniti memanggil utusan tersebut untuk menunggu di rumahnya sebentar. Namun, ketika siang tiba, utusan belum pulang. Kiai Wongsoniti kemudian menjemput utusan di sungai. Setelah itu, ia mengatakan bahwa ia sudah pergi ke Keraton dan kembali ke sungai. Suwito menyebut cerita ini mungkin mitos, namun menambahkan bahwa Kiai Wongsoniti memiliki ajian yang memungkinkan ia pergi cepat ke Keraton dan kembali lagi.
"Makanya saat ditimbali (diminta datang) oleh Sinuhun, kesusu menyang (buru-buru berangkat). Dari kata kesusu menyang itulah kemudian diucapkan Sumyang, jadilah nama Desa Sumyang," jelas Suwito.
Desa Sumyang kini terdiri dari delapan RW dan 16 RT, dengan enam dukuh. Warganya aktif di berbagai bidang, dan makam Kiai Wongsoniti tetap menjadi tempat peringatan yang terawat.
Yohanes Sudaryanto, pegiat sejarah Klaten yang sering meneliti nisan makam, mengaku pernah mengunjungi Hastana Wongsoniten. Ia menilai nisan tersebut sebagai contoh model Tembayatan atau Bayatan pada tahun 1800-an. Sudaryanto menambahkan, "Kalau sejarahnya tokoh tersebut saya kurang paham, kalau Mbah Wongsoniti itu setahu saya mendapatkan garwa (istri) dari putri PB dari istri selir."
Keberadaan Kiai Wongsoniti dan makamnya tetap menjadi bagian penting dalam sejarah lokal. Meskipun ia memiliki hubungan dengan Keraton, kehidupannya di desa tetap sederhana, dan warisannya terus dikenang melalui pemeliharaan Hastana Wongsoniten yang masih terjaga hingga kini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ossy Dermawan: Solusi Lahan Sawah di Jawa Tengah 2026
Seleksi PPPK Guru Sekolah Rakyat 2026 Buka 3-15 Juni: Lulusan PPG
Jembatan Batang A: Lalu Lintas Satu Lajur, Rute Alternatif
Gubernur Jateng Atur Ulang Anggaran 2026 untuk Perbaikan Jalan
SPMB Jateng 2026: Pendaftaran Murid Baru Buka Resmi
Kobra Jawa Didampingi Relawan Dilepas dari Rumah di Klaten
Berita Terbaru
Lazada Ungkap Produk Terlaris Libur Sekolah + Diskon 6.6
Kementerian Perhubungan Realisasi 32,27% Anggaran Tahun 2026
BEI: Indonesia Tetap Emerging Market, Batal Rumor Frontier
IHSG Turun 2%+; LQ45 Laba Naik 29,9%, Investor Fokus Fundamental
Rumor Pengunduran Purbaya Yudhi Sadewa, Reshuffle Kabinet?
