Sigit W. · 3 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id

Gambar atau konten salah?

Dody Hanggodo, Menteri Pekerjaan Umum, melakukan inspeksi mendadak di lokasi pembangunan Sekolah Rakyat 2 (SR 2) di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 14 Juni 2026. Kunjungan ini bertujuan memastikan infrastruktur pendidikan siap pakai saat dimulainya Tahun Ajaran Baru 2026-2027.

Di tengah kunjungannya, pekerja bangunan SR berjanji untuk mati-matian menyelesaikan pembangunan sesuai target. Dody menyoroti keberhasilan proyek Sukoharjo yang kini telah masuk ke dalam zona hijau, artinya sudah memenuhi semua kriteria perencanaan. Namun, proyek sempat terhambat karena kerusakan jalan desa yang dilalui kendaraan berat proyek.

“Hampir di semua tempat yang menggunakan akses publik selalu menemui kendala serupa. Jalan desa atau kabupaten biasanya bukan jalan yang layak dilewati alat berat. Oleh karena itu, para penyedia jasa (kontraktor) memang harus mengeluarkan upaya ekstra, semacam CSR, untuk menyiapkan atau memperbaiki jalan kerjanya terlebih dahulu,” ujar Dody dalam keterangannya pada 15 Juni 2026.

Dody mencontohkan kendala serupa di Brebes, di mana pihak pelaksana sampai harus membangun jembatan bailey sementara. “Hal itu agar distribusi logistik tidak mengganggu aktivitas warga setempat,” terangnya. Kendala ini menunjukkan betapa pentingnya infrastruktur jalan desa bagi kelancaran proyek.

Secara nasional, progres pembangunan Sekolah Rakyat di berbagai wilayah Indonesia telah mencapai 78 persen. Fokus utama Kementerian Pekerjaan Umum adalah memastikan gedung-gedung utama—SD, SMP, dan SMA—bisa fungsional pada pertengahan Juli. Khusus di Sukoharjo, Dody menargetkan kesiapan fisik lebih dari 90 persen pada waktu target tersebut.

“Kita tetap optimistis. Minimum gedung SD, SMP, dan SMA bisa kita selesaikan dulu agar adik‑adik bisa masuk ke sekolah yang baru di tahun ajaran baru pada Juli nanti. Kalaupun ada beberapa tempat yang belum 100 persen tuntas, minimal harus sudah fungsional,” tegasnya.

Dalam inspeksi, Dody memiliki cara tersendiri untuk mengecek kualitas dan progres proyek. Alih‑alih hanya melihat fasad bangunan dari depan, ia memilih langsung mengecek area belakang proyek. “Makanya saya tadi langsung ke belakang. Saya biasanya melihat bagian paling akhir untuk mengecek di mana letak masalahnya. Kalau di depan kan tidak kelihatan, di belakang baru ketahuan kondisinya seperti apa,” jelas Dody.

Selama pemeriksaan, banyak pekerja bangunan meminta berfoto bersama Dody. Para pekerja langsung berceletuk. “Kami selesaikan pekerjaan sesuai target,” ujar mereka hampir bersamaan. Dody langsung merespon dengan mengucapkan terima kasih, sekaligus mengacungkan jempolnya ke pekerja yang tengah menyelesaikan atap gedung SR di malam hari.

Dody juga memetakan perbedaan tantangan pembangunan SR di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa. Di Sukoharjo dan wilayah Jawa lainnya, tantangan terbesar berada pada fase arsitektural dan finishing. “Fase ini membutuhkan waktu paling lama karena sangat bergantung pada detail dan ketersediaan tenaga kerja terampil,” paparnya.

Sementara itu, untuk proyek SR di luar Jawa seperti Sumatera, Maluku, dan Sulawesi, kendala utamanya adalah infrastruktur logistik. “Masalahnya ada pada akses jalan logistik dari pelabuhan atau bandara terdekat sampai ke titik lokasi Sekolah Rakyat. Setiap tempat punya masalah sendiri, dan satu per satu kita cari solusinya agar akhir Juni ini benar-benar bisa selesai,” tambahnya.

Pembangunan masif Sekolah Rakyat ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Dody menekankan bahwa ini adalah amanat langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem di Indonesia melalui jalur pendidikan. Sekolah Rakyat dirancang dengan sistem boarding school (sekolah berasrama) yang diperuntukkan bagi keluarga prasejahtera.

Sesuai arahan Pak Presiden, “cara paling gampang memutus kemiskinan ekstrem adalah dengan menyekolahkan putra‑putri mereka. Bapak ibunya mungkin petani atau buruh, tapi anak‑anaknya bisa jadi sarjana dan sukses. Semuanya gratis; asrama, baju, alat tulis, hingga laptop diberikan,” papar Dody.

Project Manager Sekolah Rakyat 2 Kabupaten Sukoharjo, Mochammad Safirul Kamil, mengungkapkan bahwa per tanggal 14 Juni, progres fisik pembangunan telah menyentuh angka 82,46 persen. Pihaknya optimistis sisa pengerjaan akan tuntas dalam kurun waktu kurang dari sepekan ke depan. “Kami masih optimistis sampai dengan tanggal 20 Juni bisa selesai, dan fungsional pada tanggal 1 Juli agar adik‑adik kita bisa segera melakukan kegiatan belajar mengajar di sini,” ujar Safirul.

Untuk mengejar sisa target penyelesaian, manajemen proyek menerapkan langkah taktis yang masif. Saat ini, sebanyak 800 pekerja yang terdiri dari 300 tenaga kerja lokal dan 500 pekerja non‑lokal dikerahkan. Mereka bekerja dalam tiga shift setiap harinya, mulai dari pagi hingga pergantian hari di pukul 12 malam,” paparnya.

Proyek Sekolah Rakyat 2 Sukoharjo menandai upaya pemerintah untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang layak bagi anak-anak di daerah terpencil. Dengan progres yang sudah mencapai lebih dari delapan puluh persen dan target fungsional pada awal Juli, proyek ini menunjukkan bahwa koordinasi antara kementerian, kontraktor, dan tenaga kerja dapat menghasilkan kemajuan signifikan. Keberhasilan ini diharapkan menjadi contoh bagi pembangunan pendidikan di wilayah lain di Indonesia.

Dody HanggodoSekolah Rakyat 2Sukoharjoinfrastruktur pendidikanzona hijaujembatan baileyboarding school

Komentar

Memuat komentar...