Waisak 2026: Hari Libur Nasional 31 Mei, Peringatan Tri Suci
Gambar atau konten salah?
Hari Raya Waisak merupakan perayaan penting bagi umat Buddha di seluruh dunia, sekaligus menjadi hari libur nasional di Indonesia. Pada hari ini, umat Buddha mengenang tiga peristiwa utama dalam kehidupan Buddha Gautama, yang sekaligus menandai pencapaian spiritual tertinggi beliau.
Waisak tahun 2026 diperingati pada 31 Mei 2026, hari Minggu. Menurut Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri, perayaan ini resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional. Puncak perayaan biasanya berlangsung di Candi Borobudur, tempat yang menjadi titik pusat berkumpulnya umat Buddha baik domestik maupun mancanegara. Di sana, berbagai rangkaian ibadah dan ritual keagamaan dilaksanakan secara megah.
Hari Raya Waisak, atau yang sering disebut Tri Suci Waisak, merayakan tiga peristiwa penting yang terjadi pada hari yang sama, yaitu saat bulan purnama sidhi di bulan Waisakha. Ketiga peristiwa suci tersebut adalah:
- Kelahiran Pangeran Siddharta: Gautama lahir di Taman Lumbini pada tahun 623 sebelum masehi, yang juga dikenal sebagai sosok Buddha.
- Penerangan Sempurna: Siddharta Gautama mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi pada tahun 588 sebelum masehi, menandai lahirnya Buddha Gautama.
- Maha Parinibbana: Wafatnya Buddha Gautama di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 sebelum masehi, menandai akhir kehidupan beliau di dunia.
Menjelang detik-detik Waisak, umat Buddha biasanya melakukan persiapan seperti membersihkan vihara, berziarah ke makam leluhur, dan melakukan aksi sosial. Saat puncak perayaan tiba, umat melaksanakan puja bakti dan doa bersama pada momen bulan purnama penuh. Aktivitas ini mencakup meditasi, doa, dan refleksi atas ajaran Buddha.
Berikut beberapa tradisi yang biasa dilakukan umat Buddha saat perayaan Hari Raya Waisak:
- Berdoa dan Melakukan Perenungan: Umat Buddha datang ke vihara atau kuil untuk beribadah, memanjatkan doa, dan meluangkan waktu untuk meditasi atau merenungkan kehidupan dengan suasana tenang dan damai.
- Menggunakan Pakaian Berwarna Putih: Pakaian putih dipakai karena dipercaya melambangkan kesucian dan kebersihan hati, cocok untuk ibadah di vihara.
- Menjalankan Ajaran Lima Sila: Lima sila—tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melakukan perbuatan asusila, tidak berbohong, dan tidak mengonsumsi minuman keras—dijadikan pedoman hidup. Pada Waisak, umat berusaha lebih disiplin menjalankan ajaran tersebut.
- Menyalakan Lampu Minyak atau Lilin: Tradisi menyalakan lampu minyak atau lilin dianggap simbol penerangan, mengusir kegelapan dalam kehidupan. Lilin biasanya berbentuk bunga lotus, melambangkan kesucian.
- Menjunjung Pohon Bodhi: Pohon Bodhi dianggap penting karena tempat pencerahan Siddharta di Bodh Gaya, India. Umat Buddha berdoa dan memberikan penghormatan sebagai simbol kebijaksanaan.
- Menikmati Makanan Vegetarian: Pada perayaan, banyak umat Buddha memilih makanan vegetarian sebagai penghormatan kepada makhluk hidup, sekaligus melatih pengendalian diri.
- Memberikan Sedekah: Umat Buddha bersedekah kepada para biksu, berupa makanan, perlengkapan sehari-hari, atau kebutuhan kesehatan, sebagai simbol kepedulian dan berbagi.
- Ritual Memandikan Patung Buddha: Ritual memandikan patung Buddha populer pada Waisak, dipercaya melambangkan pembersihan diri dari sifat buruk seperti keserakahan dan kebencian.
- Mengibarkan Bendera Buddha: Bendera Buddha dengan warna biru, kuning, merah, putih, dan oranye dipasang di rumah maupun vihara selama perayaan, menjadi simbol persatuan dan semangat ajaran Buddha di berbagai negara.
Setiap tradisi ini memiliki makna mendalam bagi umat Buddha, menegaskan nilai spiritual dan sosial yang menjadi inti perayaan Waisak. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, umat menegaskan kembali komitmen mereka terhadap ajaran Buddha, sekaligus mempererat hubungan sosial di komunitas.
Waisak tidak hanya sekadar peringatan sejarah, melainkan juga momentum refleksi diri dan kebersamaan. Di Indonesia, perayaan ini menjadi ajang bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk mengenal dan menghormati nilai-nilai spiritual yang bersifat universal. Dengan demikian, Hari Raya Waisak tetap relevan sebagai simbol kesatuan dan kedamaian bagi umat Buddha dan masyarakat umum.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Cek Bansos PKH Tahap 3 Mulai 20 Juli, Siapkan NIK
Wapres Cek PSEL Palembang, Sorot Dampak Lalu Lintas Sampah
GoldenEye Kembali Malam Ini, Film Bond Perdana Brosnan
Kapolres Muba Tinjau Titik Longsor, Minta Warga Alih Jalur
Harga Emas Antam Turun Rp2.000 per Gram
Gibran Tinjau Jembatan Musi V, Progres Capai 91,21 Persen