408 Warga Luwu Utara Masih Tunggu Bantuan Banjir Sementara
Gambar atau konten salah?
Di Luwu Utara, 408 warga masih bertahan di posko pengungsian setelah banjir melanda. Mereka mengaku membutuhkan kebutuhan pokok, mulai dari beras hingga tempat tidur dan selimut. "Rata-rata warga yang terendam butuh kebutuhan pokok seperti beras, dan makanan lainnya. Selain itu, warga butuh tempat tidur dan selimut," kata Kepala BPBD Lutra Agunawan.
Agunawan menegaskan bahwa pemerintah kabupaten terus menyalurkan bantuan, namun masih belum mencukupi. "Pemkab memang sudah menyalurkan, beberapa relawan juga, namun tidak bisa kita pungkiri belum semuanya dapat," ujarnya. Ia menambahkan bahwa warga yang mengungsi hanya dapat mengandalkan makanan di posko, karena rumah mereka sudah tenggelam dan aktivitas sehari‑hari terganggu.
Menurut data, 3.242 kepala keluarga di enam kecamatan terdampak banjir akibat curah hujan tinggi dan jebolnya tanggul sejak 11 Mei. Pemerintah kabupaten menetapkan status tanggap darurat mulai 18 Mei hingga 31 Mei. "Sejak tanggal 18 Mei kita telah tetapkan status tanggap darurat atau darurat bencana, ada 6 kecamatan yang berdampak, cuma yang terparah berada di 3 kecamatan," kata Bupati Lutra, Andi Abdullah Rahim.
Ketiga kecamatan yang paling parah adalah Malangke, Malangke Barat dan Baebunta Selatan. Di Malangke terdampak 1.999 KK, di Malangke Barat 805 KK, dan di Baebunta Selatan 438 KK. Agunawan menekankan bahwa 408 warga dari Desa Bangun Jaya, Kecamatan Baebunta Selatan, masih tinggal di posko pengungsian. "Untuk saat ini yang mengungsi total ada 408 jiwa dari Desa Bangun Jaya, Kecamatan Baebunta Selatan, ini yang benar kita beri makan setiap hari," katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa dua dusun di Desa Beringin Jaya sudah tenggelam sepenuhnya. "Yang total kami kosongkan itu 2 dusun, karena betul-betul sudah tenggelam. Di sana banjir datang bersama kayu dan pasir," ujarnya. Keterangan ini menegaskan betapa parahnya dampak banjir di wilayah tersebut.
Situasi ini menunjukkan bahwa bantuan masih belum memadai, meski pemerintah kabupaten dan relawan terus bekerja. Kebutuhan pokok, tempat tidur, dan selimut tetap menjadi prioritas bagi para korban. 408 warga di posko pengungsian menunggu tambahan bantuan, sementara 3.242 KK di enam kecamatan masih menunggu bantuan lebih lanjut. Keterangan ini menyoroti betapa pentingnya koordinasi lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan dasar korban banjir.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
