Sumatera Selatan Catat Rekor 708 Hotspot pada 01 Mei 2026

Hendra M. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
Sumatera Selatan Catat Rekor 708 Hotspot pada 01 Mei 2026

Gambar atau konten salah?

708 hotspot terdeteksi di Sumatera Selatan pada 01 Mei 2026, mencatat rekor tertinggi bulan Mei dalam 11 tahun terakhir sejak 2015. Angka ini melampaui catatan tahun lalu yang mencapai 523 titik pada 01 Mei 2025 dan 291 titik pada 01 Mei 2020. Lonjakan ini terlihat jelas pada 31 Mei 2026, ketika 166 hotspot terdeteksi sekaligus.

Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, menegaskan bahwa peningkatan jumlah hotspot menjadi perhatian serius. Ia mengatakan bahwa kenaikan ini terjadi ketika sebagian besar wilayah Sumsel mulai memasuki musim kemarau.

"Sepanjang 01 Mei 2026 terpantau sebanyak 708 hotspot. Jumlah ini menjadi yang tertinggi untuk bulan Mei sejak 2015 dan melampaui catatan tahun lalu yang mencapai 523 titik," ujar Sudirman kepada detikSumbagsel, Selasa (02 Juni 2026).

Menurut Sudirman, lonjakan hotspot dipengaruhi oleh berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu udara di sejumlah daerah. Hal ini sesuai prediksi BMKG yang menyebut curah hujan di Sumsel pada kategori rendah. Kondisi tersebut membuat vegetasi dan lapisan permukaan tanah menjadi lebih kering, sehingga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Memasuki musim kemarau, potensi munculnya hotspot memang meningkat. Karena itu seluruh daerah, terutama yang selama ini rawan karhutla, harus meningkatkan kewaspadaan," katanya.

Data pemantauan BPBD Sumsel menunjukkan hotspot paling banyak ditemukan di wilayah rawan karhutla. Deteksi tertinggi berada di Lahat dengan 164 titik dan Muara Enim dengan 145 titik. Sudirman menjelaskan bahwa hotspot yang terdeteksi satelit tidak selalu menunjukkan adanya kebakaran. Namun, keberadaan titik panas menjadi indikator awal yang perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan aktivitas pembakaran maupun karhutla.

"Hotspot ini merupakan indikator awal. Karena itu setiap titik yang terpantau harus segera dilakukan pengecekan agar bisa diketahui apakah benar terjadi kebakaran atau tidak. Saat ini kita memiliki 2 patroli udara yang rutin memantau wilayah Sumsel," ungkapnya.

Pengawasan intensif ini penting mengingat Sumatera Selatan berada di zona rawan karhutla. Peningkatan hotspot menandakan bahwa kondisi kering semakin memperbesar risiko kebakaran. Oleh karena itu, koordinasi antara pemantauan satelit, patroli udara, dan verifikasi lapangan menjadi kunci untuk menanggulangi potensi kebakaran di wilayah ini.

hotspotSumatera Selatankebakaran hutankarhutlamusim kemarauBPBD Sumselcurah hujan rendahpatroli udara

Komentar

Memuat komentar...