Trump-Xi Sepakati Gencatan Dagang Dua Bulan
Gambar atau konten salah?
Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, menerima kunjungan kenegaraan Presiden China Xi Jinping di Washington pada 23 hingga 25 September 2026. Pertemuan tatap muka ini menghasilkan beberapa poin penting, terutama perpanjangan gencatan perang dagang antara dua negara adidaya tersebut.
Trump menyambut langsung Xi di bandara. Rangkaian acara meliputi jamuan makan malam kenegaraan dan kunjungan ke National Archives. Penyambutan besar-besaran dengan atraksi militer juga digelar. Di sela-sela seremoni, kedua pemimpin menyepakati perpanjangan kesepakatan perdagangan yang sudah berjalan. Xi juga menjanjikan pengiriman sepasang panda ke Atlanta.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perpanjangan gencatan perang dagang selama dua bulan, hingga 10 Januari 2027. Ini lebih pendek dari perkiraan awal yang mencapai enam bulan. Kesepakatan sebelumnya tercapai saat Trump dan Xi bertemu di Busan, Korea Selatan. Isinya antara lain penurunan tarif AS dan penangguhan pembatasan ekspor mineral tanah jarang serta mineral kritis oleh China.
Jangka waktu yang lebih pendek ini berarti persoalan perdagangan masih akan menjadi bahan negosiasi pada pertemuan berikutnya. Keduanya diperkirakan bertemu lagi di KTT APEC di Shenzhen, China, pada November mendatang, dan KTT G20 di Miami pada Desember.
Dalam pertemuan tersebut, Xi menyinggung hubungan bilateral dengan istilah Thucydides Trap. Istilah ini merujuk pada risiko konflik ketika kekuatan baru yang sedang berkembang menantang kekuatan dominan. Xi menegaskan bahwa AS dan China bisa menjalankan persaingan secara sehat tanpa harus berujung pada konfrontasi. Menurutnya, persaingan seharusnya menjadi perlombaan untuk saling mengejar, bukan pertarungan yang mengharuskan satu pihak menang dan pihak lain kalah.
Pembicaraan juga menyentuh isu Taiwan. Pemerintah China menyatakan Xi meminta AS menentang kemerdekaan Taiwan. Trump sendiri belum memberikan komentar publik mengenai Taiwan dalam rangkaian pertemuan tersebut. Situasi Timur Tengah juga dibahas, meskipun keterangan resmi China tidak secara spesifik menyebut perang Iran.
Perpanjangan dua bulan ini memberi ruang negosiasi yang lebih sempit dibandingkan ekspektasi sebelumnya. Pertemuan-pertemuan multilateral mendatang akan menjadi panggung bagi kelanjutan dinamika ini. Kedua negara masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk mencapai kesepakatan yang lebih permanen.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
DPR Setujui Subsidi Energi Rp261,5 Triliun
Iran Minta PNS WFH, Hemat Energi di Tengah Krisis BBM
Iran Pangkas Jam PNS, Terapkan WFH Hemat Energi
PLN EPI Garap Bisnis Bioenergi dari 60 Juta Ton Biomassa Terabaikan
ESDM Bantah Pembahasan Ekspor Listrik dengan BPI Danantara
Pemerintah Potong 945 Ribu Ton Jatah LPG 3 Kg Tahun Depan
Berita Terbaru
DPR Setujui Subsidi Energi Rp261,5 Triliun
Iran Minta PNS WFH, Hemat Energi di Tengah Krisis BBM
Iran Pangkas Jam PNS, Terapkan WFH Hemat Energi
PLN EPI Garap Bisnis Bioenergi dari 60 Juta Ton Biomassa Terabaikan
ESDM Bantah Pembahasan Ekspor Listrik dengan BPI Danantara
Pemerintah Potong 945 Ribu Ton Jatah LPG 3 Kg Tahun Depan
SAKA Energi Mulai Pengeboran Sumur Eksplorasi SM-1 di Kaltim
Kapal Minyak Pertamina Ditahan di Malaysia Sudah 5 Bulan
ESDM Siapkan CNG 3 Kg untuk Gantikan LPG Bersubsidi
Indonesia Targetkan 100 GWp Surya, Butuh Regulasi Jelas
