Paylater Tembus 32,8 Juta Rekening, NPL Turun

Endah K. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Paylater Tembus 32,8 Juta Rekening, NPL Turun

Gambar atau konten salah?

Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater makin banyak dipakai masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat layanan ini punya prospek cerah. Sebab, ekosistem ekonomi digital terus berkembang dan aksesnya makin gampang.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, bilang orang-orang suka paylater karena prosesnya cepat, gampang, dan efisien. Ini jadi alternatif buat belanja konsumtif, menggantikan kartu kredit. "Kemudian juga perilaku konsumsi masyarakat, khususnya generasi muda itu menunjukkan kecenderungan, menjadikan cicilan berbunga jangka pendek itu sebagai bagian dari gaya hidup," ujar Dian dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juli 2026, Selasa (4 Agustus 2026).

Dian nambain, naiknya pemakaian paylater juga menunjukkan cara rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari lewat utang jangka pendek. "Dari perspektif ekonomi makro, meningkatnya penggunaan kredit pay later dapat mencerminkan upaya rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan konsumsi utang jangka pendek," katanya.

Data OJK menunjukkan, baki debet paylater perbankan sampai Juni 2026 mencapai Rp 30,71 triliun. Angka ini naik 33,54% dibanding tahun lalu. Tapi, pertumbuhannya sedikit melambat dari Mei 2026 yang sebesar 37,72%.

Jumlah rekening paylater di perbankan sudah tembus 32,8 juta rekening. Rata-rata baki debet per rekening sekitar Rp 940 ribu. Meski terus naik, OJK bilang porsi paylater terhadap total kredit perbankan masih kecil, cuma 0,34%. "Jumlah rekening pay later perbankan itu sudah mencapai angka 32,80 juta rekening dengan rata-rata bagi debit untuk setiap rekening itu sebesar 0,94 juta," jelas Dian.

Dari sisi risiko, kualitas pembiayaan paylater masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau NPL cuma 2,36%. Angka ini turun dibanding Mei 2026 yang ada di 2,50%. "Risiko kredit dari pay later perbankan pada Juni 2026 itu masih terjaga dengan rasio NPL sebesar 2,36%. Ini relatif turun jika dibandingkan Mei 2026 yang mencapai angka 2,50%. Di samping itu juga pertumbuhan bagi debit pay later didorong terutama oleh bank KBMI 1 dan KBMI 3 yang mampu mencatat pertumbuhan double digit," tutup Dian.

Paylater makin jadi bagian dari gaya hidup, terutama anak muda. Tapi risikonya tetap dipantau. NPL yang turun jadi tanda positif. Meski begitu, porsinya terhadap total kredit perbankan masih kecil. Artinya, layanan ini belum dominan di sektor perbankan secara keseluruhan.

paylaterOJKkreditgaya hidupNPLpertumbuhanperbankan

Komentar

Memuat komentar...