Puasa 1 Muharram: Keutamaan Penghapusan Dosa Masa Awal Tahunan

Ika P. · 4 min baca · 1 jam lalu · 19 dibaca
Bisik.id
Puasa 1 Muharram: Keutamaan Penghapusan Dosa Masa Awal Tahunan

Gambar atau konten salah?

1 Muharram adalah hari pertama bulan Muharram, bulan pertama dalam kalender Hijriah. Hari ini sering dijadikan titik awal bagi umat Islam untuk memulai tahun baru dengan ibadah. Salah satu ibadah yang banyak dilakukan pada hari ini adalah puasa sunnah, yang memiliki keutamaan khusus.

Menurut buku Menggapai Berkah di Bulan‑bulan Hijriyah karya Siti Zumratus Sa'adah, puasa 1 Muharram memiliki keutamaan berupa penghapusan dosa. Al‑Hafizh Ibnu Hajar RA mencatat bahwa Hafshah RA meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW, ia bersabda:

"Barang siapa berpuasa di hari terakhir dari bulan Dzulhijjah dan juga hari pertama dari bulan Muharram, maka Allah akan menjadikannya sebagai penghapus atas dosa selama lima puluh tahun, dan puasa sehari di bulan Muharam sebagai penghapus atas dosa selama tiga puluh hari."

Hadits ini menunjukkan bahwa puasa pada 1 Muharram tidak hanya menjadi ibadah biasa, tetapi juga dianggap sebagai amalan yang dapat membersihkan hati dan memohon ampunan Allah. Siti Zumratus Sa'adah menekankan bahwa keutamaan ini tidak boleh dilewatkan oleh siapa pun yang mampu melaksanakannya.

Berikut langkah-langkah yang biasanya diikuti ketika ingin puasa 1 Muharram:

  1. Membaca Niat – Sebelum memulai puasa, umat Islam dianjurkan membaca niat. Niat ini dapat dibaca sejak malam hari hingga sebelum terbit fajar. Jika lupa berniat pada malam hari, masih diperbolehkan berniat di siang hari. Menurut Majelis Ulama Indonesia (MUI), niat harus dilakukan sebelum waktu zawal (matahari tergelincir) dan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.
  2. Makan Sahur – Sahur dianjurkan bagi semua yang akan puasa. Hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyatakan:

"Sahurlah kalian, maka sesungguhnya dalam sahur itu ada berkahnya." (HR Bukhari, Muslim)

  1. Menjaga dan Menahan Diri – Selama puasa, selain menahan lapar dan dahaga, penting juga menjaga perilaku dan ucapan. Hindari berkata kasar, menggunjing, atau melakukan dosa lainnya, karena hal tersebut dapat mengurangi pahala puasa.
  2. Menyegerakan Berbuka – Umat Islam dianjurkan segera membatalkan puasanya ketika waktu Maghrib tiba. Rasulullah SAW bersabda:

"Allah SWT telah berfirman, 'Hamba‑hamba‑Ku yang lebih aku cintai ialah mereka yang paling segera berbukanya.'" (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)

Hadits ini menegaskan pentingnya segera berbuka setelah matahari terbenam, sebagai bentuk ketaatan dan penghormatan terhadap perintah Allah.

Berikut tambahan hadits yang sering dikutip ketika membahas niat puasa, khususnya yang berkaitan dengan Aisyah:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ ﵂ قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ: يَا عَائِشَةُ، هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟ قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ، قَالَ: فَإِنِّي صَائِمٌArtinya: "Dari Aisyah Ummul Mukminin RA., ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda kepadaku: Wahai Aisyah, apakah kalian memiliki sesuatu (untuk dimakan)? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki apa pun. Maka beliau bersabda: Kalau begitu, aku berpuasa."

Hadits ini menegaskan bahwa niat puasa dapat dibuat kapan saja selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa, dan bahwa niat dapat dibuat di siang hari jika lupa di malam hari.

Menurut MUI, niat harus dilakukan sebelum waktu zawal dan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Hal ini didasarkan pada praktik Rasulullah SAW sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ ﵂ قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ: يَا عَائِشَةُ، هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟ قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ، قَالَ: فَإِنِّي صَائِمٌArtinya: "Dari Aisyah Ummul Mukminin RA., ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda kepadaku: Wahai Aisyah, apakah kalian memiliki sesuatu (untuk dimakan)? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki apa pun. Maka beliau bersabda: Kalau begitu, aku berpuasa."

Selanjutnya, Buya Yahya menjelaskan bahwa tidak ada dalil khusus yang menganjurkan puasa pada awal tahun Hijriah. Ia menekankan bahwa puasa pada 1 Muharram tetap diperbolehkan dan tidak termasuk amalan yang dilarang. Dalam video berjudul “Adakah Puasa Sunnah Awal Tahun, 1 Muharram & Akhir Tahun ?Temukan Jawabannya di Sini!” yang diunggah melalui kanal YouTube pribadinya, Buya Yahya menegaskan bahwa anjuran yang terdapat dalam syariat adalah berpuasa pada bulan Muharram secara umum, karena bulan tersebut dimuliakan dalam Islam.

Dengan demikian, puasa 1 Muharram dapat dilaksanakan sebagai puasa sunnah mutlak atau puasa sunnah lainnya yang bertepatan dengan tanggal tersebut. Namun, tidak ada ketentuan khusus yang menetapkan puasa awal tahun Hijriah sebagai sunnah yang berdiri sendiri.

Secara hukum, puasa 1 Muharram tidak termasuk dalam kategori puasa yang dilarang, seperti puasa pada Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, dan tiga hari Tasyrik. Umat Islam pada dasarnya diperbolehkan menjalankan puasa sunnah pada hari-hari yang dilarang untuk berpuasa, sehingga puasa 1 Muharram tetap sah dan dapat dinikmati manfaatnya.

Puasa 1 Muharram menjadi salah satu cara mengawali tahun baru Hijriah dengan kebaikan. Keutamaan penghapusan dosa selama lima puluh tahun atau tiga puluh hari menambah motivasi bagi banyak orang untuk melaksanakan ibadah ini. Meskipun tidak ada dalil khusus yang menegaskan keharusan, puasa ini tetap dianjurkan dan dianggap sebagai amalan yang membawa keberkahan.

Dengan memahami langkah-langkah, hadits, dan pandangan ulama, umat dapat melaksanakan puasa 1 Muharram dengan penuh kesadaran dan ketulusan. Praktik ini tidak hanya meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga mempererat hubungan spiritual dengan Allah SWT.

1 Muharrampuasa sunnahpenghapusan dosahaditsniatsahurMUIAl‑Hafizh Ibnu Hajar

Komentar

Memuat komentar...