Reaktivasi Banjar‑Pangandaran: Tiga Terowongan Kolonial

Sigit W. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 74 dibaca
Bisik.id
Reaktivasi Banjar‑Pangandaran: Tiga Terowongan Kolonial

Gambar atau konten salah?

Rencana reaktivasi jalur kereta api Banjar‑Pangandaran sepanjang 82 kilometer kini menjadi salah satu proyek konektivitas jalur kereta paling dinanti. Jalur yang telah lama tertidur ini menyimpan harta karun berupa tiga terowongan legendaris peninggalan era kolonial yang memiliki nilai sejarah tinggi.

2024 lalu, ketiga terowongan legendaris ini diberi nama Hendrik, Wilhelmina, dan Juliana. Terowongan‑terowongan ini telah berusia lebih dari satu abad dan sedang dalam tahap pengkajian teknis untuk memastikan kekokohan strukturnya sebelum kembali dilintasi si Ular Besi.

Terowongan Hendrik terletak di Desa Kalipucang dan menjadi pintu pembuka eksotisme jalur ini. Panjang lintasan mencapai 106 meter. Bangunan yang membelah perbukitan batu breksi ini memiliki langit‑langit beton cor yang masih sangat kokoh dengan tinggi 5 meter dan lebar 4 meter. Uniknya, konstruksi mulut terowongan di sisi selatan menggunakan batu kali setinggi 2,5 meter yang tertata rapi, lengkap dengan sistem drainase sedalam 20 cm di kedua sisinya yang masih berfungsi dengan baik sebagai bukti kecanggihan arsitektur masa lalu.

Terowongan Wilhelmina berdiri megah di Desa Bagolo. Ia merupakan terowongan kereta api terpanjang di Indonesia dengan jarak tempuh mencapai 1 116 meter. Dinamai sesuai dengan nama Ratu Belanda, terowongan ini memiliki lintasan yang lurus sempurna sehingga cahaya dari ujung seberang tetap terlihat meski jaraknya mencapai lebih dari satu kilometer. Interior terowongan dengan lebar 4 meter dan tinggi 4,5 meter ini masih dipenuhi sisa‑sisa batu koral dari bantalan rel lama, menciptakan atmosfer sejarah yang sangat kuat bagi siapa pun yang memasukinya.

Terowongan Juliana berada di Desa Pamotan dan memiliki panjang 147 meter. Terowongan ini dikenal karena keunikan desain interiornya yang tidak biasa. Berbeda dengan Wilhelmina, bagian tengah terowongan ini dirancang berkelok sehingga ujung keluar tidak dapat terlihat langsung dari pintu masuk, memberikan sensasi petualangan tersendiri bagi para penumpang nantinya. Struktur mulut terowongannya tampil artistik dengan perpaduan bentuk setengah lingkaran di atas dan persegi di bawah, dibalut plesteran batu halus yang menandakan estetika tinggi pada masa pembangunannya.

Reaktivasi jalur ini tidak hanya akan menghubungkan dua kota, tetapi juga membuka kembali pintu sejarah yang telah lama tertutup. Tiga terowongan tersebut, dengan panjang dan detail arsitektur yang menakjubkan, menjadi saksi bisu perjalanan Indonesia menuju masa depan sambil menghormati warisan kolonial yang masih berdiri kokoh.

Reaktivasi Jalur KeretaTerowongan LegendarisBanjar-PangandaranEra KolonialKonstruksi BetonKonektivitas KotaSejarah Kereta Api

Komentar

Memuat komentar...