Niat Puasa Qadha Ramadan: Langkah Penting Menjamin Sahnya

Tika M. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 88 dibaca
Bisik.id
Niat Puasa Qadha Ramadan: Langkah Penting Menjamin Sahnya

Gambar atau konten salah?

Niat puasa qadha Ramadan merupakan langkah penting dalam melaksanakan ibadah pengganti puasa yang tertinggal. Dalam ajaran Islam, niat termasuk rukun puasa yang menentukan sah atau tidaknya ibadah tersebut.

Hal ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab: إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ (HR Bukhari dan Muslim). Artinya: “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan…”

Dari hadits tersebut, para ulama sepakat bahwa niat wajib dilakukan sebelum menjalankan puasa, termasuk puasa qadha Ramadhan.

Berikut bacaan niat puasa qadha Ramadan lengkap dengan tulisan Arab, latin, dan artinya:

Arab: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلهِ تَعَالَى

Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhā'i fardhi syahri Ramadhāna lillâhi ta'âlâ

Artinya: “Aku berniat untuk mengqadha puasa Bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT.”

Dalam Mazhab Syafii, niat sebenarnya cukup dilakukan dalam hati. Namun, melafalkannya dengan lisan dianjurkan karena dapat membantu mempertegas niat tersebut.

Puasa qadha Ramadan dilakukan di luar bulan Ramadan sebagai pengganti hari yang ditinggalkan. Pelaksanaannya sama seperti puasa wajib pada umumnya.

Untuk niat, waktunya dimulai sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar. Jika seseorang belum berniat hingga fajar tiba, maka puasanya dianggap tidak sah. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW: مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ (HR Ad-Daru Quthni dan Al-Baihaqi). Artinya: “Barangsiapa yang belum berniat puasa sebelum terbit fajar, maka tidak ada puasa baginya.”

Ketentuan ini menjadi pembeda antara puasa wajib dan puasa sunnah. Pada puasa sunnah, niat masih diperbolehkan setelah fajar selama belum melakukan hal yang membatalkan puasa.

Berikut dua versi doa berbuka puasa yang bisa diamalkan:

1. Versi Pertama
Arab: ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ
Latin: Dzahabaz zhama'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah
Artinya: “Rasa dahaga telah hilang, kerongkongan telah basah dan pahala telah ditetapkan, insya Allah.”

2. Versi Kedua
Arab: اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
Latin: Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa'alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka.”

Perintah mengganti puasa Ramadhan bersifat wajib, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an bagi muslim yang meninggalkannya karena alasan syar'i. Oleh karena itu, memahami niat hingga waktu pelaksanaannya menjadi hal penting agar ibadah tetap sah dan diterima.

Artikel ini ditulis oleh Mutiara Helia Praditha peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker.

Dengan memahami bahwa niat harus dipikirkan sebelum fajar dan diucapkan, serta mengikuti doa yang tepat, ibadah puasa qadha dapat dilaksanakan dengan benar. Hal ini memastikan bahwa setiap hari yang tertinggal tetap terisi dengan ibadah yang sah dan diterima.

puasa qadhaniatRamadanRasulullahfajardoaSyafi'i

Komentar

Memuat komentar...