Pengusaha Diundang Jadi Solusi Kebakaran Hutan 2026

Nita W. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 90 dibaca
Bisik.id
Pengusaha Diundang Jadi Solusi Kebakaran Hutan 2026

Gambar atau konten salah?

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago mengajak pemegang konsesi kehutanan, perkebunan, dan pertambangan menjadi bagian dari solusi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ia menekankan bahwa perusahaan harus memastikan kesiapan sarana pencegahan dan penanggulangan di wilayah operasional masing-masing.

“Jadi, saya minta dunia usaha juga menjadi bagian solusi penanganan karhutla,” ujar Djamari saat Apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Nasional Tahun 2026 di Griya Agung, Palembang, pada 06 May 2026.

Apel tersebut dirancang untuk menghadapi potensi musim kemarau yang lebih kering dan panjang akibat fenomena El Nino. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, musim kemarau 2026 di Indonesia akan berlangsung bertahap mulai 01 April 2026, dengan puncak pada 01 Agustus 2026. Fenomena El Nino diprediksi berkembang pada periode 01 Juli 2026 hingga 01 September 2026, yang berpotensi memperparah kondisi kekeringan dan meningkatkan risiko karhutla.

Di dalam apel siaga, sekitar 1.600 personel gabungan hadir. Mereka terdiri dari TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, berbagai instansi pemerintah, dunia usaha, serta kelompok masyarakat peduli api. Djamari menekankan bahwa pengendalian karhutla harus dilakukan lebih dini, cepat, terpadu, dan tegas, dengan mengutamakan pencegahan sebelum api meluas.

Selama acara, pemerintah secara resmi mereaktivasi desk koordinasi penanggulangan karhutla nasional 2026. Langkah ini bertujuan memperkuat koordinasi, pengendalian, pemantauan, penegakan hukum, dan komunikasi publik secara nasional.

APP Group bersama mitra pemasoknya di Sumsel turut berpartisipasi. Mereka menampilkan kesiapan sumber daya manusia, teknologi, dan peralatan pemadaman. Dari Regu Penanggulangan Kebakaran (RPK) inti, Tim Reaksi Cepat (TRC), perangkat pemadam, drone pemantau titik api, Automatic Weather Station (AWS), kendaraan patroli, hingga sistem komunikasi terintegrasi. Helikopter APP Group juga melakukan patroli udara di sekitar lokasi apel sebagai bagian dari simulasi kesiapsiagaan.

Direktur APP Group Suhendra Wiriadinata menjelaskan bahwa APP Group bersama mitra pemasoknya di Sumsel yaitu PT Bumi Mekar Hijau, PT Bumi Andalas Permai, PT SBA Wood Industries, PT Rimba Hutani Mas, PT Sumber Hijau Permai, PT Bumi Persada Permai, dan PT Tri Pupajaya mengedepankan pendekatan Integrated Fire Management (IFM) yang berfokus pada pencegahan, persiapan, deteksi dini, dan respon cepat.

“Melalui pendekatan Integrated Fire Management, kami memastikan seluruh upaya penanggulangan karhutla dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pencegahan berbasis masyarakat, pemantauan berbasis teknologi, hingga kesiapan respon cepat di lapangan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pencegahan karhutla tidak dapat dilakukan secara sendiri. “Namun, kami meyakini bahwa pencegahan karhutla tidak dapat dilakukan secara sendiri. Dibutuhkan kolaborasi erat dengan pemerintah, aparat, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan. Semangat gotong royong dan nilai-nilai luhur kebersamaan harus terus kita hidupkan, agar upaya pencegahan dapat berjalan efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.

Di wilayah operasional mitra APP Group di Sumsel, khususnya di OKI, Banyuasin, dan Musi Banyuasin, upaya pencegahan dilakukan melalui program Desa Makmur Peduli Alam (DMPA) yang telah berjalan di 31 desa. Program ini melibatkan berbagai pihak, termasuk TNI/Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat melalui kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) yang berjumlah 633 orang. Kegiatan meliputi patroli terpadu, sosialisasi, dan pengelolaan lahan tanpa bakar.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan, mitra pemasok APP Group di Sumsel telah menyiagakan 907 personel RPK dan 48 personel Tim Reaksi Cepat, didukung 3 helikopter untuk patroli dan 2 helikopter untuk water bombing, 2 unit airboat dan 84 speedboat untuk wilayah lahan basah, serta 22 mobil patroli, 27 truk pemadam, dan 155 motor patroli di darat. “Kami mengajak semua stakeholder untuk berkolaborasi dan bersinergi dalam mencegah dan menanggulangi potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan,” tambah Suhendra.

Deteksi dini juga diperkuat melalui 40 menara api, 81 menara mini portable, 87 pos pantau, serta dukungan drone dan CCTV. Seluruh pemantauan terintegrasi dalam 31 situation room yang beroperasi 24 jam dan terhubung secara real‑time berbasis data satelit.

Dengan kesiapan sumber daya yang terintegrasi serta kolaborasi lintas sektor, diharapkan potensi karhutla dapat diantisipasi sejak dini, terutama di tengah ancaman El Nino yang diperkirakan meningkatkan risiko kebakaran pada tahun ini.

Kesimpulannya, upaya bersama antara pemerintah, dunia usaha, aparat, dan masyarakat menjadi kunci menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan. Melalui pendekatan terintegrasi, deteksi dini, dan respon cepat, potensi kerusakan dapat dikurangi, sekaligus melindungi lingkungan dan kehidupan masyarakat di wilayah Sumsel.

KarhutlaEl NinoAPP GroupIntegrated Fire ManagementPatroli UdaraRPKSistem Komunikasi Terintegrasi

Komentar

Memuat komentar...