Pemerintah Diskusi IFC Bali, BI Tegaskan Stabilitas Rupiah
Gambar atau konten salah?
Pada pagi hari, Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia, bertemu dengan Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan; Danantara Rosan Roeslani, CEO BPI; dan Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner OJK. Pertemuan berlangsung di kantor Kemenko Perekonomian di Jakarta Pusat, dimulai pukul 10.30 dan berakhir sekitar 12.00 WIB.
Agenda utama adalah pembangunan Indonesia Financial Center (IFC) di Bali. Para pejabat mendiskusikan rencana, potensi, dan langkah strategis untuk menguatkan posisi Indonesia sebagai pusat keuangan regional.
Selama 1,5 jam, Perry mendengarkan pertanyaan tentang pelemahan rupiah terhadap dolar. Nilai tukar sudah menembus 17.400/dolar AS. Meskipun banyak yang menuntut penjelasan, Perry hanya tersenyum, melambaikan tangan, dan melanjutkan perjalanan menuju mobil dinas.
Ketika ditanya, ia hanya mengucapkan "terima kasih" berulang kali sebelum masuk ke mobil, meninggalkan ruang rapat tanpa komentar lebih lanjut.
Pernyataan tersebut menegaskan sikap BI bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih berada dalam kisaran yang diharapkan, meski tekanan global tetap ada.
Menurut Erwin G. Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, pergerakan rupiah sejalan dengan mata uang negara lain di tengah ketegangan geopolitik. Ia menulis: "Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," pada Selasa, 5 Mei 2026.
Erwin menambahkan data: Philippine Peso turun 6,58%, Thailand Baht 5,04%, India Rupee 4,32%, Chile Peso 4,24%, Indonesia Rupiah 3,65%, dan Korea Won 2,29%.
Ia menegaskan BI akan terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan baik dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya. BI akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Erwin menutup dengan kata: "Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global," menegaskan komitmen BI terhadap kestabilan mata uang.
Peristiwa ini menyoroti peran Bank Indonesia dalam menanggapi dinamika nilai tukar dan menegaskan strategi intervensi yang berkelanjutan untuk menjaga kestabilan ekonomi Indonesia.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
IHSG Dibuka Melemah, Anjlok 1,57 Persen ke 4.827
BRI Buka Galeri E-Channel di JPM Dukuh Atas untuk Komuter
Kemenkeu Tolak Jadi Pemegang Saham BEI
Pandu Sjahrir Lepas Saham Supra Sekuritas Sejak Juni
OJK Paksa Pengembalian Dana Rp5 Miliar Kasus Manipulasi Saham
LPS: 14 BPR Tutup Akibat Tata Kelola Buruk
