Singkong Raksasa Edi Junaedi Curi Perhatian di Pameran Pertanian Ciamis

Dani L. · 3 min baca · 1 menit lalu · 1 dibaca
Bisik.id
Singkong Raksasa Edi Junaedi Curi Perhatian di Pameran Pertanian Ciamis

Gambar atau konten salah?

Di tengah puluhan stan pameran hasil pertanian dari berbagai kecamatan di Kabupaten Ciamis, satu stan justru menjadi pusat perhatian. Kerumunan pengunjung memadati stan milik Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Panumbangan. Acara itu adalah Hari Krida Pertanian (HKP) tingkat kabupaten yang digelar di Lapang Sepak Bola Desa Sumberjaya, Kecamatan Cihaurbeuti pada Senin, 13 Juli 2026.

Penyebabnya sederhana. Di stan tersebut terpajang umbi singkong berukuran tidak biasa. Panjangnya mencapai sekitar satu meter dengan diameter antara 20 hingga 30 sentimeter. Ukuran yang tidak lazim itu membuat banyak orang berhenti, mengamati, lalu mengabadikannya lewat kamera ponsel.

Pengunjung bergantian berfoto sambil memegang singkong jumbo tersebut. Ada pula yang bertanya soal cara menanamnya hingga memastikan apakah singkong sebesar itu masih layak dikonsumsi. "Saya baru pertama kali lihat singkong sebesar ini. Awalnya saya kira sudah keras dan tidak bisa dimakan. Ternyata masih bisa diolah jadi makanan. Makanya penasaran sekali," ujar Candra, salah seorang pengunjung.

Di balik singkong raksasa itu ada sosok Edi Junaedi (60), petani asal Desa Payungagung, Kecamatan Panumbangan. Mantan perangkat desa itu mengaku telah menanam varietas Singkong Atum selama bertahun-tahun dengan teknik budidaya yang ia kembangkan sendiri.

Edi bercerita, bibit singkong tersebut diperolehnya dari seorang teman di Kabupaten Kuningan. Saat itu ia hanya diminta mencoba menanamnya di Panumbangan. "Dulu teman saya dari Kuningan menawarkan bibit ini. Saya coba tanam dengan cara yang biasa saya lakukan, ternyata hasilnya sangat bagus. Ukurannya bisa jauh lebih besar dibanding singkong pada umumnya," kata Edi.

Sepengetahuan Edi, Singkong Atum merupakan varietas yang mulai dikembangkan dari benih bantuan Pemerintah Kabupaten Kuningan sekitar tahun 1993. Nama "Atum" sendiri bukan berarti berkaitan dengan bom atom, melainkan diambil dari nama orang yang pertama kali memperkenalkan varietas tersebut.

Meski ukurannya sangat besar, Edi menjelaskan singkong itu tidak cocok dikonsumsi dengan cara direbus. Alasannya, singkong dipanen pada usia sekitar dua tahun sehingga teksturnya sudah berserat. Namun, singkong tersebut masih sangat baik dijadikan bahan baku berbagai makanan olahan tradisional, seperti deblo, comet, dan aneka camilan lainnya. "Kalau direbus memang sudah berserat karena usianya dua tahun. Tapi untuk bahan olahan justru bagus. Makanya banyak yang mencari untuk diolah," jelasnya.

Produktivitas Singkong Atum pun terbilang tinggi. Dari sekitar 30 pohon yang ditanam di lahan seluas kurang lebih dua petak sawah, hasil panennya bisa mencapai lebih dari dua ton. Bahkan, satu pohon pernah menghasilkan umbi seberat sekitar 120 kilogram dengan jumlah bonggol hingga 14 buah. Saat panen, perlu enam orang dewasa untuk menariknya. Singkong di kebun Edi juga kerap dipinjam untuk dipamerkan dalam berbagai acara pertanian.

Menurut Edi, ukuran singkong yang besar bukan semata-mata karena varietasnya, tetapi dipengaruhi teknik budidaya sejak awal penanaman. Ia membuat lubang tanam sedalam sekitar 75 sentimeter dengan lebar satu meter. Lubang tersebut kemudian diisi pupuk secara berlapis, mulai dari kompos, tanah, urea, kompos kembali, pupuk kandang, hingga NPK. Setelah didiamkan selama sekitar sepekan, bibit baru ditanam.

"Batangnya juga tidak ditancapkan tegak, tetapi direbahkan. Nantinya hanya satu tunas yang dipelihara, sedangkan tunas lainnya dibuang supaya pertumbuhan umbinya maksimal," ungkapnya.

Edi menegaskan, tidak semua petani yang menanam Singkong Atum akan memperoleh hasil sebesar miliknya. "Varietasnya sama, tetapi kalau teknik menanamnya berbeda, hasilnya juga berbeda. Kuncinya ada di pengolahan lahan dan perawatan sejak awal," tuturnya.

Selain menanam singkong, Edi juga membudidayakan jagung dan berbagai tanaman pangan lainnya. Untuk harga jual, ia mengaku mengikuti harga pasar yang berubah-ubah. Saat ini harga singkong berada di kisaran Rp700 per kilogram, jauh lebih rendah dibanding beberapa waktu lalu yang sempat menembus Rp2.000 per kilogram.

Singkong raksasa milik Edi tetap menjadi magnet tersendiri di Hari Krida Pertanian Ciamis. Bukan hanya menjadi kebanggaan petani Panumbangan, tetapi juga membuktikan inovasi dalam budidaya mampu menghasilkan produk pertanian yang unik dan bernilai ekonomi. Keberhasilan Edi menunjukkan bahwa teknik budidaya yang tepat, bukan sekadar varietas unggul, menjadi faktor penentu utama dalam menghasilkan singkong berukuran luar biasa. Perbedaan harga jual yang cukup signifikan juga menjadi catatan tersendiri bagi para petani dalam menentukan waktu panen yang paling menguntungkan.

singkong raksasaPanumbanganHari Krida Pertanianvarietas Atumteknik budidayaCiamisinovasi pertanian

Komentar

Memuat komentar...