Pemerintah Sumsel Peringatkan Risiko Penyakit Selama Kemarau

Rudi H. · 3 min baca · 1 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
Pemerintah Sumsel Peringatkan Risiko Penyakit Selama Kemarau

Gambar atau konten salah?

Dinas Kesehatan Sumatera Selatan (Dinkes Sumsel) mengingatkan masyarakat bahwa beberapa penyakit dapat meningkat selama musim kemarau. Pemerintah daerah meminta warga menerapkan pola hidup bersih dan sehat untuk mencegah penyakit yang sering muncul ketika cuaca panas dan kering.

Musim kemarau di Sumsel biasanya Mei-Oktober. Cuaca panas, kelembaban rendah, air terbatas, dan debu banyak. Kondisi ini membuat beberapa penyakit naik kasusnya, kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogatiyah, pada 02 Juni 2026.

Menurut Ira, demam berdarah dengue (DBD) tetap menjadi perhatian. Kasusnya diperkirakan naik pada awal kemarau dan saat pancaroba terjadi. Meski identik dengan musim hujan, kasus DBD juga berpotensi meningkat saat kemarau. Hal ini karena nyamuk Aedes aegypti tetap dapat berkembang biak di tempat penampungan air bersih seperti bak mandi, drum, maupun dispenser, jelasnya.

ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) juga menjadi fokus. Sumsel rawan kabut asap dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kemarau panjang. Pada kasus ini, anak dan lansia paling rentan. Untuk kasus laporan ISPA pada Mei belum kita terima dari Dinkes kabupaten/kota, nanti tanggal 10 Juni. Asap akibat karhutla tetap kita waspadai menjadi penyumbang kasus ISPA di Sumsel, ungkap Ira.

Diare dan tipes juga menjadi perhatian. Keterbatasan dan penurunan kualitas air bersih saat musim kemarau dapat meningkatkan risiko penyakit ini. Bakteri seperti E. coli dan Salmonella dapat masuk ke tubuh melalui makanan atau minuman yang kurang higienis. Risiko penularan meningkat jika kebersihan makanan dan minuman tidak terjaga dengan baik, tambahnya.

Konjungtivitis atau mata merah perlu diwaspadai karena debu, asap, dan angin kering. Penyakit ini mudah menular melalui kontak langsung, termasuk penggunaan handuk secara bergantian maupun tangan yang terkontaminasi.

Selanjutnya, heatstroke dan heat exhaustion menjadi risiko. Suhu udara di Palembang dan wilayah Sumsel lainnya dapat mencapai lebih dari 34 derajat Celsius pada siang hari, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi, heat exhaustion, hingga heatstroke. Khususnya masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan seperti petani, pedagang, pekerja lapangan, dan pelajar, ia jelaskan. Gejalanya meliputi pusing, mual, kulit terasa panas dan kering, hingga penurunan kesadaran atau pingsan.

Keterbatasan air bersih juga dapat menyebabkan penyakit kulit seperti scabies, kurap, dan panu. Karena frekuensi mandi dan menjaga kebersihan diri berkurang, kondisi tersebut memudahkan pertumbuhan jamur maupun penyebaran tungau penyebab penyakit kulit. Asrama, pesantren, kos mahasiswa di Palembang sering ditemukan kasusnya, kata Ira.

Penyakit terakhir yang perlu diwaspadai adalah campak dan rubella. Meski bukan penyakit yang secara langsung dipicu musim kemarau, campak dan rubella tetap perlu diwaspadai. Sebab, aktivitas masyarakat cenderung lebih banyak dilakukan di dalam ruangan, sehingga kondisi ini dapat mempercepat penularan penyakit melalui droplet.

Faktor yang membuat Sumsel rentan terhadap penyakit-penyakit tersebut adalah kondisi iklim dan geografis, beberapa daerah masih sulit akses air bersih, kepadatan penduduk, aktivitas masyarakat, dan perilaku. Untuk mencegah berbagai penyakit tersebut, masyarakat diminta menerapkan langkah-langkah pencegahan sederhana. Musim kemarau bukan untuk ditakuti, tetapi harus dihadapi dengan kesiapan dan kewaspadaan. Jika mengalami gejala penyakit, segera periksa ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat,

Kesimpulannya, Dinkes Sumsel menegaskan bahwa kesadaran dan tindakan preventif dapat mengurangi dampak penyakit selama musim kemarau. Masyarakat diharapkan tetap menjaga kebersihan diri, memanfaatkan air bersih secara bijak, dan memperhatikan lingkungan sekitar untuk meminimalisir risiko kesehatan.

Dinkes Sumselmusim kemaraudemam berdarah dengueISPAkabut asapkarhutlaheatstrokecampak

Komentar

Memuat komentar...