Puspa dan Muli Sikop: Anak Sumatera Lahir di Lembah Hijau

Rudi H. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 77 dibaca
Bisik.id
Puspa dan Muli Sikop: Anak Sumatera Lahir di Lembah Hijau

Gambar atau konten salah?

Puspa dan Muli Sikop adalah dua anak harimau Sumatera yang lahir di Lembah Hijau Lampung. Kedua harimau ini merupakan hasil pembiakan pasangan indukan Kiyai Batua dan Sinta.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal memberi nama Puspa kepada anak betina, sementara Dirjen KSDAE Kementerian Kehutanan Satyawan Pudyatmoko menamai anak jantan Muli Sikop. Mirza menjelaskan bahwa nama Puspa dipilih setelah diminta langsung oleh pihak Lembah Hijau.

“Alhamdulillah saya diberi kehormatan memberi nama seekor harimau yang lahir di Lembah Hijau. Kebetulan betina, diberi nama Puspa,” ujar Mirza, Jumat (22 Mei 2026).

Menurut Mirza, nama Muli Sikop berasal dari bahasa Lampung yang berarti “perempuan cantik.” “Artinya perempuan cantik dari Lampung,” katanya.

Keberadaan kedua anak harimau ini menjadi sorotan karena induknya pernah terjebak di jerat di alam liar. Kiyai Batua ditemukan di kawasan Suoh, Lampung Barat, dengan cacat akibat jerat. Sedangkan Sinta ditemukan di Bengkulu, di mana kaki depannya kanan harus dipotong demi menyelamatkan nyawanya.

“Ini menjadi tamparan bagi kita semua bahwa jerat liar di hutan nyata dan sangat menyiksa satwa kita,” ucap Mirza.

Dirjen KSDAE Kementerian Kehutanan, Satyawan Pudyatmoko, menegaskan bahwa populasi harimau Sumatera di alam liar diperkirakan sekitar 600 ekor dan berada pada status kritis. Ia menambahkan bahwa keberadaan harimau di lembaga konservasi penting sebagai cadangan populasi bila jumlah di habitat alami terus menurun.

“Kalau kita tidak hati-hati, selangkah lagi bisa punah,” katanya.

Komisaris Lembah Hijau Lampung, M Irwan Nasution, memastikan kedua anak harimau tersebut sehat dan masih dalam pengasuhan induknya. “Ya, kondisi kesehatan si bayi sehat-sehat dan terus dalam pantauan tim dari Lembah Hijau,” ujarnya.

Irwan juga menjelaskan rencana pengenalan bertahap kepada pengunjung agar tidak menimbulkan stres. “Pengunjung nanti bisa melihat, tapi bertahap. Awalnya mungkin dari jam 08.00 sampai jam 10.00,” ujarnya.

Area perawatan anak harimau dibatasi hanya untuk keeper, tenaga medis, dan tim ahli guna menjaga higienitas. Kedua anak harimau sudah dipasangi mikrocip dan dilaporkan ke BKSDA Bengkulu-Lampung sebagai bagian pendataan konservasi. “Kami juga sudah menjadwalkan vaksinasi serta pemeriksaan kesehatan berkala,” jelasnya.

Keberadaan Puspa dan Muli Sikop di Lembah Hijau menegaskan pentingnya upaya konservasi harimau Sumatera, sekaligus mengingatkan tentang dampak negatif jerat liar terhadap satwa. Melalui perawatan yang cermat dan pengawasan ketat, harimau ini menjadi simbol harapan bagi kelangsungan spesies yang terancam punah.

harimau SumateraLembah Hijau Lampungjerat liarkonservasipopulasi kritisKiyai BatuaSinta

Komentar

Memuat komentar...