Rebalancing MSCI 2026: Dampak Singkat, OJK Transparansi

Ayu W. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 117 dibaca
Bisik.id
Rebalancing MSCI 2026: Dampak Singkat, OJK Transparansi

Gambar atau konten salah?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa pengumuman rebalancing saham Indonesia dalam indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Mei 2026 akan menimbulkan dampak jangka pendek bagi pasar modal. Menurut pejabat OJK, perubahan ini tidak akan mengubah arah reformasi transparansi yang sedang berlangsung.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan harapannya bahwa dampak singkat ini dapat diantisipasi dengan baik. Ia menekankan bahwa reformasi integritas yang telah dilakukan akan membawa efek positif, meski ada penyesuaian jangka pendek. “Semoga (dampak pengumuman) ini bisa kita antisipasi dengan baik lah, karena kan saya udah beberapa kali bilang, bahwa dengan perbaikan reformasi integritas yang kita lakukan, pasti ada dampaknya, dan kalaupun ada penyesuaian jangka pendek, kita melihat ini sebagai shorten pain lah, tapi insyaallah long term gain,” ungkapnya di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, pada 11 Mei 2026.

Friderica menambahkan bahwa tidak ada penambahan saham baru asal Indonesia dalam peninjauan indeks MSCI kali ini. Namun, ia menyebut kemungkinan beberapa saham Indonesia justru dikeluarkan dari indeks tersebut. “Besok pengumumannya kita tunggu, kan mereka sudah bilang meng-freeze kan. Jadi, nggak ada yang baru yang masuk, tapi yang lama mungkin akan keluar,” jelasnya.

Di sisi lain, BEI mengakui bahwa bobot saham Indonesia dalam indeks MSCI dapat menurun jika ada emiten yang dikeluarkan. Penurunan bobot ini berarti turunnya porsi investasi asing di saham RI dalam indeks MSCI. Jeffrey Hendrik, Direktur Utama BEI, menjelaskan bahwa pengeluaran saham Indonesia dari indeks MSCI berlaku pada saham-saham yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau kepemilikan terkonsentrasi tinggi.

Ia menegaskan bahwa jika MSCI mengeluarkan saham HSC tanpa menambah saham baru, maka dalam jangka pendek kita mungkin akan melihat penurunan weighting Indonesia. “Jadi, kalau itu dilakukan oleh MSCI dan tidak ada saham baru yang masuk dalam MSCI, kita dalam jangka pendek akan melihat mungkin saja weighting Indonesia turun,” ungkapnya dalam acara Investor Relations Forum di Main Hall BEI, Jakarta Selatan, pada 11 Mei 2026.

BEI telah mengeluarkan saham-saham HSC dari papan perdagangan utama di LQ45, IDX80, dan IDX30 sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas dan transparansi pasar modal Indonesia. Saat ini, terdapat 10 saham dalam kategori HSC. Kategori saham tersebut awalnya diumumkan BEI pada awal April kemarin.

Jeffrey menambahkan bahwa penyesuaian bobot akibat kebijakan HSC adalah pil pahit yang harus ditelan pasar modal Indonesia. Namun ia meyakini bahwa pertumbuhan pasar modal Indonesia akan lebih sehat dengan penambahan bobot saham dalam indeks MSCI. “Kami mengibaratkan apa yang kita lakukan saat ini adalah pil pahit jangka pendek yang kita telan untuk kesehatan jangka panjang kita. Untuk long term kami optimis weighting Indonesia akan naik di MSCI,” pungkasnya.

Dengan demikian, meski pengumuman rebalancing MSCI dapat menimbulkan penurunan bobot jangka pendek, langkah-langkah reformasi dan pengelolaan HSC diharapkan akan memperkuat posisi pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.

OJKMSCIBEIHSCrebalancingtransparansiintegritas

Komentar

Memuat komentar...