Adang Kupat: Tradisi Ketupat Bersama Warga Dusun Kebonsari
Gambar atau konten salah?
Adang Kupat adalah tradisi memasak ketupat massal yang digelar di Dusun Kebonsari, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten. Kegiatan ini diselenggarakan tujuh hari setelah Idul Fitri 1447 H/ 2026, sebagai bagian dari Bakda Kupat.
Acara dimulai dengan doa bersama, lalu dilanjutkan workshop pembuatan kelontongan ketupat. Peserta tidak hanya warga lokal, melainkan juga mahasiswa dan komunitas dari luar wilayah. Workshop dipandu oleh sesepuh dusun, termasuk Suparno, salah satu sesepuh Kebonsari.
Setelah workshop, kelontongan ketupat yang sudah jadi diisi beras dan dimasak bersama. Para peserta menggunakan 30 dandang dan kayu bakar untuk memasak nasi. Semua proses dilakukan secara kolaboratif, menegaskan semangat gotong‑royong.
Suparno menjelaskan bahwa Adang Kupat merupakan rangkaian tradisi Bakda Kupat yang digelar setiap tujuh hari pertama di bulan Syawal. Ia menekankan pentingnya tradisi ini untuk melestarikan nilai‑nilai luhur. “Menurut Kanjeng Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga, kupat ini memiliki nilai filosofis sangat tinggi, kupat artinya ngaku lepat atau mengakui kesalahan karena dalam Hablum Minallah dan Hablum Minannas, hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia tidak luput dari kesalahan‑kesalahan sehingga momen ini untuk saling memaafkan,” ungkap Suparno.
Ia juga menjelaskan makna simbolis ketupat. “Kupat terbuat dari janur (daun kelapa muda) juga memiliki arti laku papat, empat laku untuk mencapai janur, sejatinya nur (cahaya hati) yang meliputi syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.” Tradisi ini telah berlangsung sejak tahun 1950. Puncak acara biasanya diikuti kenduri ketupat dengan membaca doa Nabi Sulaiman, karena mayoritas warga di sini adalah petani dan peternak. Mereka memohon rejeki melimpah.
Menurut Suparno, sekitar 1.500 ketupat dimasak dalam kegiatan Adang Kupat ini. Tiga jenis ketupat dibuat: ketupat luar, sinto, dan tumpeng. Semua dibuat bersama, dimasak bersama, kemudian dikirab, didoakan, dan dimakan bersama.
Rafiki, seorang peserta berusia 15 tahun, mengungkapkan rasa senangnya mengikuti tradisi ini. “Ternyata susah (membuat kelontongan ketupat), saya buat satu saja tidak selesai. Senangnya ini untuk acara silaturahmi, memperkuat kerukunan masyarakat,” ujarnya.
Acara Adang Kupat di Dusun Kebonsari menunjukkan bagaimana tradisi lokal dapat memperkuat tali silaturahmi, mempromosikan nilai-nilai keagamaan, dan mengajak generasi muda berpartisipasi aktif dalam kegiatan budaya. Dengan melibatkan mahasiswa dan komunitas luar, tradisi ini tetap relevan dan dinamis, sekaligus menjaga warisan budaya yang telah ada sejak lama.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
