23 Kasus Seoul Virus di Indonesia, 20 Sembuh, 3 Meninggal

Fajar H. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 83 dibaca
Bisik.id
23 Kasus Seoul Virus di Indonesia, 20 Sembuh, 3 Meninggal

Gambar atau konten salah?

Pemerintah Indonesia mencatat 23 kasus Hantavirus jenis Seoul Virus dalam tiga tahun terakhir. Semua pasien mengalami Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS), salah satu sindrom yang dipicu infeksi hantavirus.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, gejala biasanya muncul satu hingga dua minggu setelah terpapar virus. “Mereka gejalanya demam, sakit kepala, nyeri badan, malaise atau lemas, dan jaundice yakni tubuh menguning,” ujarnya.

Aji menjelaskan bahwa Seoul Virus cenderung menimbulkan gejala yang lebih ringan dibanding jenis hantavirus lain, seperti Andes Virus yang sempat mewabah di kapal pesiar MV Hondius. Sebagai perbandingan, Andes Virus dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat dengan masa inkubasi hingga 17 hari dan tingkat kematian yang lebih tinggi.

Meski demikian, Aji memastikan sebagian besar pasien di Indonesia telah pulih. Dari total 23 kasus, 20 pasien dinyatakan sembuh dan kembali beraktivitas normal. Sementara tiga pasien lainnya meninggal dunia dengan riwayat penyakit penyerta, termasuk kanker hati dan kegagalan multiorgan.

Penularan hantavirus biasanya melalui tikus dan debu terkontaminasi. Aji mengingatkan masyarakat untuk waspada di area berisiko tinggi, seperti gedung lama, area terbengkalai, ruang bawah tanah, dan wilayah dengan populasi tikus yang tinggi. Virus dapat menyebar saat seseorang menghirup debu yang telah terkontaminasi urine, air liur, atau kotoran hewan tersebut. Penularan juga bisa terjadi melalui gigitan.

Menurut Aji, penularan antarmanusia relatif jarang terjadi dan hanya ditemukan pada jenis hantavirus tertentu yang menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Jenis tersebut umumnya memicu gejala sesak napas berat dengan angka kematian yang dapat mencapai 60 %. Kasus HPS sendiri lebih banyak ditemukan di wilayah tertentu, seperti Amerika Selatan.

Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa meskipun HFRS dapat menimbulkan gejala serius, tingkat kematian di Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan HPS. Pengawasan terhadap populasi tikus dan kebersihan lingkungan tetap menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran virus ini.

HantavirusSeoul VirusHFRStikusdebu terkontaminasipenularan antarmanusiaHPS

Komentar

Memuat komentar...