Pemerintah Siapkan Rp17 Triliun untuk Kawasan Peternakan Terpadu

Wati N. · 3 min baca · 1 jam lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Siapkan Rp17 Triliun untuk Kawasan Peternakan Terpadu

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Indonesia tengah merancang pembangunan kawasan peternakan yang terpadu, dari proses awal hingga produk akhir. Tujuannya jelas: memperkuat ketahanan pangan dan memastikan pasokan ayam, telur, serta susu untuk kebutuhan dalam negeri tidak terputus. Pada fase perdana, proyek ini akan direalisasikan di lima lokasi berbeda.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Tujuannya untuk memperkokoh industri peternakan nasional. Pemerintah telah mengalokasikan dana sekitar Rp 17 triliun untuk mengembangkan ekosistem peternakan di berbagai daerah.

"Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan," ujar Amran dalam pernyataannya pada Minggu, 27 September 2026.

Amran memaparkan, tahap awal pembangunan akan mencakup lima kawasan yang tersebar di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Untuk merealisasikan kelima kawasan ini, pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 2,2 triliun.

"Anggarannya sudah turun, beliau (Presiden) sudah tanda tangan Rp 2,2 triliun untuk lima. Total anggaran yang dipersiapkan pemerintah sekitar Rp 17 triliun, tetapi bukan di sini saja," tambahnya.

Amran menegaskan, pembangunan di lima wilayah tersebut tengah dikebut dan ditargetkan rampung pada tahun depan. Menurutnya, dukungan anggaran dan administrasi telah diselesaikan, sehingga pekerjaan di lapangan bisa segera dipercepat.

"Sudah bor-bor. Targetnya tahun depan selesai. Administrasinya sudah selesai, anggarannya juga sudah selesai. Yang penting selesai dulu," tambahnya.

Kawasan peternakan ini dirancang sebagai ekosistem yang terintegrasi. Tidak hanya memproduksi hasil peternakan, tetapi juga membangun rantai pasok yang lengkap. Mulai dari pakan ternak, pembibitan atau DOC (Day Old Chicken), budidaya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan produksi susu.

Integrasi ini sekaligus diarahkan untuk memperkuat pasokan pangan bergizi bagi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah mendorong agar kebutuhan ayam, telur, dan susu dapat dipenuhi melalui penguatan produksi dalam negeri.

"Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu," imbuh Amran.

Penguatan industri pakan menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem ini. Jagung, sebagai bahan baku utama pakan, akan didorong berasal dari sentra produksi di sekitar kawasan peternakan.

"Ayam butuh pakan. Pakannya dari jagung. Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti," kata Amran.

Menurutnya, pembangunan pabrik pakan di dekat sentra produksi jagung akan membuat rantai pasok lebih efisien dan menekan biaya logistik. Jagung tidak perlu dikirim ke luar wilayah untuk diolah menjadi pakan, kemudian dikirim kembali ke sentra peternakan.

"Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan," ujarnya.

Selain pabrik pakan, pemerintah juga membangun fasilitas pembibitan atau DOC untuk memperkuat ketersediaan bibit ayam di dalam negeri. Dengan adanya fasilitas tersebut, kebutuhan DOC dapat dipenuhi lebih dekat dengan sentra produksi.

"Pabrik pakan juga akan dibangun lengkap DOC-nya, anak ayam. Tidak perlu lagi mengambil ke mana-mana. Ambil dari sini. Lengkap," kata Amran.

Sementara itu, pengembangan sapi perah diarahkan untuk memperkuat produksi susu nasional. Menurut Amran, peningkatan ketersediaan susu menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, terutama anak-anak.

"Peternakan sapi itu sapi perah, susu. Kan butuh susu anak-anak supaya tinggi besar nanti," terangnya.

Amran menegaskan, pengembangan ayam, telur, dan susu bukan hanya berkaitan dengan peningkatan produksi pangan, tetapi juga investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.

"Kenapa? Minum susu, telur, ayam dan seterusnya. Itu mimpi Bapak Presiden. Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan, sehingga mencapai Indonesia Emas," ujar Amran.

Di Sulawesi Selatan, salah satu kawasan pengembangan tersebut berada di Bone dengan luas sekitar 150 hektare. Pembangunan kawasan ini diharapkan menjadi bagian dari penguatan rantai pasok peternakan sekaligus membuka aktivitas ekonomi baru di wilayah sekitar.

Amran menekankan, pembangunan ekosistem peternakan dilakukan dengan pendekatan terintegrasi agar manfaatnya tidak berhenti pada produksi, tetapi juga memperkuat pasar bahan baku, industri pengolahan, distribusi, hingga penyerapan produk peternakan.

"Lokal lah. Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja," ucap Amran.

Dengan pembangunan ekosistem dari hulu hingga hilir, pemerintah mendorong terbentuknya rantai pasok peternakan yang lebih efisien. Langkah ini diharapkan memperluas pasar bagi jagung petani, memperkuat industri pakan dan pembibitan, serta meningkatkan kapasitas produksi ayam, telur, dan susu untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi nasional.

Proyek ambisius ini pada dasarnya adalah upaya pemerintah untuk membangun kemandirian pangan. Dengan memadukan produksi pakan, bibit, dan peternakan dalam satu kawasan, biaya logistik bisa ditekan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu jaminan pasar utama bagi hasil produksi, sehingga peternak memiliki kepastian dalam berusaha.

peternakan terpaduketahanan panganpakan ternakDOCsusuMakan Bergizi Gratis

Komentar

Memuat komentar...