17 Tahun Badar Diterima 3 Program di Wageningen, Kebumen

Ani R. · 3 min baca · 2 bulan lalu · 73 dibaca
Bisik.id
17 Tahun Badar Diterima 3 Program di Wageningen, Kebumen

Gambar atau konten salah?

Muad Muhammad Badar Agung, 17 tahun, berasal dari Kebumen. Ia lulus dari SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo dan baru saja diumumkan diterima di Wageningen University di Belanda.

Badar tidak hanya masuk satu jurusan. Ia diterima sekaligus di tiga program: Food Technology, Teknik Lingkungan dan Data Science. Meskipun begitu, ia masih menunggu keputusan dari beberapa kampus lain, termasuk Monash University dan UNSW di Australia, dua universitas di Brunei Darussalam melalui beasiswa pemerintah, serta ITS dan Universitas Brawijaya.

“Untuk universitas saya baru keterima di Wageningen University di tiga jurusan. Yang pertama di Food Technology (teknologi pangan), terus ada Teknik Lingkungan, sama satunya tuh Data Science. Tapi ini juga lagi nunggu dari universitas lain,” kata dia kepada detikJateng, Kamis, 21 Mei 2026.

Di balik prestasi ini, kisah keluarga Badar penuh perjuangan. Keluarganya mengalami penurunan ekonomi drastis ketika ayahnya, yang dulu menjual tasbih di Pasar Jatinegara, terserang stroke akibat pandemi COVID‑19. Sejak itu, ayah tidak lagi bisa bekerja.

Ibunya, yang bernama Ibu, mengambil alih tanggung jawab keluarga. Ia mulai menjual berbagai jajanan pasar, terutama lemper dan risol. Ia bekerja tanpa henti, sering tidak tidur cukup.

“Agak sedih sih karena saya tahu sendiri Ibu saya tuh hampir nggak pernah tidur yang cukup. Biasanya tuh dari jam 12 malam udah siap-siap bikin lemper (makanan dari ketan),” ujar Badar.

Berkat ketekunan Ibu, usaha kecil itu mulai berkembang. Awalnya, ia hanya bisa menitipkan 10 hingga 20 kue di toko-toko. Kini, ia menerima pesanan hingga 100 sampai 200 buah lemper dan risol setiap harinya.

“Kebetulan rumah di belakang ada tanah kosong dan suka nanam juga, jadi kadang nggak usah beli cabai gitu tinggal ngambil dari belakang,” terangnya.

Pengalaman belajar di SMA Unggulan CT Arsa Sukoharjo membuat Badar terkejut dengan disiplin yang tinggi. Lingkungan sekolah ini membantu membentuk karakter prestasinya.

“Dulu saya di SMP pernah asrama juga, tapi culture-nya kan pasti beda kan sama yang di sini. Nah, itu agak kaget di sini ternyata emang sedisiplin itu. Nah, tapi awal-awal emang capek, tapi saya bersyukur bisa masuk sini karena ya banyak perubahan positif di sini, seperti itu,” bebernya.

Ketika ditanya tentang masa depan, Badar memiliki impian spesifik. Ia ingin menempuh jurusan Data Science di Monash University di Australia, menggabungkan dua hobi: komputer dan bertani.

“Kenapa nggak kita gabungin aja sektor agrikultur sama teknologi biar bisa nyiptain ketahanan pangan. Saya melihat di kampus Monash itu banyak praktiknya, jadi saya bisa menerapkan pembelajaran saya di kondisi riil untuk jadi pembisnis tanaman atau agribisnis,” ucap remaja berusia 17 tahun ini.

Dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, ia sudah merancang konsep modern farming. Ia berencana membangun perkebunan sendiri di belakang rumah dan mendistribusikan hasilnya ke ritel modern hingga UMKM.

“Saya melihat tuh untuk di masa depan kan teknologi berkembang nih. Nah, kenapa nggak kita gabung aja sektor agrikultur sama teknologi biar bisa nyiptain ketahanan pangan, seperti itu,” pungkasnya.

Kepala SMA Unggulan CT ARSA Foundation Sukoharjo, Usdiyanto, menegaskan bahwa tiga lulusan tahun ini berhasil menembus perguruan tinggi luar negeri.

“Mereka masih menunggu LOA dari berbagai perguruan tinggi dan akan menyusul 7 kakak kelasnya yang sudah lebih dulu sukses kuliah di luar negeri,” terangnya.

Kesuksesan Badar menunjukkan bahwa tekad dan dukungan keluarga dapat mengatasi keterbatasan ekonomi. Ia menjadi contoh bagi rekan-rekannya bahwa peluang belajar di luar negeri tidak terbatas pada orang kaya, melainkan juga bagi yang berjuang keras.

Muad BadarWageningen UniversityFood TechnologyTeknik LingkunganData ScienceMonash UniversityAgribisnisModern Farming

Komentar

Memuat komentar...