Pesta Sekura Lampung Barat: Ribuan Menari di Jalan
Gambar atau konten salah?
Pesta Budaya Sekura bergemuruh di jalan‑jalan Lampung Barat pada 22 Maret 2026. Ribuan orang menumpah ruah, menari, dan menampilkan kostum berwarna‑warna. Tradisi ini selalu hadir setiap 2 Syawal atau pada hari kedua Idul Fitri. Di Bumi Beguai Jejama Sai Betik, Sekura bukan sekadar perayaan. Ia menjadi ruang temu, tempat masyarakat melepas rindu setelah Ramadan, sekaligus merawat warisan leluhur yang hidup ratusan tahun.
Sejak pagi, titik‑titik seperti Padang Dalom dan Way Mengaku di Kecamatan Balik Bukit, hingga Kenali di Belalau dan wilayah Batu Brak, sudah dipadati warga. Mereka datang bukan hanya untuk menonton, tapi juga mengambil bagian dalam perayaan yang penuh kejutan.
Parade utama tentu saja para peserta Sekura. Dengan topeng menutup wajah, identitas mereka terbuang. Tidak ada sekat sosial; semua membaur dalam satu suasana yang sama: gembira. Sekura Kamak tampil bebas, nyeleneh, bahkan cenderung jenaka. Kostumnya tak jarang terbuat dari pakaian lusuh, aksesoris unik, hingga benda‑benda tak biasa yang memancing tawa penonton. Sementara Sekura Betik hadir dengan nuansa berbeda. Lebih rapi dan elegan, mereka mengenakan kain miwang khas Lampung Barat lengkap dengan atribut tradisional yang mempertegas identitas budaya Sekala Bekhak.
Dua wajah Sekura itu justru menjadi daya tarik tersendiri. Kontras, namun berpadu dalam harmoni yang menggambarkan keberagaman ekspresi masyarakat setempat.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Yang penting tetap menjunjung etika,” ujarnya Khoi, peserta dari Batu Brak yang tergabung dalam kelompok Sekura Anker Squad. Ia dan kelompoknya hampir tak pernah absen. Setiap tahun, mereka hadir dengan konsep kostum baru memadukan unsur tradisional dengan sentuhan kreativitas modern. “Sekura ini sudah jadi identitas kami. Di mana pun digelar, kami pasti ikut meramaikan sekaligus mengenalkan ke orang luar,” tambahnya.
Rama, peserta asal Balik Bukit, mengaku sudah mengenal Sekura sejak kecil. “Dari kecil sudah ikut, sampai sekarang masih. Kita orang Lampung Barat harus bangga, ini budaya kita,” katanya. Bagi Rama, keterlibatannya adalah bentuk kecintaan. Ia berharap generasi muda tak sekadar jadi penonton, tapi ikut menjaga agar tradisi ini tetap hidup.
Tak hanya warga lokal, pesona Sekura juga menarik perhatian para perantau yang tengah mudik. Deni, warga Bandar Lampung, sengaja menyempatkan diri datang. “Biasanya cuma lihat di media sosial, sekarang bisa lihat langsung. Memang keren,” ujarnya. Rika, pengunjung asal Pesisir Barat, terkesan dengan kreativitas para peserta yang mampu menyuguhkan pertunjukan unik sekaligus menghibur. Menurutnya, Sekura bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan. “Harus terus dilestarikan, apalagi oleh generasi muda. Jangan sampai hanya jadi acara tahunan saja,” katanya.
Di balik topeng‑topeng itu, tersimpan filosofi mendalam. Sekura mengajarkan tentang kesetaraan: di balik penutup wajah, semua manusia adalah sama. Tidak ada perbedaan status, semua larut dalam kebersamaan. Lebih dari itu, Sekura juga menjadi medium kritik sosial. Disampaikan lewat simbol, kostum, dan tingkah laku, pesan‑pesan itu hadir tanpa menggurui, namun tetap mengena.
Ketika sore mulai turun, keramaian belum juga surut. Tawa masih terdengar, langkah kaki masih menari di jalanan. Sekura kembali membuktikan dirinya bukan sekadar tradisi. Ia adalah denyut nadi budaya Lampung Barat yang terus hidup, berkembang, dan selalu punya cara untuk memikat siapa saja yang datang.
Pesta Budaya Sekura tetap menjadi wadah bagi masyarakat Lampung Barat untuk mengekspresikan kebersamaan, menghargai warisan, dan mengajak generasi muda menjaga tradisi.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cek Bansos PKH Tahap 3 Mulai 20 Juli, Siapkan NIK
Wapres Cek PSEL Palembang, Sorot Dampak Lalu Lintas Sampah
GoldenEye Kembali Malam Ini, Film Bond Perdana Brosnan
Kapolres Muba Tinjau Titik Longsor, Minta Warga Alih Jalur
Harga Emas Antam Turun Rp2.000 per Gram
Gibran Tinjau Jembatan Musi V, Progres Capai 91,21 Persen