Temuan Arca dan Logam Kuning di Candi Losari, Magelang

Ika P. · 4 min baca · 1 jam lalu · 24 dibaca
Bisik.id
Temuan Arca dan Logam Kuning di Candi Losari, Magelang

Gambar atau konten salah?

Di Dusun Losari, Desa Salam, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, para juru pugar dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X sedang memerbaikan Candi Losari. Pada 21 April 2026, mereka menemukan dua arca, sebuah peripih, dan selembar logam yang diduga emas di bawah lantai candi.

Temuan ini kini disimpan di Kantor BPK Wilayah X di Bugisan, Prambanan, Klaten. Juru pugar, Restu Hidayat, menjelaskan proses penemuan tersebut saat ditemui di lokasi pada 4 Juni 2026.

"Kita waktu pembongkaran di lapis 9 atau berapa itu ditemukan dua blok arca (arca Dewa Surya). Itu di bawah lantai, itu 3 lapis dari lantai ditemukan arca. Kemudian kita gali lagi sampai ke tanah aslinya, kita temukan peripih atau kotak peripih, bersamaan ada selembar (diduga) emas (bentuk persegi)," kata Restu.

Menurutnya, arca-arca tersebut berada di lapisan bawah lantai. Saat menggali lebih dalam, mereka menemukan peripih dan selembar logam. Peripihnya terpisah, dan Restu menilai bahwa artefak tersebut mungkin sudah dicuri sejak zaman dulu.

"Kotak peripihnya itu berpisah. Dugaan kita itu sudah dicuri dari zaman dulu. Yang jelas arcanya itu sama semua kelimanya (saat ekskavasi ditemukan 3 arca dan saat pemugaran ditemukan 2 arca)," sambung Restu.

Proses pemugaran masih berlangsung. Saat ini, fokus utama adalah pembuatan fondasi atau kaki candi. Bagian bawah candi menggunakan beton cor karena debit air di bawah sangat tinggi. Restu menambahkan bahwa mereka menambahkan lantai kerja di area tersebut untuk mengatasi masalah air.

"Jadi kita perbuat pakai semen untuk isiannya. Iya (antisipasi biar tidak ambles). Kurang lebih sampai bulan Oktober. Sampai target 14 lapis. Kemungkinan nanti ada di tahap kedua lagi (sampai berwujud candinya)," kata Restu.

Setelah fondasi selesai, rencana selanjutnya adalah melakukan ekskavasi tebing barat dan selatan. Restu menjelaskan bahwa pemugaran ini ditujukan untuk candi induk, sementara perwara akan diperlakukan secara bertahap.

"Mungkin tahap yang berikutnya nanti kan bertahap ya (candi perwara). Nanti ada tahap dua, terus nanti ada ekskavasi yang di tebing barat dan sisi selatan itu rencananya (ekskavasi) setelah pemugaran ini," tambahnya.

Restu juga membandingkan kondisi di Prambanan dengan daerah lain. Di Prambanan, debit air tidak terlalu tinggi, sehingga tidak perlu lantai kerja. Namun, di Dieng, lantai kerja diperlukan karena air keluar. Ia pernah melakukan ekskavasi di sana dan sekarang juga memerbaiki Candi Semar dengan lantai kerja.

"Tapi, kalau di daerah Prambanan kan tidak ada debit air, jadi aman tidak pakai lantai kerja. Ada, di Dieng (lantai kerja). Saya juga pernah ekskavasi di sana. Sekarang pun di sana juga ada pemugaran di Candi Semar, itu juga dibikin lantai kerja karena di sana juga keluar air," ujar Restu.

Temuan logam kuning, yang belum dianalisis di laboratorium, juga diserahkan ke BPK Bugisan. Penanggung Jawab Kegiatan Rekonstruksi, Junawan, menegaskan bahwa logam tersebut belum teruji secara laboratorium, namun warnanya kekuningan.

"Kalau emasnya belum, ini baru kita daftarkan ke konservasi dulu memang warnanya kekuningan. Tapi, secara pasti kan belum dianalisis di laboratorium," kata Junawan.

Junawan menjelaskan lebih detail tentang logam tersebut. Ia menyebutkan bahwa logam itu berbentuk kotak kecil, dengan ukuran sekitar 1,5 × 1,5 cm, hampir persegi. Ketebalannya diperkirakan setengah milimeter, mirip lempeng seng tipis. Meskipun belum diuji laboratorium, ia mengira logam tersebut mungkin emas.

"Cuman satu keping, lembaran bentuk kotak kecil (peripih). Ya batu putih seperti kalau lihat kotak peripih. Masih di dalam (peripih logam kuningnya), tapi tutupnya (peripih) terpisah, tidak dalam kondisi tertutup. Itu wadahnya, sama tutup batunya, posisi tutupnya sudah tidak menyatu dengan wadahnya," imbuh Junawan.

Junawan juga menambahkan bahwa peristiwa pencurian peripih kemungkinan terjadi sebelum candi tertutup oleh lahar Gunung Merapi. Ia bersikeras tidak ingin menyebut pencurian secara langsung, namun menegaskan bahwa ada intervensi manusia pada artefak tersebut.

"Yang jelas, bisa kita sampaikan itu sudah ada intervensi manusia. Intervensi dalam hal seperti itu, kita belum berani menyebut (pencurian). Tapi, itu kan sangat penasaran, prosesnya jauh banget sebelum terjadi penutupan lahar (menutupi Candi Losari)," ujar Junawan.

Logam kuning tersebut, menurut Junawan, memiliki ukuran sekitar 1,5 × 1,5 cm dan ketebalan setengah milimeter. Ia menekankan bahwa analisis laboratorium masih belum dilakukan.

"(Ukuran logam kuning itu) Kalau tepatnya mungkin sekitar 1,5x1,5 (sentimeter), hampir persegi. Ketebalan mungkin sekitar setengah milimeter, seperti lempeng seng kecil tipis. Ya (diduga emas). Karena kita pastikan melalui alat (uji lab), belum diuji laboratorium," ujarnya.

Junawan menutup pernyataannya dengan menyebut logam tersebut sebagai logam berwarna kekuningan.

"Ya, logam berwarna kekuningan," pungkasnya.

Dengan langkah-langkah pemugaran yang terencana, para juru pugar berharap Candi Losari dapat kembali menunjukkan keindahan arsitektur kuno. Temuan arca, peripih, dan logam emas menambah nilai sejarah candi ini, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang sejarah pencurian dan intervensi manusia di masa lalu. Proses konservasi dan analisis lebih lanjut masih akan berlangsung, menunggu hasil laboratorium untuk memastikan sifat logam tersebut.

Candi LosariBalai Pelestarian KebudayaanArca Dewa SuryaPeripihLogam EmasPrambananEkskavasiLaboratorium

Komentar

Memuat komentar...