750 Kapal Nelayan Bersandar di Sungai Silugonggo Lebaran
Gambar atau konten salah?
Ratusan kapal nelayan bersandar di Sungai Silugonggo, Juwana, Pati, menandai persiapan mudik Lebaran dan tradisi sedekah laut.
Di lokasi, pukul 10.00 WIB, kepadatan kapal terlihat di sekitar tempat pelelangan ikan (TPI) unit 1 Juwana. Kapal bersandar setelah membongkar hasil tangkapan ikan.
Banyak kapal nelayan bertonase besar di atas 30 GT bersandar di sungai. Kapal-kapal ini biasanya berlayar selama berbulan-bulan sebelum kembali ke perairan.
Anak buah kapal (ABK) terlihat sibuk di atas kapal, memperbaiki peralatan dan menyiapkan perlengkapan untuk pelayaran berikutnya.
Hendrik Irawan berkata, “Untuk tahun ini, kedatangan ini mungkin sedikit berkurang 30 persen, karena mungkin cuaca maupun tangkapan ikan yang belum maksimal, sehingga masih banyak kapal di luar,”
Kasat Polairud Polresta Pati, Kompol Hendrik Irawan, mencatat sekitar 750 kapal nelayan bersandar di Sungai Silugonggo Juwana.
“Sampai sekarang jumlah kapal total di sini 750 unit kapal. Nelayan ini pulang kampung dan nanti merayakan tradisi sedekah laut,”
Petugas gabungan polisi dan TNI rutin melakukan patroli untuk mengamankan situasi padatnya kapal nelayan di Sungai Silugonggo.
“Kami membentuk 4 tim yang piket selama 24 jam. Tiga tim untuk sungai, dan satu tim dari melaksanakan kegiatan imbauan pekerjaan panas terhadap pekerja kapal yang melaksanakan pengelasan ataupun perbaikan. Itu antisipasi kebakaran kapal atau hal yang tidak kita inginkan,”
Kepadatan kapal menyebabkan arus sungai tersendat. Banyak kapal baru datang dan membongkar hasil tangkapan di TPI, sehingga aliran air menjadi terbatas.
“Kita tim sungai piket selama 24 jam untuk patroli di perairan. Meskipun tersendat adanya kedatangan pengaturan kapal masih bisa kita kendalikan,”
Setelah kapal selesai bongkar, terkadang ada sedikit kendala mundur. Kapal otomatis bergantian dengan kapal yang mau bongkar, agar tidak tersendat atau ada keluhan dari nelayan tradisional.
“Di saat kapal selesai bongkar kadang sedikit terkendala mundur. Kapal otomatis gantian dengan kapal yang mau bongkar, itu yang kita atur supaya tidak tersendat maupun keluhan dari nelayan tradisional,”
Setelah tradisi sedekah laut selesai, kapal-kapal biasanya perlahan berangkat kembali ke laut. Proses ini biasanya memakan waktu beberapa jam.
“Biasanya sedekah laut selesai baru perlahan akan berangkat lagi,”
Sekjen Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Pati, Suratman, menyatakan bahwa momen Lebaran dan sedekah laut menjadi alasan nelayan kembali ke kampung halaman.
“Kedatangan kapal tahun ini tidak seramai tahun lalu. Karena ada kapal nelayan di Papua yang belum pulang. Pertama cuaca kurang bagus untuk mencari ikan dan yang kedua hasil tangkap belum maksimal sehingga kontrak kepada nelayan menambah masa berlayar di laut agar sesuai target yang diharapkan,”
Rencana sedekah laut di Juwana akan digelar pada Minggu, 29 Maret 2026. Nelayan akan berkumpul di perairan untuk merayakan tradisi ini.
Kepadatan kapal di Sungai Silugonggo menandai persiapan Lebaran dan tradisi sedekah laut, meski jumlahnya turun 30 persen dibanding tahun lalu, namun masih menimbulkan tantangan arus sungai dan kebutuhan patroli.
Kapal-kapal tersebut menunggu kesempatan untuk kembali berlayar setelah perayaan, sementara petugas tetap menjaga keamanan dan kelancaran perairan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
